Khazraj adalah daerah asal alim besar yang bernama lengkap Syeikh Zakaria al-Anshari al-Khazraji. Sayang sekali tahun kelahiran sufi yang sangat harum namanya di dunia Islam ini tidak tercatat. Namun kiranya nama besarnya bisa menutup kealpaan sejarah. Atau kalau memang tanggal kelahiran bisa dijadikan event perayaan. Kiranya para pecinta ilmu keislaman bisa merayakannya tiap hari demi mengingat tokoh besar ini, meskipun dengan cara penambahan kelimuan.
Syeikh Zakaria datang ke Mesir
Syeikh agung yang sangat akrab di telinga para santri ini datang ke Mesir pada masa pemerintahan Qaitbay. Di Mesir ia memperdalam kelimuan di al-Azhar pada saat masih usia 18 tahun.
Tentang kisah kehidupan syekh Zakaria sejak mulai datang ke Mesir hingga akhir hidupnya, beliau ceritakan kepada muridnya, Syeikh Sya'rani : "Kamu mahu aku beri tentang perjalanan saya dari awal hingga akhir ? Maksudku supaya ilmu kamu menjadi dalam, dan seolah-olah kamu hidup dengan saya sejak dari awal". Dengan senang hati Syeikh Sya'rani menjawab tentu saja saya mahu Tuan. "Aku datang dari kampung, saat itu aku masih seorang pemuda yang lugu. Belum ada satupun tempat penampungan, juga belum ada seorangpun yang memperhatikan aku." Begitu Syeikh Zakaria mulai bercerita.
"Keadaan semacam itu tidak membuatku surut untuk memperdlam ilmu keislaman. Ibarat orang minum air lautan, semakin aku meminumnya aku semakin haus dan seperti mau meraih semuanya". Lanjut Syekh agung ini yang disimak khusyu' murid sejatinya.
"Suatu malam, aku lupa kapan itu terjadi, aku keluar mengambil kulit semangka yang tergeletak hina di samping tempat wudlu. Aku mencucinya dan makan rizki yang bagiku itu sangat berarti. Rupanya kebiasaan orang miskin yang aku jalani ini diketahui oleh seseorang yang kemudian aku ketahui bekerja di tempat penggilingan gandum. Mungkin karena iba dengan nasibku, tapi yang pasti beliau sangat baik dan berjasa dalam hidupku, orang itu membelikan aku semua kebutuhanku dari buku-buku dan pakaian. "Zakaria, jangan pernah meminta sesuatu kepada siapapun. Apapun yang kamu perlukan akan aku penuhi" demikian ucap orang mulia ini suatu ketika.
Hal ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga suatu ketika di malam yang sepi, ketika orang-orang sedang tidur, tiba-tiba sang dermawan itu mendatangiku "Bangunlah" begitu ucapnya tiba-tiba. Aku berjalan mengikuti langkah-langkahnya dan berhenti di suatu tangga tempat bahan bakar. Tangga itu lumayan tinggi. Di tengah pikiranku yang berkecamuk mengapa aku dibawa ke tempat ini tiba-tiba orang mulia itu berkata kepadaku: "Naiklah " "Naik tangga ini ?" aku bertanya dalam bimbang. "Ya, naikilah tangga itu.
Aku menaiki tangga itu dengan pelan dan terus berpikir apa makna semua ini. Orang tua asuhku it uterus bilang, "Ayo terus naik, terus ". setelah aku sampai di puncak beliau berkata : "Kamu akan tetap hidup sementara semua kawan sezamanmu telah mati. Kamu akan unggul melebihi semua ulama Mesir. Murid-muridmu akan menjadi syekh-syekh besar. Inilah yang terjadi dalam kehidupanmu hingga tertutup penglihatanmu". "Berarti aku akan menjadi buta?" ratapku seketika. Beliau berkata: "Sabarlah itu sudah menjadi suratan wajib bagimu". Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu beliau lagi.
Syeikh Zakaria, aktiviti keilmuan dan kesufian
Secara konsisten Syekh Zakaria belajar, mengaji di al-Azhar. Beliau mendengarkan pengajian para ulama, para ahli fikih serta para ahli tasawwuf secara khusus. Hingga akhirnya beliau menjadi seorang tokoh aliran fikih dan tasawwuf.
Bagi sufi agung ini waktu mempunyai arti yang sangat besar. Dalam hal ini, Syekh Sya'roni berkata: "Saya telah melayani beliau selama 20 tahun. Sungguh saya tidak pernah mendapatkan dirinya lupa sedikitpun. Beliau tidak pernahmelakukan suatu pekerjaan yang tidak ada artinya, baik siang maupun malam”.
Seiring dengan merangkaknya usia, beliau selalu melakukan shalat sunnah secara sempurna. Beliau berkata: "Saya tidak ingin diri ini kembali menjadi seorang yang malas". Apabila beliau didatangi oleh seseorang yang banyak omongnya, beliau akan langsung berkata: "Kamu telah menyia-nyiakan waktukita".
Dalam waktu yang cukup lama beliau selalu menyempatkan diri untuk berdiam diri dalam sebuah khanqah saidus suada' (tempat berkontemplasinya para sufi). "Sejak kecil saya telah menyukai Thariqah kaum sufi. Kesibukanku selalu aku isi dengan membaca buku-buku mereka dan mengambil pelajaran dari tingkah laku mereka, serta berkumpul dengan para ahli tasawwuf" demikian Syekh Zakaria berujar suatu ketika.
Dalam khanqah ini beliau selalu berkumpul dengan para ahli sufi untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka. Demikian juga mereka mengambil manfaat ilmu beliau dalam fikih dan syariat. Kehidupan beliau di dalam khonqohbanyak mempengaruhi beberapa karangan beliau, seperti syarah risalah al-qusyairi(ilmu tasawwuf), qowaid sufiah ( kaedah-kaedah sufi), serta catatan pinggir beliau dalam kitab Tafsir Baidlowi.
Kiranya sangat bermanfaat di sini untuk mengetahui sejarah khanqah saidus suada'. Tempat itu adalah pertama kali yang didirikan di Mesir. Sekaligus merupakan tempat untuk berkontemplasi Syekh Zakaria untuk waktu yang lama. Syekh Zakaria telah mempersiapkan dirinya di khanqah saidus suada' untuk menulis beberapa karangannya yang besar, sebut saja misalnya: Syarh Bukhari. Kadang-kadang beliau menyuruh muridnya Syekh Sya'roni untuk membantu menulis. Syekh Sya'roni berkata: "Tulisan saya bagus". Dia menambahkan, "Apabila saya duduk dengan beliau, seolah-olah saya duduk dengan para raja yang shalih yang arif. Mufti besar Mesir, para pangeran dan pembesar ketika duduk di hadapan beliau seperti anak-anak kecil".
Karamah Syeikh Zakaria al-Anshari
Raja al-Ghouri suatu ketika marah karena satu peristiwa. Ketika dia tahu akan kedatangan Syekh Zakariya untuk menyelesaikan masalah ini, dia memerintahkan supaya di depan rumahnya dipasang rantai. Ketika Syekh Zakariya meihat ada rantai, beliau memotong rantai tadi dengan kertas yang ada di tanganya. Selanjutnya beliau masuk bersama para penduduk.
Tertulis dalam biografi beliau, bahwa permulaan "Kasyf" (tersingkapnya rahasia ilahi) muncul setelah beliau mengarang syarah bahjah, di mana orang-orang tidak mengakui bahwa itu merupakan karangan beliau. Mereka menulis kitab al-A'ma wal Bashir sebagai komentar dan celaan terhadap beliau.
Dalam kitab ini Syekh Zakaria bercerita : "Aku adalah orang yang doanya selalu dikabulkan. Setiap aku mendoakan seseorang, maka doa permohonan itu pasti diterima". "Waktu itu aku sedang i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan di Masjid al-Azhar, demikian beliau melanjutkan kisah Kasyaf –nya, tiba-tiba aku didatangi seorang pedagang dari Negeri Syam. "Mata saya telah buta kata orang itu membuka kata, "orang-orang menunjukkan saya agar datang kepadamu wahai Syekh, doakan saya supaya penglihatan saya dikembalikan" Kemudian berdoa kepada Allah memohon supaya penglihatannya dikembalikan.
"Kalau kamu penglihatanmu dikembalikan, kamu harus meninggalkan negeri ini". Begitu aku katakan kepadanya, karena dalam kasyf-ku ia sembuh dalam sepuluh hari. Juga karena aku takut jika dia sembuh di Mesir, dia akan cerita pada orang banyak.
Maka pergilah pedagang tersebut dan dikembalikan penglihatannya di Gaza (Palestina). Setelah sembuh dia mengirim surat dan saya membalasnya, "Jika engkau kembali ke Mesir, maka kamu akan buta lagi", Dan demikianlah, dia terus menetap di al-Quds sampai akhirnya mati dalam keadaan tidak buta.
Syekh Sya'roni bercerita : "Suatu hari aku mengaji pada beliau Syarh Bukhori. Di tengah-tengah aku membaca, beliau berkata padaku. "Cukup, ceritakan padaku mimpimu malam ini". Memang aku telah bermimpi aku bersama Syekh Zakaria dalam suatu kapal yang layarnya dari sutra, tampar dan permadaninya dari sutra hijau tipis, ada banyak balai-balai dan bantal dari sutra. Di situ aku melihat Imam Syafi'i duduk dan Syekh Zakaria di sampingnya. Kapal ini terus berjalan dan berhenti di pulau bak hati ikan yang sangat bagus. Ada perkebunan, buah buahan dan wanita-wanita cantik.
Selesai aku bercerita Syekh Zakaria berkata: "Kalau mimpimu ini benar, maka aku akan dimakamkan di samping Imam Syafi'i radiallahu 'anhu. Ketika Syekh Zakaria meninggal, para muridnya telah menyiapkan makam untuk beliau di Bab Nasr, lalu kawan Sya'roni yang tahu tentang mimpinya barkata: "Wahai Sya'roni, mimpimu bohong". Pada saat itu datanglah utusan dari Pangeran Khair Bik (wakil raja) sambil berkata: "Raja sekarang ini sedang sakit dan tidak mampu datang ke sini. Raja memerintahkan kalian untuk membawa Syekh Zakaria ke medan Qal'ah untuk dishalati di sana". Setelah salat, Khair Bik berkata : ”Makamkan saja Syekh Zakaria di pekuburan Syekh Najmuddin al-Khayusyani di depan Imam Syafi'i". Ini terjadi pada Dzulhijjah tahun 926 H.
Rujukan :
Ihya’ Ulumuddin (Imam Ghazali).
Bihar al-Wilayah al-Muhammadiyyah fi Manaqib A’lam al-Sufiyyah (DR. Jaudah M Abu al-Yazid al-Mahdi).
Husnul Muhadlarah (Imam Suyuthi).
Syahsiyyat Istauqafatni (DR Said al-Bouti).
Al-Kaukab al-Dzurriyyah (al-Munawi).
Mursyid al-Zuwwar ila Qubur al-Abrar (Muhammad Fathi Abu Bakr).
Masajid Misr wa Auliya’uhu al-Shalihin (DR. Suad Mahir)
SUMBER
Thursday, 5 February 2015
Syeikh Bahauddin Abdullah bin Aqil
Ibn Aqil (769H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjawat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menghuraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Penulis berpendapat, bahawa kitab ini adalah Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren, dan banyak dibaca oleh para pelajar dan santri di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antaranya, Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah al-Khudhariy.
SUMBER
SUMBER
Wednesday, 4 February 2015
SYEIKH MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI
SYEIKH MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI
Ulama Sufi Dunia Melayu
Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah
ULAMA sufi berasal dari dunia Melayu yang diriwayatkan ini nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein al-Banjari. Seperti ulama-ulama sufi lain, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari juga mendapat tentangan daripada orang-orang yang tidak sependapat dengan ajaran tasawufnya. Namun tidak sehebat tentangan terhadap Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i. Dalam perkembangan mutakhir golongan sufi dunia Melayu cukup rancak dibicarakan.
Sebelum berkembangnya aliran tajdid di dunia Melayu, boleh dikatakan tidak ada ulama besar dunia Melayu menyalahkan kandungan yang termaktub dalam ad-Durr an-Nafis, iaitu sebuah kitab perbahasan yang tinggi jalan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dan permulaan jalan tasawuf ketuhanan dalam bahasa Melayu yang dihasilkan oleh ulama berasal dari Banjar yang dibicarakan ini.
Bagi ulama abad ke 18-19 dunia Melayu, ajaran semacam itu cukup mereka fahami kerana memang ada kitab-kitab tasawuf peringkat tinggi (muntahi) yang dirujuk dan mengimbangi kitab ad-Durr an-Nafis itu sebagai pegangan yang kukuh bagi kaum sufi. Yang termaktub dalam karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari itu adalah relevan dengan karya-karya Syeikh Abdul Karim al-Jili, Syeikh Muhyuddin Ibnu Arabi (17 Ramadan 560 H/29 Julai 1165 M-28 Rabiulakhir 638 H/21 November 1240 M) dan lain-lain. Lebih dua ratus tahun kitab ad-Durr an-Nafis itu diajarkan oleh para ulama di dunia Melayu, kemudian pada waktu akhir-akhir ini, sama ada di Indonesia mahu pun di Malaysia, ada pihak-pihak tertentu menyalahkan dan melarang mengajarkannya.
Di satu pihak kitab itu dilarang atau diharamkan menggunakannya, di pihak lain ternyata lebih banyak surau mahu pun masjid atau pun di rumah-rumah orang mengajarkannya. Bahkan K.H Haderanie H.N., seorang ulama di Surabaya berusaha melatin/merumikan kitab tersebut, yang diberi kata sambutan oleh seorang ulama dan tokoh atau ahli politik Islam Indonesia, K. H. Dr. Idham Chalid. Ad-Durr an-Nafis yang dilatin/dirumikan itu diberi judul Ilmu Ketuhanan Permata Yang lndah (Ad-Durrunnafis).
Saya, selaku penulis riwayat ini, tetap menilai bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari adalah seorang ulama besar sufi dunia Melayu. Memang tidak boleh terlalu mudah menilai beliau sebagai seorang yang tidak berilmu, zindiq, sesat dan sebagainya, seperti yang pernah dilemparkan oleh orang-orang tertentu kepada beliau. Bagi saya bertindak adil dan jujur terhadap ilmu pengetahuan itulah yang lebih baik dilakukan daripada menyalahkan orang, sedangkan kita sendiri tidak tahu dengan tepat dan pasti apa yang disalahkan itu. Apabila berbeza sistem dan penerapan sesuatu disiplin ilmu antara satu pihak dengan pihak lain, maka itu juga boleh mengakibatkan berbeza pandangan dan pendapat.
Ilmu
Oleh itu sistem dan penerapan ilmu sufi pada abad 18-19 jauh berbeza dengan pihak-pihak yang tidak pernah belajar sufi tradisional Islam pada penghujung abad 20 dan abad ini. Orang sufi memang berlapang dada, mereka berjiwa besar dan tidak suka bertengkar atau berdebat kerana agama Islam bukan bertujuan ke arah pertengkaran atau perdebatan tetapi untuk diamalkan oleh setiap insan Muslim yang berjiwa dan bercita-cita takwa. Pertengkaran atau perdebatan membawa kepada perpecahan umat. Ulama sufi dunia Melayu yang belajar di Mekah berpuluh-puluh tahun seperti Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari tidak dapat disamakan dengan peribadi-peribadi yang tiada mendalami Islam, tetapi mengaku dirinya dengan pelbagai pengakuan seperti yang terjadi pada akhir-akhir ini.
ASAL-USUL DAN PENDIDIKAN
Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Hidup sezaman dan seperguruan dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Sama-sama belajar di Mekah dan Madinah. Yang seperjuangan dengannya termasuk Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi (Jakarta), Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dan lain-lain. Tentang dirinya hanya beberapa hal beliau sebut, ``Di negeri Banjar tempatnya jadi. Mekah tempat diamnya. Syafie akan mazhabnya, iaitu pada fikah. Asy`ari iktikadnya, iaitu pada ushuluddin. Junaid ikutannya, iaitu pada ilmu tasawuf. Qadiriyah thariqatnya, Syathariyah pakaiannya, Naqsyabandiyah amalan-nya, Khalwatiyah makanannya, Sammaniyah minumannya''.
Para gurunya juga beliau sebut dalam karyanya ad-Durr an-Nafis yang tersebut, senarai lengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi. 2. Syeikh Shiddiq bin Umar Khan. Beliau adalah murid kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Samman, iaitu murid ulama sufi yang lebih dulu daripada Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan kawan-kawannya. 3. Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Madani. 4. Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi. 5. Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Juhuri. Dan ramai lagi yang belum disebutkan di sini.
Setelah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari diizinkan para gurunya, terutama sekali Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, bahawa beliau boleh mengajar ilmu-ilmu batin dengan beberapa aspek tarekat dan furu'-furu'nya, maka berusahalah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari mengajak manusia mentauhidkan Allah daripada satu peringkat ke satu peringkat yang lebih tinggi dan mendalam. Di manakah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari menjalankan aktiviti dakwah dan pendidikan, terjadi pertikaian pendapat daripada beberapa orang periwayat. Ada orang menceritakan bahawa beliau menyampaikan dakwah dan pendidikan Islam di Pulau Bali, Pulau Sumbawa dan pulau-pulau yang berdekatan dengannya. Riwayat yang lain pula mengatakan bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari menyebarkan ajarannya di Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Riwayat yang lain mengatakan di Kusan, Kota Baru, juga dalam Pulau Laut itu. Akhirnya dikatakan bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari meninggal dunia di Sigam, juga di Pulau Laut. Pendapat lain menyebut beliau wafat di Kalua, juga di Pulau Laut.
PENULISAN
Ketika artikel ini saya tulis, baru dua buah saja karangan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang ditemui, selain ad-Durr an-Nafis, yang sebuah lagi masih berupa manuskrip ialah Majmu' al-Asrar li Ahlillahil Athyar. Mengenai ad-Durr an-Nafis beberapa maklumat tentangnya, bahawa selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, di Mathba'ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani: ``Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi,
Nescaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan.
Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan,
Adalah kitab ini mengandung maksud keseluruhan,
Seperti lautan,
daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian''.
Sebagai keterangan lanjut Syeikh Ahmad al-Fathani mencatatkan, ``Ketahui olehmu hai yang waqif atas kitab ini. Bahawa segala naskhah kitab ini sangatlah bersalah-salahan setengah dengan setengahnya, dan tiada hamba ketahuikan mana-mana yang muafakat dengan asal naskhah Muallifnya. Maka hamba ikutkan pada naskhah yang hamba cap ini akan barang yang terlebih elok dan munasabah. Dan tiada hamba kurangkan daripada salah suatu daripada beberapa naskhah itu akan sesuatu kerana ihtiyat''.
Ad-Durr an-Nafis cetakan pertama Syeikh Ahmad al-Fathani telah memberi keterangan beberapa istilah seperti terdapat pada kalimat-kalimat: 1. ``... maka hendaklah lihat olehmu kepada Abi Bakar, iaitu ibarat daripada mati nafsu yang ammarah ...''. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan, bahawa nafsu ammarah, ialah ``nafsu yang cenderung kepada kejahatan''.
2. ``Bermula hasilnya segala wujud sesuatu itu dengan dinisbahkan kepada wujud Allah Taala yang haqiqi itu khayal, dan waham, dan majaz jua, kerana wujudnya antara dua `adam Bermula wujud yang antara dua `adam itu `adam jua adanya ...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Dua `adam, ertinya `adam lahiq dan `adam sabiq. Pengertian `adam lahiq, ialah tiada yang mengikut. Pengertian `adam sabiq, ialah tiada yang mendahului''.
3. ``Dan pada sekira-kira zahir mumkin itu lain daripada Allah Taala. Dan sekira-kira haqiqatnya wujud mumkin itu, iaitu `ain wujud Allah Taala. Dan misalnya seperti buih dan ombak...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Katanya, ``Dan pada sekira-kira zahir dan pada sekira-kira haqiqat ...'', maka kedua (-dua) itu `athaf. Katanya, ``Pada sekira-kira wujud, dan dhamir pada haqiqatnya dan dhamir pada nyatanya. Kedua (-dua) itu kembali kepada buih, dan dhamir daripadanya itu kembali kepada air''.
4. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan istilah ma'iyah, kata beliau, ``Yakni berserta: a. ittihad = bersuatu. b. hulul = bertempat. c. khayal, yakni apabila kita lihat jauh ada sesuatu, dan kita lihat dekat tiada ada, seperti alung-alung di tengah jalan Madinah''. Ad-Durr an- Nafis setelah cetakan pertama oleh Matba'ah al-Miriyah di Bulaq, Mesir tahun 1302 H/1884 M yang diusahakan dan ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani itu terdapat berbagai-bagai edisi.
Karya
Karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang kedua, yang masih belum diketahui umum, dalam bentuk manuskrip ialah Majmu' al-Asrar, salinan Muhammad Zain bin Hasan. Selesai menyalin pada waktu Zuhur, hari Sabtu 21 Syaaban 1355 H/1936 M. Kitab Majmu' al-Asrar ini juga membicarakan masalah tasawuf. Sampai riwayat ini ditulis kitab yang tersebut baru dijumpai dua versi, yang sebuah lagi dengan judul Majmu' as-Sarair, atau judul dalam bahasa Melayu yang diberi oleh beliau Perhimpunan Sekalian Rahasia.
Versi yang pertama, koleksi Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia, dan versi yang sebuah lagi adalah koleksi peribadi saya sendiri. Yang menjadi milik saya itu terdapat tiga buah risalah lain, yang dipercayai juga karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari. Risalah-risalah itu ialah Penjelasan Huruf-Huruf Abjad Dalam Al-Quran, llmu Haqiqat Yang Sebenar-Benar dan Masalah Orang Yang Dijadikan Imam.
Pada risalah yang terakhir tercatat tahun selesai menulisnya pada waktu Dhuha, 8 Ramadan 1245 H/1829 M. Dengan dijumpai manuskrip yang terdapat tahun itu maka dapatlah diagak-agak jarak waktu sementara penulisan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang telah diketahui, iaitu 1200 H/1785 M (Ad-Durr an-Nafis) hingga 1245 H/1829 M (manuskrip yang tersebut di atas). Jadi bererti sekitar 45 tahun. Dengan demikian pada jarak waktu yang demikian lama masih banyak karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang belum kita jumpai dan ketahui.
ULAMA sufi berasal dari dunia Melayu yang diriwayatkan ini nama lengkapnya ialah Syeikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein al-Banjari. Seperti ulama-ulama sufi lain, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari juga mendapat tentangan daripada orang-orang yang tidak sependapat dengan ajaran tasawufnya. Namun tidak sehebat tentangan terhadap Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i. Dalam perkembangan mutakhir golongan sufi dunia Melayu cukup rancak dibicarakan.
Sebelum berkembangnya aliran tajdid di dunia Melayu, boleh dikatakan tidak ada ulama besar dunia Melayu menyalahkan kandungan yang termaktub dalam ad-Durr an-Nafis, iaitu sebuah kitab perbahasan yang tinggi jalan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dan permulaan jalan tasawuf ketuhanan dalam bahasa Melayu yang dihasilkan oleh ulama berasal dari Banjar yang dibicarakan ini.
Bagi ulama abad ke 18-19 dunia Melayu, ajaran semacam itu cukup mereka fahami kerana memang ada kitab-kitab tasawuf peringkat tinggi (muntahi) yang dirujuk dan mengimbangi kitab ad-Durr an-Nafis itu sebagai pegangan yang kukuh bagi kaum sufi. Yang termaktub dalam karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari itu adalah relevan dengan karya-karya Syeikh Abdul Karim al-Jili, Syeikh Muhyuddin Ibnu Arabi (17 Ramadan 560 H/29 Julai 1165 M-28 Rabiulakhir 638 H/21 November 1240 M) dan lain-lain. Lebih dua ratus tahun kitab ad-Durr an-Nafis itu diajarkan oleh para ulama di dunia Melayu, kemudian pada waktu akhir-akhir ini, sama ada di Indonesia mahu pun di Malaysia, ada pihak-pihak tertentu menyalahkan dan melarang mengajarkannya.
Di satu pihak kitab itu dilarang atau diharamkan menggunakannya, di pihak lain ternyata lebih banyak surau mahu pun masjid atau pun di rumah-rumah orang mengajarkannya. Bahkan K.H Haderanie H.N., seorang ulama di Surabaya berusaha melatin/merumikan kitab tersebut, yang diberi kata sambutan oleh seorang ulama dan tokoh atau ahli politik Islam Indonesia, K. H. Dr. Idham Chalid. Ad-Durr an-Nafis yang dilatin/dirumikan itu diberi judul Ilmu Ketuhanan Permata Yang lndah (Ad-Durrunnafis).
Saya, selaku penulis riwayat ini, tetap menilai bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari adalah seorang ulama besar sufi dunia Melayu. Memang tidak boleh terlalu mudah menilai beliau sebagai seorang yang tidak berilmu, zindiq, sesat dan sebagainya, seperti yang pernah dilemparkan oleh orang-orang tertentu kepada beliau. Bagi saya bertindak adil dan jujur terhadap ilmu pengetahuan itulah yang lebih baik dilakukan daripada menyalahkan orang, sedangkan kita sendiri tidak tahu dengan tepat dan pasti apa yang disalahkan itu. Apabila berbeza sistem dan penerapan sesuatu disiplin ilmu antara satu pihak dengan pihak lain, maka itu juga boleh mengakibatkan berbeza pandangan dan pendapat.
Ilmu
Oleh itu sistem dan penerapan ilmu sufi pada abad 18-19 jauh berbeza dengan pihak-pihak yang tidak pernah belajar sufi tradisional Islam pada penghujung abad 20 dan abad ini. Orang sufi memang berlapang dada, mereka berjiwa besar dan tidak suka bertengkar atau berdebat kerana agama Islam bukan bertujuan ke arah pertengkaran atau perdebatan tetapi untuk diamalkan oleh setiap insan Muslim yang berjiwa dan bercita-cita takwa. Pertengkaran atau perdebatan membawa kepada perpecahan umat. Ulama sufi dunia Melayu yang belajar di Mekah berpuluh-puluh tahun seperti Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari tidak dapat disamakan dengan peribadi-peribadi yang tiada mendalami Islam, tetapi mengaku dirinya dengan pelbagai pengakuan seperti yang terjadi pada akhir-akhir ini.
ASAL-USUL DAN PENDIDIKAN
Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Hidup sezaman dan seperguruan dengan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Sama-sama belajar di Mekah dan Madinah. Yang seperjuangan dengannya termasuk Syeikh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi (Jakarta), Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dan lain-lain. Tentang dirinya hanya beberapa hal beliau sebut, ``Di negeri Banjar tempatnya jadi. Mekah tempat diamnya. Syafie akan mazhabnya, iaitu pada fikah. Asy`ari iktikadnya, iaitu pada ushuluddin. Junaid ikutannya, iaitu pada ilmu tasawuf. Qadiriyah thariqatnya, Syathariyah pakaiannya, Naqsyabandiyah amalan-nya, Khalwatiyah makanannya, Sammaniyah minumannya''.
Para gurunya juga beliau sebut dalam karyanya ad-Durr an-Nafis yang tersebut, senarai lengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi. 2. Syeikh Shiddiq bin Umar Khan. Beliau adalah murid kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Karim Samman, iaitu murid ulama sufi yang lebih dulu daripada Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dan kawan-kawannya. 3. Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Madani. 4. Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi. 5. Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Juhuri. Dan ramai lagi yang belum disebutkan di sini.
Setelah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari diizinkan para gurunya, terutama sekali Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, bahawa beliau boleh mengajar ilmu-ilmu batin dengan beberapa aspek tarekat dan furu'-furu'nya, maka berusahalah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari mengajak manusia mentauhidkan Allah daripada satu peringkat ke satu peringkat yang lebih tinggi dan mendalam. Di manakah Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari menjalankan aktiviti dakwah dan pendidikan, terjadi pertikaian pendapat daripada beberapa orang periwayat. Ada orang menceritakan bahawa beliau menyampaikan dakwah dan pendidikan Islam di Pulau Bali, Pulau Sumbawa dan pulau-pulau yang berdekatan dengannya. Riwayat yang lain pula mengatakan bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari menyebarkan ajarannya di Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Riwayat yang lain mengatakan di Kusan, Kota Baru, juga dalam Pulau Laut itu. Akhirnya dikatakan bahawa Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari meninggal dunia di Sigam, juga di Pulau Laut. Pendapat lain menyebut beliau wafat di Kalua, juga di Pulau Laut.
PENULISAN
Ketika artikel ini saya tulis, baru dua buah saja karangan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang ditemui, selain ad-Durr an-Nafis, yang sebuah lagi masih berupa manuskrip ialah Majmu' al-Asrar li Ahlillahil Athyar. Mengenai ad-Durr an-Nafis beberapa maklumat tentangnya, bahawa selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, di Mathba'ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani: ``Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi,
Nescaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan.
Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan,
Adalah kitab ini mengandung maksud keseluruhan,
Seperti lautan,
daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian''.
Sebagai keterangan lanjut Syeikh Ahmad al-Fathani mencatatkan, ``Ketahui olehmu hai yang waqif atas kitab ini. Bahawa segala naskhah kitab ini sangatlah bersalah-salahan setengah dengan setengahnya, dan tiada hamba ketahuikan mana-mana yang muafakat dengan asal naskhah Muallifnya. Maka hamba ikutkan pada naskhah yang hamba cap ini akan barang yang terlebih elok dan munasabah. Dan tiada hamba kurangkan daripada salah suatu daripada beberapa naskhah itu akan sesuatu kerana ihtiyat''.
Ad-Durr an-Nafis cetakan pertama Syeikh Ahmad al-Fathani telah memberi keterangan beberapa istilah seperti terdapat pada kalimat-kalimat: 1. ``... maka hendaklah lihat olehmu kepada Abi Bakar, iaitu ibarat daripada mati nafsu yang ammarah ...''. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan, bahawa nafsu ammarah, ialah ``nafsu yang cenderung kepada kejahatan''.
2. ``Bermula hasilnya segala wujud sesuatu itu dengan dinisbahkan kepada wujud Allah Taala yang haqiqi itu khayal, dan waham, dan majaz jua, kerana wujudnya antara dua `adam Bermula wujud yang antara dua `adam itu `adam jua adanya ...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Dua `adam, ertinya `adam lahiq dan `adam sabiq. Pengertian `adam lahiq, ialah tiada yang mengikut. Pengertian `adam sabiq, ialah tiada yang mendahului''.
3. ``Dan pada sekira-kira zahir mumkin itu lain daripada Allah Taala. Dan sekira-kira haqiqatnya wujud mumkin itu, iaitu `ain wujud Allah Taala. Dan misalnya seperti buih dan ombak...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Katanya, ``Dan pada sekira-kira zahir dan pada sekira-kira haqiqat ...'', maka kedua (-dua) itu `athaf. Katanya, ``Pada sekira-kira wujud, dan dhamir pada haqiqatnya dan dhamir pada nyatanya. Kedua (-dua) itu kembali kepada buih, dan dhamir daripadanya itu kembali kepada air''.
4. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan istilah ma'iyah, kata beliau, ``Yakni berserta: a. ittihad = bersuatu. b. hulul = bertempat. c. khayal, yakni apabila kita lihat jauh ada sesuatu, dan kita lihat dekat tiada ada, seperti alung-alung di tengah jalan Madinah''. Ad-Durr an- Nafis setelah cetakan pertama oleh Matba'ah al-Miriyah di Bulaq, Mesir tahun 1302 H/1884 M yang diusahakan dan ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani itu terdapat berbagai-bagai edisi.
Karya
Karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang kedua, yang masih belum diketahui umum, dalam bentuk manuskrip ialah Majmu' al-Asrar, salinan Muhammad Zain bin Hasan. Selesai menyalin pada waktu Zuhur, hari Sabtu 21 Syaaban 1355 H/1936 M. Kitab Majmu' al-Asrar ini juga membicarakan masalah tasawuf. Sampai riwayat ini ditulis kitab yang tersebut baru dijumpai dua versi, yang sebuah lagi dengan judul Majmu' as-Sarair, atau judul dalam bahasa Melayu yang diberi oleh beliau Perhimpunan Sekalian Rahasia.
Versi yang pertama, koleksi Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia, dan versi yang sebuah lagi adalah koleksi peribadi saya sendiri. Yang menjadi milik saya itu terdapat tiga buah risalah lain, yang dipercayai juga karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari. Risalah-risalah itu ialah Penjelasan Huruf-Huruf Abjad Dalam Al-Quran, llmu Haqiqat Yang Sebenar-Benar dan Masalah Orang Yang Dijadikan Imam.
Pada risalah yang terakhir tercatat tahun selesai menulisnya pada waktu Dhuha, 8 Ramadan 1245 H/1829 M. Dengan dijumpai manuskrip yang terdapat tahun itu maka dapatlah diagak-agak jarak waktu sementara penulisan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang telah diketahui, iaitu 1200 H/1785 M (Ad-Durr an-Nafis) hingga 1245 H/1829 M (manuskrip yang tersebut di atas). Jadi bererti sekitar 45 tahun. Dengan demikian pada jarak waktu yang demikian lama masih banyak karya Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari yang belum kita jumpai dan ketahui.
Tuan Haji Muhammad Said Umar: Tokoh Mufassir Tanah Melayu
Latar Belakang Kehidupan
Nama penuh beliau ialah Haji Muhammad Said bin Umar Khatib bin Aminuddin bin Abdul Karim. Beliau dilahirkan pada tahun 1854 bersamaan 1275 H di Kampung Kuar, Jerlun, Kedah. Para pengkaji tafsir dan para pengkaji sejarah Malaysia tidak dapat menentukan dengan tepat tarikh sebenar kelahiran kerana tidak terdapat sumber-sumber yang cukup mengenai kelahirannya, maka tidak terdapat info yang lengkap tentang kelahirannya. Oleh karena dilahirkan sebagai anak Kedah maka jolokan yang diberi kepada ialah al-Qadahi seperti yang tercatit pada penutup Tafsîr Nûr al-Ihsân pada jilid terakhir. Beliau dibesarkan bersama seorang saudara lelakinya dalam lingkungan keluarga yang diterapkan nilai-nilai keagamaan dan mendapat didikan langsung daripada bapanya iaitu Haji Umar Khatib. Beliau termasuk di antara 25 tokoh tafsir Malaysia yang tercatit di dalam buku Khazanah Tafsir Di Malaysia yang membahaskan tentang biografi, sumbangan, dan metode mereka dalam penafsiran.
Ayahnya ialah Haji Umar Bin Aminuddin. Dia merupakan seorang alim yang terkenal dengan jolokan ‘Khatib’ karena mempunyai ketokohan dalam memberi ucapan dan menyampaikan khutbah di khalayak ramai. Ketika hayatnya, itulah pekerjaan yang dilakukan sebagai satu sumbangan terhadap masyarakat dalam menegakkan syariat Islam. Bahkan, ayahnya merupakan seorang yang amat cenderung kepada membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan Islam dan memberi bimbingan agama kepada mereka sehingga bimbingan tersebut memberi kesan jelas pada peribadi Tuan Haji Muhammad Said. Bahkan, beliau juga mempunyai sifat-sifat yang sama seperti sifat-sifat bapanya yang amat cenderung kepada agama dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh bapanya.
Walau berasal dari Kedah, Tuan Haji Muhammad Said telah melanjutkan pengajian ke beberapa tempat di antaranya Changkat, Krian di Perak dan yang terakhirnya Sungai Acheh, yang sekarang ini dikenali dengan nama Kampung Kedah di Perak. Selepas berada di perantauan dalam tempoh yang lama, beliau pulang semula ke Kedah pada 1312H bersamaan 1891M dan ketika itu beliau berumur 37 tahun. Demi menuntut ilmu, beliau merantau lagi ke luar negeri seperti Pattani di selatan Thailand dan Mekah. Semasa menetap di Mekah, beliau memiliki sebidang tanah yang berada dekat daripada Masjid al-Haram tetapi kemudian tanah itu dibeli oleh kerajaan Arab Saudi dengan harga yang mahal. Maka dapat diandaikan bahawa beliau telah menetap di Mekah dalam masa yang lama sehingga memiliki sebidang tanah.
Ketika berada di Changkat, beliau membuka sebuah pondok pengajian dan mengajar di sana. Di sana beliau telah menikahi isteri pertamanya yang bernama Fatimah dan hasil pernikahan keduanya, mereka telah dikurniakan tiga putera. Putra-putra mereka ialah Haji Mahmud, Haji Muhammad, dan Haji Ahmad. Tetapi, isteri pertama beliau meninggal dunia dalam usia yang masih muda.
Selepas kematian isteri pertama, beliau menikahi isteri keduanya yang bernama Hajah Rahmah yang berasal dari Pulau Mertajam, Pulau Pinang dan dikurnia dua putera dan dua puteri. Putera-puteranya itu adalah Abdul Hamid dan Haji Omar. Manakala kedua-dua puterinya adalah Sofiah dan Fatimah.
Kemudian beliau berhijrah ke Kampung Kedah di Sungai Acheh, Perak akibat serangan siam ke atas Kedah. Ketika menetap di kampung tersebut, beliau mengajar dan mengerjakan sawah padi sebagai pekerjaannya. Di sana juga beliau menikahi isteri ketiganya yaitu Hajah Hamidah dan dikurnia 10 orang anak terdiri dari tujuh putera dan tiga puteri. Mereka adalah Haji Mustaffa, Haji Kassim, Cik Hassan, Haji Mohd Akib, Haji Hussain, Hajah Asma, Hajah Mariam, Siti Hajar, Haji Mansor, dan Haji Nasir.
Semasa menetap di Kampung Kedah ini, beliau didatangi oleh utusan daripada pihak Tengku Mahmud yang meminta beliau supaya pulang semula ke Kedah. Demi memenuhi permintaan daripada Baginda, beliau pulang ke Kedah dan diberi sebidang tanah di Kanchut. Tengku Mahmud merupakan salah seorang kerabat raja Kedah yang mendorong dan menyokong Tuan Haji Muhammad Said supaya menulis Tafsir Nur al-Ihsan seperti yang dijelaskan pada penutup karyanya itu. Setelah menetap di Kedah, beliau diberi jawatan ‘Guru Diraja’ untuk mengajar anak-anak raja dan di antara mata pelajaran yang diajar adalah tafsir al-Qur`an. Sementara itu, beliau juga diberi jawatan sebagai qadhi di Jitra iaitu pusat pemerintahan Kedah. Oleh karena diberi jabatan tersebut, beliau diberi gelaran Haji Said Mufti tidak lama kemudian. Di samping jawatannya sebagai qhadi, beliau juga menjalankan kegiatan menyebarkan risalah Islam dengan mengajar di masjid dan surau di sekitar Jitra.
Sehingga berumur 75 tahun, Tuan Haji Muhammad Said masih menjawat sebagai qadhi. Pada penghujung kariernya sebagai qadhi, beliau menghidap sakit lenguh badan yang menyebabkan beliau terpaksa menjalani pembedahan. Setelah keadaan beliau semakin sihat, beliau dibawa kepada isteri keduanya, Hajah Rahmah di Jitra. Setelah beberapa hari di Jitra, beliau dibawa kepada isteri ketiganya, Hajah Hamidah di Kanchut. Di sana beliau meninggal dunia pada hari Rabu, selepas masuk waktu Asar tanggal 22 Zulkaedah 1350H bersamaan 9 Mac 1932. Jenazah beliau disemadikan di Masjid Alor Merah, Alor Star, Kedah.
Keperibadian
Tuan Haji Muhammad Said merupakan seorang yang memandang serius pengetahuan dan pendidikan agama. Pandangan beliau itu dapat dilihat pada perbuatannya yang sentiasa mendidik anak-anaknya membaca dan menghafaz pada setiap malam sebelum waktu tidur. Beliau juga adalah seorang yang menekankan soal agama dan pendidikan. Beliau telah menyediakan kewangan untuk mengantar anak-anaknya ke tempat-tempat pengajian agama supaya mereka mendapat pendidikan yang terbaik, terutama putera-puteranya yang telah dihantar ke Mekah. Oleh karena itu, kebanyakan anak-anaknya berjaya menguasai bahasa Arab. Segala usaha Beliau tidak sia-sia, bahkan anak-anaknya pulang ke tanah air dengan membawa kejayaan mereka dan berbakti kepada negeri mereka sebagai guru-guru.
Pada masa yang sama, Tuan Haji Muhammad Said merupakan seorang yang terkenal dengan sifat pendiam. Dengan sifatnya itu, maka anak-anaknya dan masyarakat lokal menghormatinya. Walau sibuk dengan tugasan harian, beliau sentiasa meluangkan masa untuk membaca serta menelaah kitab. Beliau mempunyai prinsip tersendiri dan melakukan setiap perkara berdasarkan syariat. Ketinggian ilmunya telah menjadikan beliau terkenal dengan jolokan ‘Tok Lebai’ dan ‘Penulis dan Guru Tafsir Quran’. Panggilan yang paling tepat untuk beliau ialah ‘Guru Tafsir’ kerana merujuk kepada sumbangannya yang begitu besar dilakukan oleh beliau iaitu dengan wujudnya Tafsîr Nûr al-Ihsân dalam Bahasa Melayu yang boleh didapati di toko-toko buku. Karya beliau mendapat perhatian yang besar daripada masyarakat Melayu di Malaysia sehingga ia telah dicetak berulang-ulang bagi mencukupi permintaan yang banyak. Jika disebut nama beliau, pasti mengenali tubuh dan peribadinya itu adalah mesti, terutama di kalangan ulama’ Malaysia dan Thailand.
Pendidikan
Pendidikan awal yang diterima oleh beliau sejak kecil ialah daripada bapanya Haji Umar Khatib dan keluarganya. Lingkungan keluarganya turut berperan membentuk peribadinya yang murni dengan Islam. Tidak cukup dengan pendidikan daripada bapanya, beliau turut menuntut ilmu di pondok-pondok. Menurut Wan Mohd Shaghir, ada riwayat yang menyebut bahawa Tuan Haji Muhammad Said pernah belajar di pondok Bendang Daya, Pattani. Beliau sempat belajar daripada pengasas pesantren tersebut iaitu Syiekh Haji Wan Mustafa al-Faṯani atau Tok Wan Pa, yang lebih terkenal sebagai Tok Bendang Daya Pertama. Tetapi beliau lebih banyak berguru dengan Syiekh Wan Abdul Qadir Bin Wan Mustafa al-Faṯani (1820an-1895) yang terkenal sebagai Tok Bendang Kedua, yang merupakan putera daripada Tok Bendang Pertama yang meneruskan citra pengajian pondok warisan al-marhum bapanya.
Maka berdasarkan riwayat ini, bererti bahwa Tuan Haji Muhammad Said adalah rakan seguru dengan Haji Ismail Bin Mustafa al-Faṯani (1873-1948) atau terkenal dengan jolokan di Kedah sebagai Cik Doi atau Cik Dol, iaitu bapa kepada Tuan Guru Haji Hussein Cik Doi. Haji Ismail merupakan seorang alim dari Pattani yang menempa nama di Kedah dan pernah membantu Syiekh Haji Awang mengajar di pesantren beliau di Tualang di negeri tersebut. Dapat disimpulkan juga bahwa Tuan Haji Muhammad Said juga pernah menjadi rakan seguru kepada beberapa tokoh ulama’ dari Pattani yang berguru daripada Tok Bendang Daya Kedua seperti Tok Kelaba, Tok Jakir, Haji Abdul Rasyid Bandar, dan Tok Titi, Haji Muhammad Syah Sayok dan ramai lagi.
Tidak terdapat info-info yang konkrit dari hasil-hasil kajian dan penelitian tentang pengajiannya di tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Maka perbahasan tentang latar belakang pendidikan Tuan Haji Muhammad Said tidak mungkin dapat dijelaskan. Tetapi kebanyakan para penyelidik dan dan penulis sejarah hidup beliau menyebut bahwa beliau pernah melanjutkan pengajian tinggi ke Mekah. Info-info lengkap tentang tahun dan peringkat pengajiannya di Mekah juga tidak ditemukan dari sumber-sumber di atas.
Mazhab Akidah dan Fikih
Tuan Haji Muhammad Said telah dikenali sebagai cendikiawan yang menganut mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Walau tidak terdapat sumber tentang pegangannya dengan mazhab tersebut, namun ia dapat dilihat dari penafsirannya. Sementara itu, beliau telah mencatit pada penutup karya bahwa dirinya adalah seorang yang bermazhab Syafi’e dan pengikut Thariqat al-Naqsyabandiyah al-Ahmadiah. Kecenderungan beliau terhadap mazhab-mazhab tersebut boleh ditemukan pada corak penafsiran beliau yang menjelaskan sesuatu masalah feqah dengan bermacam mazhab fiqh yang mu’tabar terutamanya al-Syâfi’iyah. Beliau juga menafsirkan ayat-ayat yang menyentuh tema ibadah dan hukum-hukum dengan pendekatan yang terdapat dalam tafsir-tafsir Fiqhi.
Sumbangan Dan Karya Sumbangan
Sumbangan Dan Karya Sumbangan Tuan Haji Muhammad Said dalam bidang tafsir yang dinukil di dalam karya ialah Tafsîr Nûr al-Ihsân. Beliau terkenal sebagai seorang yang aktif menyebarkan risalah Islam dan mengajar di masjid-masjid. Walau kehidupannya dipenuhi dengan kesibukan sebagai qadhi serta penglibatan beliau bersama masyarakat, beliau masih sempat mengarang sebuah lagi karya yang diberi nama Fatwa Kedah. Minat beliau terhadap bidang penulisan bertambah selepas mendapat galakan daripada sultan Kedah iaitu Sultan Abdul Hamid yang menjadi pendukung utama beliau untuk meneruskan karyanya.
Walaupun bilangan kitab yang dikarang tidaklah berapa banyak, namun dari sudut kualitinya tidak boleh dipertikaikan. Seorang pengkaji pernah mengikhtiraf bahawa kitab Tafsir Nurul Ehsan merupakan kitab Jawi yang terbaik di Asia Tenggara.Kitab tersebut pertama kalinya dicetak di Mekah dan dengan izin kerajaan negeri Kedah ianya dicetak di Pulau Pinang. Kitab tafsir Nurul Ehsan sekarang berada pada warisnya Hj Abdul Hamid Hj Ahmad. Karya beliau yang kedua ialah kitab Fatwa Kedah. Kitab ini mengandungi fatwa fatwa berkaitan dengan hukum nikah cerai. Kitab tersebut pada asalnya akan diserahkan kepada imam imam, namun masih berada di tangan kerajaan negeri Kedah dan tidak dibenar dicetak.
SUMBER 1
SUMBER 2
Nama penuh beliau ialah Haji Muhammad Said bin Umar Khatib bin Aminuddin bin Abdul Karim. Beliau dilahirkan pada tahun 1854 bersamaan 1275 H di Kampung Kuar, Jerlun, Kedah. Para pengkaji tafsir dan para pengkaji sejarah Malaysia tidak dapat menentukan dengan tepat tarikh sebenar kelahiran kerana tidak terdapat sumber-sumber yang cukup mengenai kelahirannya, maka tidak terdapat info yang lengkap tentang kelahirannya. Oleh karena dilahirkan sebagai anak Kedah maka jolokan yang diberi kepada ialah al-Qadahi seperti yang tercatit pada penutup Tafsîr Nûr al-Ihsân pada jilid terakhir. Beliau dibesarkan bersama seorang saudara lelakinya dalam lingkungan keluarga yang diterapkan nilai-nilai keagamaan dan mendapat didikan langsung daripada bapanya iaitu Haji Umar Khatib. Beliau termasuk di antara 25 tokoh tafsir Malaysia yang tercatit di dalam buku Khazanah Tafsir Di Malaysia yang membahaskan tentang biografi, sumbangan, dan metode mereka dalam penafsiran.
Ayahnya ialah Haji Umar Bin Aminuddin. Dia merupakan seorang alim yang terkenal dengan jolokan ‘Khatib’ karena mempunyai ketokohan dalam memberi ucapan dan menyampaikan khutbah di khalayak ramai. Ketika hayatnya, itulah pekerjaan yang dilakukan sebagai satu sumbangan terhadap masyarakat dalam menegakkan syariat Islam. Bahkan, ayahnya merupakan seorang yang amat cenderung kepada membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan Islam dan memberi bimbingan agama kepada mereka sehingga bimbingan tersebut memberi kesan jelas pada peribadi Tuan Haji Muhammad Said. Bahkan, beliau juga mempunyai sifat-sifat yang sama seperti sifat-sifat bapanya yang amat cenderung kepada agama dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh bapanya.
Walau berasal dari Kedah, Tuan Haji Muhammad Said telah melanjutkan pengajian ke beberapa tempat di antaranya Changkat, Krian di Perak dan yang terakhirnya Sungai Acheh, yang sekarang ini dikenali dengan nama Kampung Kedah di Perak. Selepas berada di perantauan dalam tempoh yang lama, beliau pulang semula ke Kedah pada 1312H bersamaan 1891M dan ketika itu beliau berumur 37 tahun. Demi menuntut ilmu, beliau merantau lagi ke luar negeri seperti Pattani di selatan Thailand dan Mekah. Semasa menetap di Mekah, beliau memiliki sebidang tanah yang berada dekat daripada Masjid al-Haram tetapi kemudian tanah itu dibeli oleh kerajaan Arab Saudi dengan harga yang mahal. Maka dapat diandaikan bahawa beliau telah menetap di Mekah dalam masa yang lama sehingga memiliki sebidang tanah.
Ketika berada di Changkat, beliau membuka sebuah pondok pengajian dan mengajar di sana. Di sana beliau telah menikahi isteri pertamanya yang bernama Fatimah dan hasil pernikahan keduanya, mereka telah dikurniakan tiga putera. Putra-putra mereka ialah Haji Mahmud, Haji Muhammad, dan Haji Ahmad. Tetapi, isteri pertama beliau meninggal dunia dalam usia yang masih muda.
Selepas kematian isteri pertama, beliau menikahi isteri keduanya yang bernama Hajah Rahmah yang berasal dari Pulau Mertajam, Pulau Pinang dan dikurnia dua putera dan dua puteri. Putera-puteranya itu adalah Abdul Hamid dan Haji Omar. Manakala kedua-dua puterinya adalah Sofiah dan Fatimah.
Kemudian beliau berhijrah ke Kampung Kedah di Sungai Acheh, Perak akibat serangan siam ke atas Kedah. Ketika menetap di kampung tersebut, beliau mengajar dan mengerjakan sawah padi sebagai pekerjaannya. Di sana juga beliau menikahi isteri ketiganya yaitu Hajah Hamidah dan dikurnia 10 orang anak terdiri dari tujuh putera dan tiga puteri. Mereka adalah Haji Mustaffa, Haji Kassim, Cik Hassan, Haji Mohd Akib, Haji Hussain, Hajah Asma, Hajah Mariam, Siti Hajar, Haji Mansor, dan Haji Nasir.
Semasa menetap di Kampung Kedah ini, beliau didatangi oleh utusan daripada pihak Tengku Mahmud yang meminta beliau supaya pulang semula ke Kedah. Demi memenuhi permintaan daripada Baginda, beliau pulang ke Kedah dan diberi sebidang tanah di Kanchut. Tengku Mahmud merupakan salah seorang kerabat raja Kedah yang mendorong dan menyokong Tuan Haji Muhammad Said supaya menulis Tafsir Nur al-Ihsan seperti yang dijelaskan pada penutup karyanya itu. Setelah menetap di Kedah, beliau diberi jawatan ‘Guru Diraja’ untuk mengajar anak-anak raja dan di antara mata pelajaran yang diajar adalah tafsir al-Qur`an. Sementara itu, beliau juga diberi jawatan sebagai qadhi di Jitra iaitu pusat pemerintahan Kedah. Oleh karena diberi jabatan tersebut, beliau diberi gelaran Haji Said Mufti tidak lama kemudian. Di samping jawatannya sebagai qhadi, beliau juga menjalankan kegiatan menyebarkan risalah Islam dengan mengajar di masjid dan surau di sekitar Jitra.
Sehingga berumur 75 tahun, Tuan Haji Muhammad Said masih menjawat sebagai qadhi. Pada penghujung kariernya sebagai qadhi, beliau menghidap sakit lenguh badan yang menyebabkan beliau terpaksa menjalani pembedahan. Setelah keadaan beliau semakin sihat, beliau dibawa kepada isteri keduanya, Hajah Rahmah di Jitra. Setelah beberapa hari di Jitra, beliau dibawa kepada isteri ketiganya, Hajah Hamidah di Kanchut. Di sana beliau meninggal dunia pada hari Rabu, selepas masuk waktu Asar tanggal 22 Zulkaedah 1350H bersamaan 9 Mac 1932. Jenazah beliau disemadikan di Masjid Alor Merah, Alor Star, Kedah.
Keperibadian
Tuan Haji Muhammad Said merupakan seorang yang memandang serius pengetahuan dan pendidikan agama. Pandangan beliau itu dapat dilihat pada perbuatannya yang sentiasa mendidik anak-anaknya membaca dan menghafaz pada setiap malam sebelum waktu tidur. Beliau juga adalah seorang yang menekankan soal agama dan pendidikan. Beliau telah menyediakan kewangan untuk mengantar anak-anaknya ke tempat-tempat pengajian agama supaya mereka mendapat pendidikan yang terbaik, terutama putera-puteranya yang telah dihantar ke Mekah. Oleh karena itu, kebanyakan anak-anaknya berjaya menguasai bahasa Arab. Segala usaha Beliau tidak sia-sia, bahkan anak-anaknya pulang ke tanah air dengan membawa kejayaan mereka dan berbakti kepada negeri mereka sebagai guru-guru.
Pada masa yang sama, Tuan Haji Muhammad Said merupakan seorang yang terkenal dengan sifat pendiam. Dengan sifatnya itu, maka anak-anaknya dan masyarakat lokal menghormatinya. Walau sibuk dengan tugasan harian, beliau sentiasa meluangkan masa untuk membaca serta menelaah kitab. Beliau mempunyai prinsip tersendiri dan melakukan setiap perkara berdasarkan syariat. Ketinggian ilmunya telah menjadikan beliau terkenal dengan jolokan ‘Tok Lebai’ dan ‘Penulis dan Guru Tafsir Quran’. Panggilan yang paling tepat untuk beliau ialah ‘Guru Tafsir’ kerana merujuk kepada sumbangannya yang begitu besar dilakukan oleh beliau iaitu dengan wujudnya Tafsîr Nûr al-Ihsân dalam Bahasa Melayu yang boleh didapati di toko-toko buku. Karya beliau mendapat perhatian yang besar daripada masyarakat Melayu di Malaysia sehingga ia telah dicetak berulang-ulang bagi mencukupi permintaan yang banyak. Jika disebut nama beliau, pasti mengenali tubuh dan peribadinya itu adalah mesti, terutama di kalangan ulama’ Malaysia dan Thailand.
Pendidikan
Pendidikan awal yang diterima oleh beliau sejak kecil ialah daripada bapanya Haji Umar Khatib dan keluarganya. Lingkungan keluarganya turut berperan membentuk peribadinya yang murni dengan Islam. Tidak cukup dengan pendidikan daripada bapanya, beliau turut menuntut ilmu di pondok-pondok. Menurut Wan Mohd Shaghir, ada riwayat yang menyebut bahawa Tuan Haji Muhammad Said pernah belajar di pondok Bendang Daya, Pattani. Beliau sempat belajar daripada pengasas pesantren tersebut iaitu Syiekh Haji Wan Mustafa al-Faṯani atau Tok Wan Pa, yang lebih terkenal sebagai Tok Bendang Daya Pertama. Tetapi beliau lebih banyak berguru dengan Syiekh Wan Abdul Qadir Bin Wan Mustafa al-Faṯani (1820an-1895) yang terkenal sebagai Tok Bendang Kedua, yang merupakan putera daripada Tok Bendang Pertama yang meneruskan citra pengajian pondok warisan al-marhum bapanya.
Maka berdasarkan riwayat ini, bererti bahwa Tuan Haji Muhammad Said adalah rakan seguru dengan Haji Ismail Bin Mustafa al-Faṯani (1873-1948) atau terkenal dengan jolokan di Kedah sebagai Cik Doi atau Cik Dol, iaitu bapa kepada Tuan Guru Haji Hussein Cik Doi. Haji Ismail merupakan seorang alim dari Pattani yang menempa nama di Kedah dan pernah membantu Syiekh Haji Awang mengajar di pesantren beliau di Tualang di negeri tersebut. Dapat disimpulkan juga bahwa Tuan Haji Muhammad Said juga pernah menjadi rakan seguru kepada beberapa tokoh ulama’ dari Pattani yang berguru daripada Tok Bendang Daya Kedua seperti Tok Kelaba, Tok Jakir, Haji Abdul Rasyid Bandar, dan Tok Titi, Haji Muhammad Syah Sayok dan ramai lagi.
Tidak terdapat info-info yang konkrit dari hasil-hasil kajian dan penelitian tentang pengajiannya di tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Maka perbahasan tentang latar belakang pendidikan Tuan Haji Muhammad Said tidak mungkin dapat dijelaskan. Tetapi kebanyakan para penyelidik dan dan penulis sejarah hidup beliau menyebut bahwa beliau pernah melanjutkan pengajian tinggi ke Mekah. Info-info lengkap tentang tahun dan peringkat pengajiannya di Mekah juga tidak ditemukan dari sumber-sumber di atas.
Mazhab Akidah dan Fikih
Tuan Haji Muhammad Said telah dikenali sebagai cendikiawan yang menganut mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Walau tidak terdapat sumber tentang pegangannya dengan mazhab tersebut, namun ia dapat dilihat dari penafsirannya. Sementara itu, beliau telah mencatit pada penutup karya bahwa dirinya adalah seorang yang bermazhab Syafi’e dan pengikut Thariqat al-Naqsyabandiyah al-Ahmadiah. Kecenderungan beliau terhadap mazhab-mazhab tersebut boleh ditemukan pada corak penafsiran beliau yang menjelaskan sesuatu masalah feqah dengan bermacam mazhab fiqh yang mu’tabar terutamanya al-Syâfi’iyah. Beliau juga menafsirkan ayat-ayat yang menyentuh tema ibadah dan hukum-hukum dengan pendekatan yang terdapat dalam tafsir-tafsir Fiqhi.
Sumbangan Dan Karya Sumbangan
Sumbangan Dan Karya Sumbangan Tuan Haji Muhammad Said dalam bidang tafsir yang dinukil di dalam karya ialah Tafsîr Nûr al-Ihsân. Beliau terkenal sebagai seorang yang aktif menyebarkan risalah Islam dan mengajar di masjid-masjid. Walau kehidupannya dipenuhi dengan kesibukan sebagai qadhi serta penglibatan beliau bersama masyarakat, beliau masih sempat mengarang sebuah lagi karya yang diberi nama Fatwa Kedah. Minat beliau terhadap bidang penulisan bertambah selepas mendapat galakan daripada sultan Kedah iaitu Sultan Abdul Hamid yang menjadi pendukung utama beliau untuk meneruskan karyanya.
Walaupun bilangan kitab yang dikarang tidaklah berapa banyak, namun dari sudut kualitinya tidak boleh dipertikaikan. Seorang pengkaji pernah mengikhtiraf bahawa kitab Tafsir Nurul Ehsan merupakan kitab Jawi yang terbaik di Asia Tenggara.Kitab tersebut pertama kalinya dicetak di Mekah dan dengan izin kerajaan negeri Kedah ianya dicetak di Pulau Pinang. Kitab tafsir Nurul Ehsan sekarang berada pada warisnya Hj Abdul Hamid Hj Ahmad. Karya beliau yang kedua ialah kitab Fatwa Kedah. Kitab ini mengandungi fatwa fatwa berkaitan dengan hukum nikah cerai. Kitab tersebut pada asalnya akan diserahkan kepada imam imam, namun masih berada di tangan kerajaan negeri Kedah dan tidak dibenar dicetak.
SUMBER 1
SUMBER 2
Monday, 2 February 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)