Saturday, 10 November 2012

قد كفاني علم ربي




قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي

Cukup bagiku pengetahuan Tuhanku

مِنْ سُؤَالِي وَاخْتِيَارِي

Daripada permintaan dan usahaku

فَدُعَـائِي وابْتِهـَالِي

Doa serta permohonanku

شَـاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي

Sebagai bukti pada kefakiranku

فَلِهَذَا السِّرِّ أَدْعُـو

Oleh kerana rahsia itu aku berdoa

فِي يَسَارِيْ وَعَسَارِي

Pada saat aku senang dan susah

أَنَا عَبْدٌ صَارَ فَخْرِي

Aku adalah hamba, menjadi kebanggaanku

ضِمْنَ فَقْرِي وَاضْطِرَارِي

Dalam kefakiran dan keperluanku

يَا إِلَـهِي وَمَلِيْـكِي

Wahai tuhanku yang memiliki aku

أنْتَ تَعْلَمُ كَيْفَ حَالِي

Kau Maha tahu akan keadaanku

وَبِمَا قَدْ حَـلَّ قَلْبِـي

Dan apa yang berada dalam hatiku

مِنْ هُمُوْمٍ وَاشْتِغَالِـي

Dari kesedihan dan kesibukanku

فَتَـدَارَكْنِي بِلُطْفٍ

Maka tolonglah aku dengan kelembutan

مِنْكَ يَا مَوْلَى الْمَوَالِي

Dari-Mu Wahai Tuhan seluruh hamba

يَا كَرِيْمَ الْوًَجْهِ غِثْنِي

Wahai yang Maha Pemurah tolonglah hamba

قَبْلَ أنْ يَفْنَى اصْطِبَارِي

Sebelum lenyap kesabaran hamba

يَا سَرِيْعَ الْغَوْثِ غَوْثًا

Wahai pemberi pertolongan dengan segera

مِنْكَ يُدْرِكْنَا سَرِيْعًا

Berilah kami dengan segera pertolongan-Mu

يَهْزِمُ الْعُسْرَ وَيَأْتِي

Yang dapat menghilangkan kesulitan dan dapat mendatangkan

بِالَّذِي نَرْجُو جَمِيْـعًا

Dengan apa-apa yang kami harapkan semua

يا قَرِيْـبًا يا مُجِيْـبًا

Wahai yang Maha dekat, dan menjawab

يا عَلِيْمًا يا سَمِيْـعًا

Wahai yang Maha mengetahui dan mendengar

قَدْ تَحَقَّقْتُ بِعَجْزِي

Aku mengaku akan kelemahanku

وخُضُوْعِي وانْكِسَارِي

Dan ketaatan serta kesedihanku

لَمْ أَزَلْ بِالْبَابِ وَاقِفْ

Aku sentiasa menunggu di hadapan pintu rahmat-Mu

فَارْحَمَنْ ربِّي وُقُوْفِي

Wahai Tuhanku berikanlah rahmat padaku

وبِوَادِي الْفَضْلِ عَاكِفْ

Pada lembah kurnia-Mu aku berada

فَأَدِمْ ربِّي عُكُـوْفِي

Wahai Tuhanku tetapkanlah keberadaanku disana

ولِحُسْنِ الظَّنِّ لاَزِم

Aku sentiasa mempunyai prasangka baik

فَهُوَ خِلِّي وحَلِيْفِي

Ia (prasangka baik) adalah teman dan kawanku

وأَنِيْسِي وجَلِيْسِي

Juga penyenang bagiku dan yang setia bersamaku

طُوْلَ لَيْلِي ونَهَارِي

Sepanjang malam dan siangku

حَاجَةً فِي النَّفْسِ يَا ربّ

Wahai Tuhanku, dalam jiwa ini terdapat hajat

فَاقْضِهَا يا خَيْرَ قَاضِي

Tunaikanlah Wahai yang Maha Menunaikan

وأَرِحْ سِرِّي وقَلْبِي

Tenteramkanlah rahsia dan hatiku

مِنْ لَظاَهَا والشُّوَاظِ

Dari kebimbangan dan pergolakannya

فَالْهَنَا والْبَسْطُ حَالِي

Sungguh aku akan berada dalam ketenteraman dan ketenangan

وشِعَارِي ودِثَارِي

Dan juga (ketenteraman dan ketenangan) menjadi pakaianku

SUMBER:

http://www.alhawi.net/mutiara-qasidah/qad-kafani-ilmu-rabbi

Doa Habib Umar al-Hafiz

Dipetik Daripada Majlis Maulid bersama Habib Omar di Yayasan Aljenderami 2011

Ya Allah

Kami memohon kecintaanMu dan kecintaan orang yang Engkau cintai, dan cinta kepada amal  perbuatan yang mendekatkan aku kepada kecintaanMu.

Wahai yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.

Wahai orang tidak boleh tahan dengan sengatan nyamuk dengan gigitan haiwan yang menggigit, bagaimanakah kamu boleh tahan daripada api neraka bila mana kamu dicampakkan ke dalamnya.

Wahai orang yang merasa susah dan dengan kesusahan oleh penyakit yang menimpa salah satu anggota tubuh badannya, tangan atau kakinya, bagaimanakah kamu akan mencampakkan diri kamu kepada tempat yang sangat pedih.

Ya Allah

janganlah Engkau jadikan diantara diri kami  dan keluarga kami yang Engkau tuliskan untuk masuk ke dalam api neraka.

Jangan Engkau azab kami di hari kiamat dan janganlah Engkau tunjukkan  kepada kami keluarga dan anak-anak kami yang Engkau bawa kedalam neraka.

Ya Allah

Bilamana dihimpunkan orang-orang ditelaga nabi himpunkanlah kami bersama mereka.

Berilah kami minuman daripada telaga nabiMu  minuman yang kami tidak akan merasa haus selama-selamanya.

Ya Allah

Himpunkanlah kami bersama nabiMu di telaga nabiMu

Masukkan kami ke dalam syurga bersamanya

Jauhkanlah kami daripada api neraka.

Ya Allah

Tiada yang dapat mengabulkan  doa kami melainkan Engkau.

Dan tidak ada seorangpun yang akan masuk syurga kecuali dengan rahmatMu

Dan kami memohon kepadaMu

Dan kami meminta kepadaMu

Dan kami mengharap kepadaMu

Masukkan kami kedalam syurga ..2x

Jauhkanlah kami daripada api neraka

Masukkanlah kami bersama nabiMu

Ya Allah 2x

Tunjukkanlah kepada mata –mata kami wajah nabi Muhammad ..3x

Sungguh celaka orang yang tidak dapat melihat wajah nabi Muhammad di hari akhirat..3x

Ya Allah

Kumpulkanlah kami bersamanya

Masukkanlah kami dibawah panji nabi Muhammad

Masukkanlah kami bersamanya ke dalam syurga

Ya Allah 2x

Kalau bukan kerana rahmat dari Mu kami tidak akan dapat seru namaMu

Kalau bukan kerana izin dari Mu kami tidak  boleh menyebut namaMu

Kalau bukan kerana kelembutanMu kami tidak dapat menyebut nama Mu

Engkaulah yang mengizinkan kami untuk memanggil namaMu

Dan menganjurkan kepada kami untuk memohon kepadaMu

Walaupun kami berdosa

Walaupun kami bermaksiat

Walaupun kami berdosa

Walaupun kami telah berdosa

Wahai sekalian manusia yang berlaku zalim kepada diri mereka

Jangan berputus asa daripada rahmat Allah

Sesungguhnya Allah mengampun segala dosa-dosa

Sesungguhnya Dia  Maha Pengampun dan Maha Mengasihani

Dan kembalilah kepada tuhanMu..4x

Dan serahkanlah tubuhmu kepadaNya

Dan serahkanlah dirimu kepadaNya

Sebelum kamu dibangkitkan di hari azab

Sebelum tidak ada pertolongan padanya

Jadikanlah hati kami kembali kepadaMu ..3x

Ya Allah 2x

Tunjukkanlah kepada kami kebenaran Islam

Tunjukkanlah kepada kami kebenaran Iman

Ya Allah

Sebagaimana Engkau telah berikan keimanan kepada kami tambahkanlah keimanan kami

Ya Allah

Sebagaimana Engkau telah berikan kepada kami kesihatan tambahkanlah kesihatan kami

Ya Allah

Sebagaimana Engkau telah berikan kepada kami umur berikanlah keberkatan kepada umur kami

Ya Allah

Pandanglah kepada  kami Ya Allah

Rahmatilah kami Ya Allah

Terimalah taubat kami

Serulah tuhanmu..2x

Mintalah kepada tuhanMu..2x

Sebutlah Ya Allah

Sebutlah Ya Allah

Sebutlah Ya Allah

Ia mendengar kepadamu

Ia melihat kepadamu

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Siapakah lebih patut diharapkan melainkanMu Ya Allah

Siapakah yang lebih berhak menangis melainkan kepadaMu Ya Allah

Hapuskanlah dosa kami Ya Allah

Hapuskanlah dosa perbuatan kami

Ampunkanlah dosa kami yang telah lalu

Ampunkanlah dosa kami pada baki umur kami

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah

Imam Uwais al-Qarani

Uwais al-Qarani[1]

 

Beliau bernama Uwais ibn ‘Amir ibn Jaza’ ibn Malik ibn ‘Amr ibn Sa’ad ibn ‘Ashwan ibn Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad. Nama asli Murad yang disebutkan terakhir adalah Yuhabir ibn Malik ibn ‘Udad.

 

Al-Jauhari dalam kitab al-Shihâh mengatakan bahwa al-Qarani adalah nisbat kepada suatu tempat bernama Qaran. Yaitu mîqât bagi penduduk Najd yang berada di daerah Tha’if. Sementara al-Fairuzabadi dalam al-Qâmûs al Muhîth mengatakan bahwa penisbatan Uwais al-Qarani kepada nama daerah Qaran ini adalah pendapat salah. Pendapat yang benar, menurutnya, al-Qarani adalah nisbat kepada salah seorang nama kakeknya, ialah Qaran ibn Radman ibn Najiah ibn Murad.

 

 

Sejarah tidak mencatatkan tahun kelahiran Uwais. Namun pendapat kuat mengatakan bahwa beliau hidup semasa dengan Rasulullah, hanya saja tidak pernah bertemu dengannya. Karena itu Uwais al-Qarani tidak tergolong sahabat nabi. Sebab definisi sahabat adalah orang yang hidup di masa Rasulullah, beriman kepadanya, pernah bertemu dengannya walaupun sesaat, dan meninggal dalam keimanannya tersebut. Dalam kitab Siyar A’lâm al-Nubalâ’, adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Uwais tidak sempat bertemu dengan Rasulullah karena disibukkan dengan berbakti kepada ibunya.

 

 

Masih menurut adz-Dzahabi, Uwais tidak banyak meriwayatkan hadits, kecuali beberapa saja yang ia ambil dari sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dan sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib, karenanya beliau bukan termasuk Rijâl al-Hadîts. Kemudian di antara yang mengambil dari Uwais riwayat hadits yang sedikit tersebut adalah Yusair ibn ‘Amr, ‘Abd ar-Rahman ibn Abi Laila, Abu ‘Abd Rabb al-Damasyqi, dan lainnya.

 

 

Terdapat beberapa hadits shahih yang menunjukkan keutamaan Uwais al-Qarani. Di antaranya hadits riwayat muslim dalam kitab Shahîh-nya bahwa Rasulullah bersabda:

 

يَأتِيْ عَلَيْكُمْ أوَيْسٌ القَرَنِيّ مَعَ أمْدَادٍ مِنَ الْيَمَنِ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرِئَ مِنْهُ إلاّ مَوْضِع دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَارٌّ لَوْ أقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِن اسْتَطَعْتَ أنْ يَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

 

“Akan datang kepada kalian Uwais al-Qarani dengan rombongan berasal dari Yaman. Ia pernah memiliki penyakit kulit belang (al-Barash), kemudian ia sembuh darinya kecuali hanya tersisa seukuran keping dirham. Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah meminta kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya. Jika engkau dapat bertemu dengannnya dan ia memintakan ampun kepada Allah bagi dirimu maka lakukanlah hal itu”. (HR. Muslim).

 

 

Riwayat yang sama juga disebutkan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Lisân al-Mîzân, Ibn Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqât, adz-Dzahabi dalam Siyar A’lâm al-Nubalâ’, dan lainnya. Dalam riwayat-riwayat tersebut disebutkan bahwa apa bila datang rombongan dari Yaman kepada ‘Umar ibn al-Khaththab maka beliau selalu bertanya kepada mereka: “Adakah di antara kalian Uwais al-Qarani?”. Hingga suatu saat ‘Umar dapat bertemu dengannya, Umar berkata: “Benarkah engkau bernama Uwais ibn ‘Amir”. Uwais menjawab: “Benar”. ‘Umar berkata: “Benarkah engkau berasal dari Murad dan dari Qaran?”. Uwais menjawab: “Benar”. ‘Umar berkata: “Adakah engkau pernah memiliki penyakit belang dan sembuh darinya kecuali tersisa seukuran keping dirham?”. Uwais menjawab: “Benar”. ‘Umar berkata: “Adakah engkau memiliki seorang ibu?” Uwais menjawab: “Benar”. Kemudian ‘Umar membacakan sebuah hadits yang pernah didengarnya dari Rasulullah, -seperti tersebut di atas-. Setelah itu ‘Umar meminta kepada Uwais untuk memintakan ampunan kepada Allah bagi dirinya. Lalu Uwais mengerjakan permintaan ‘Umar tersebut. Kemudian ‘Umar bertanya kepadanya: “Ke manakah engkau hendak pergi?” Uwais menjawab: “Ke Kufah”. ‘Umar berkata: “Maukah engkau jika saya menulis surat kepada gubernur Kufah supaya dia memuliakanmu?”. Uwais menjawab: “Tidak, aku lebih senang berada dalam kumpulan orang-orang”.

 

 

Al-Hâfizh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’ meriwayatkan bahwa Rasulullah dalam haditsnya telah menyebutkan sifat-sifat Uwais al-Qarani. Di antara sifat-sifat tersebut ialah bahwa beliau adalah seorang yang berperawakan tegap, dada bidang, berwarna sangat kecoklatan, dagu selalu tertunduk menempel ke dadanya, pandangan selalu tertuju ke tempat sujud, tangan kanannya selalu diletakkan di atas tangan kirinya, selalu dalam keadaan membaca al-Qur’an, menangisi diri sendiri, memakai kain sarung yang berasal dari wol kasar, tidak dikenal di penduduk bumi namun sangat dikenal di penduduk langit (para Malaikat), jika ia bersumpah atas nama Allah maka benar-benar akan terkabulkan, di bawah bahu sebelah kanannya terdapat kulit putih seukuran kepingan dirham, dan kelak di hari kiamat para ahli ibadah akan diperintah untuk segera masuk ke surga, kecuali Uwais. Kepadanya akan dikatakan: “Berhenti engkau, berikan syafa’atmu (pertolongan) terlebih dahulu kepada orang lain”. Uwais kemudian memberikan syafa’at kepada banyak orang sejumlah orang-orang kabilah Rabi’ah dan kabilah Mudlar. Kemudian Rasulullah berkata kepada ‘Umar ibn al-Khaththab dan ‘Ali ibn Abi Thalib: “Jika kalian bertemu dengannya maka mintalah kepadanya untuk beristighfar kepada Allah bagi kalian”. Sekitar sepuluh tahun ‘Umar dan ‘Ali tidak pernah bertemu dengan Uwais, sebelum kemudian setelah itu baru dapat bertemu dengannya.

 

 

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Lisân al-Mîzân meriwayatkan dari Hammad ibn Salamah dari al-Jariri dari Abi Nadlrah dari Usair ibn Jabir dari ‘Umar ibn al-Khaththab bahwa Rasulullah bersabda:

 

إنّ خَيْرَ التّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ بْنُ عَامِرٍ، كَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَدَعَا اللهَ فَأذْهَبَهُ عَنْهُ إلاّ مَوْضِع دِرْهَمٍ فِي سُرّتِهِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصّحِيْحِ وَأحْمَدُ فِي الْمُسْنَد)

 

“Sesungguhnya sebaik-baiknya orang dikalangan tabi’in adalah seorang bernama Uwais ibn ‘Amir. Ia pernah memiliki penyakit kulit putih (barash), kemudian ia berdoa kepada Allah untuk menyembuhkan penyakit tersebut hingga penyakit itu hilang, kecuali seukuran keping dirham yang terletak di daerah pusarnya”. (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya. Demikian pula diriwayatkan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad-nya).

 

 

Diriwayatkan bahwa apa bila datang sore hari, Uwais berkata di dalam doanya: “Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini jika hari ini di antara hamba-hamba-Mu ada yang kelaparan, karena di rumahku sudah tidak terdapat lagi makanan kecuali yang ada di dalam perutku ini”[2].

 

 

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata:

“Sesunguhnya pekerjaan memerintah kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran menjadikanku tidak memiliki teman seorang mukmin. Setiap kali kami memerintah mereka kepada kebaikan maka mereka mencaci maki kehormatan kami, sebaliknya mereka mendapatkan teman dalam kefasikan mereka sendiri, bahkan demi Allah mereka telah melempariku dengan tulang-belulang”[3].

 

 

Diriwayatkan pula bahwa suatu ketika seseorang berkata kepadanya: “Berilah wasiat bagi diriku…!”. Uwais menjawab: “Kembalilah kepada Tuhanmu”. Orang tersebut berkata: “Bagaimana dengan bekal hidupku?” Uwais menjawab: “Sesungguhnya hati itu selalu didatangai rasa was-was, ketahuilah jika engkau benar kembali kepada Tuhanmu, adakah Dia akan menyia-nyiakanmu tanpa rizki bagimu”[4].

 

 

Di antara sikap zuhud Uwais diriwayatkan bahwa beliau pernah hingga tidak memiliki selebar pakaianpun. Tidak sedikit orang yang mencacinya, bahkan ada yang menggapnya sebagai orang yang tidak waras. Karena tidak memiliki pakaian, beliau tidak dapat datang ke masjid atau mushalla. Dalam hadits riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliyâ’ disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

 

إنّ مِنْ أمّتِيْ مَنْ لاَ يَسْتَطِيْعُ أنْ يَأتِيَ مَسْجِدَهُ أوْ مُصَلاّهُ مِنَ العَرْي، يَحْجُزُهُ إيْمَانُهُ أنْ يَسْألَ النّاسَ، مِنْهُمْ أوَيْسٌ القَرَنِيّ (رَوَاهُ أبُو نُعَيْم)

 

“Sesungguhnya dari umatku ada yang tidak bisa mendatangi masjid atau mushallanya karena tidak memiliki pakaian. Keimanannya menghalangi dia untuk meminta-minta kepada manusia. Di antara mereka adalah Uwais al-Qarani”. (HR. Abu Nu’aim)

 

Tentang tahun wafatnya terdapat perselisihan pendapat ulama. Satu pendapat menyatakan beliau wafat di Jabal Abi Qubais di Mekah. Pendapat lain menyatakan di Damaskus. Pendapat lainnya menyebutkan beliau wafat di saat perang Shiffin (peperangan antara Mu’awiyah dan ‘Ali ibn Abi Thalib), yang saat itu beliau berada di kelompok ‘Ali.

 

 

Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lâm al-Nubalâ’ menyebutkan bahwa setelah berita tentang Uwais dikenal banyak orang karena telah bertemu dengan ‘Umar ibn al-Khaththab, ia menghilang begitu saja tanpa ada yang mengetahuinya. Baru kemudian diketahui kembali keberadaannya di masa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib di saat terjadi perang Shiffin. Dan Uwais mati syahid dalam perang Shiffin ini karena berada di kelompok ‘Ali ibn Abi Thalib; sebagai khalifah yang sah saat itu. Setelah meninggal, ketika diperiksa jasadnya ternyata didapati sekitar empat puluh lebih luka yang mematikan.

 

 

Pendapat adz-Dzahabi ini sejalan dengan apa yang telah ditulis oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhain. Diriwayatkan dari Ashbagh ibn Nubatah, bahwa ia berkata: Aku melihat ‘Ali ibn Abi Thalib saat terjadi perang Shiffin berkata: “Siapa yang mau membaiatku untuk berani mati dalam perang ini?”. Kemudian ada 99 orang maju ke depan hendak membaiatnya. ‘Ali berkata: “Mana satu orang lagi untuk melengkapinya?”. Tiba-tiba seseorang dengan pakaian dari wol dengan kepala gundul maju dan membaiatnya, yang ternyata orang tersebut adalah Uwais al-Qarani. Setelah itu kemudian turun ke medan perang hingga Uwais mendapatkan mati syahid dalam perang tersebut.

 

 

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama. Artinya bahwa Uwais meninggal secara syahid di saat perang Shiffin, dan beliau saat itu berada di kelompok ‘Ali ibn Abi Thalib. Pendapat ini juga dikuatkan dengan riwayat yang menyatakan bahwa jasan Uwais berada di antara orang-orang yang terbunuh dalam perang Shiffin tersebut. Dengan demikian berarti Uwais wafat pada bulan Shafar tahun 37 hijriah, sesuai dengan kejadian perang Shiffin itu sendiri. Makam beliau sekarang berada di wilayah al-Raqqah di negara Siria, dan hingga kini banyak diziarahi orang-orang Islam dan merupakan tempat mustajab untuk berdoa.

Amaddanâ Allah Min Amdâdih.






[1] Biografi Uwais al-Qarani lebih lengkap lihat asy-Sya’rani, ath-Thabaqât…, j. 1, h. 47-48, Abu Nu’aim, Hilyah…, j. 2, h. 79-87.

[2] Lihat asy-Sya’rani, Thabaqât…, j. 1, h. 47

[3] Ibid.

[4] Ibid, j. 1, h. 48

 

SUMBER:

http://allahadatanpatempat.wordpress.com/2009/12/31/imam-uwais-al-qarani/

Sayyidah Nafisah; Wali Allah Dari Kaum Perempuan

 

 

SAYYIDAH  NAFISAH

 

Beliau adalah  Nafisah putri al Hasan al Anwar ibn Zaid al Ablaj ibn al Hasan ibn Ali karramallahu wajhah. Ibunda beliau adalah seorang ummu walad (budak yang dinikahi tuannya) seperti halnya Hajar ibunda Nabi Ismail.

 

 

Beliau tumbuh dalam keluarga yang mendidiknya menjadi seorang yang alim, wara', dan ahli ibadah.Hari-harinya di isi dengan puasa pada siang hari dan bangun malam untuk beribadah, sehingga Allah memulyakannya dengan beberapa karamah.

 

 

 

KELAHIRANNYA

 

Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi ayah sayyidah Nafisah untuk duduk di Masjidil Haram guna memberi pelajaran agama dan ilmu al quran kepada manusia.

 

 

Kemudian suatu hari datng kepada beliau salah seorang budak membawa berita kelahiran putrinya, seraya berkata: Berbahagialah engkau tuan!malam ini telah lahir putrimu yang cantik jelita yang tiada duanya.Ketika mendengar hal itu, beliau sangat senang dan bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur atas terkabulkannya doa beliau serta memberikan hadiah yang banyak kepada budak tersebut seraya berkata: katakan kepada keluarga agar menamainya NAFISAH semoga ia menjadi pribadi yang baik dan suci.

 

 

Beliau radhiyallahu anha dilahirkan di kota Makkah Al Mukarromah pada hari rabu 11 rabiul awal tahun 145H . dan yang lebih menyenangkan ayahnya adalah bahwa putrinya ini mirip  sekali dengan saudarinya yang bernama Nafisah binti Zaid istri khalifah Al Walid ibn Abdil Malik.

 

 

Setelah tersebarnya kabar gembira kelahiran sayyidah Nafisah ini, banyak orang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat kepada keluarga yang mulia ini, serta bertepatan dengan hal tersebut datanglah  kepada al hasan al anwar utusan Kalifah Abbasiyah Abu Ja’far Al Mansur dengan membawa sebuah kitab yang mengeluarkan bau misik dan hadiah dari khalifah berupa sekantong uang sebesar 20.000 dinar.Kemudian beliau membuka kitab tersebut dan membacanya dengan seksama, sementara orang-orang disekitar beliau dengan tegang menunggu apa yang telah dititahkan khalifah kepada beliau, mereka takut hal tersebut akan membahayakan keturunan Rasulullah. Kekhawatiran mereka bertambah ketika beliau menangis dan mengatakan: “Sang Khalifah telah memilihku menjadi gubernur Madinah AL Munawwarah”.Sontak wajah mereka menjadi berbinar-binar karena sangat bergembira seraya berkata: “ Sungguh suatu kabar gembira bagi kota Madinah, karena akan dipimpin orang sepertimu, yang selalu menegakkan keadilan dan sunnah rasul serta memegang teguh hukum islam”.Mendengar perkataan mereka , beliau berkata: “Kalaupun titah kepemempinan ini adalah suatu nikmat dari Allah, maka dia (putriku Nafisah) lah yang membawa kabar gembira tersebut (dengan kelahirannya).Dan kalaupun hal ini adalah suatu karamah (kemulyaan dari Allah), maka dia (putriku Nafisah) lah yang menjadi tandanya”.

 

 

Beliau radhiyallahu ‘anha tumbuh dalam lingkungan yang mulia, baik ketika masih tinggal di Makkah ataupun setelah pindah ke Madinah ketika beliau berumur 5 tahun. Beliau mulai di ajari al quran dan hadist nabawy secara intensif baik dari segi hafalan ataupun meriwayatkan hadist. Beliau jaga sering juga ikut ke masjid Nabawy sehingga sering menyaksikan orang-orang shaleh berlalu lalang disana.

 

 

Sungguh Allah telah memberi berkah pada umur beliau, pada usia 8 tahun saja beliau sudang hafal Al Quran dan hadist nabawy yang cukup banyak. Beliau selalu menyertai ayahnya baik ketika bepergian atau di rumah, sehingga beliau menjadikan ayahnya sebagai panutan dan contoh yang baik.

 

 

Beliau radhiyallahu ‘anhu sering berdao seraya mengatakan: Ya Allah jauhhkan hatiku dari hal yang bisa menyibukkannya  (melalaikanMu), senangkan diriku kepada setiap hal yang menjadikan aku sekaku bertaqarrub kepadaMu, mudahkanlah jalanku untuk taat kepadaMu,jadikanlah aku termasuk wali (kekasih)Mu, karena hanya  Engkaulah Dzat yang diharapkan dalam kedaan sulit . Hanya kepada engkaulah manusia memohon pertolongan

 

 

Termasuk ulama’ terkenal yang pernah bertemu dengan beliau adalah Imam Malik ibn Anas pengarang kitab Al Muwattha’ , imam Daar al Hijrah,seorang yang sangat wara’, dan  periwayat hadist-hadist sahih.

 

 

Beliau juga meriwayatkan hadist-hadist dan mendapat hikmah-hikmah dari para ahli hadist, ahli fiqh, ahli syair, dan pembesar ahli bahasa yang berkumpul di ruman ayahnya.

 

 

 

SAYYIDAH NAFISAH MENIKAH

 

Kini sayyidah Nafisah telah dewasa, telah siap untuk menempuh jenjang pernikahan dan telah mumpuni dari segi ilmu maupun ketaqwaannya. Karena hal itu banyak sekali pemuda yang datang kepada Ayahnya untuk melamar beliau, baik dari keturunan Rasulullah, pembesar-pembesar ulama’ ataupun suku Quraisy. Termasuk yang sangat ingin menikahi beliau adalah Ishaq ibn Ja’far as Shadiq, yaitu pemuda yang tekenal diantara teman-temannya dengan julukan Al Mu’tamin karena sifat amanah dan keteguhan imannya.

 

 

Ishaq bukanlah orang yang asing lagi bagi sayyidah Nafisah, karena ia adalah putra imam Ja’far al Shadiq ibn Muhammad al Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain cucu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia telah melihat benyak sekali pemuda-pemuda yang datang kepada Ayah sayyidah Nafisah guna melamarnya, tetapi beliau selalu mengatakan: “Aku ingin menyampaikan amnah kepada pemiliknya, aku ingin mengembalikan  tetesan ke dalam lautan dan aku ingin menanam mawar di dalam kebunnya”. Maka ketika setiap pemuda yang mendengarnya akan mengurungkan niatnya untuk meminang, mereka berkata: mungkin ada suatu rahasia dari balik perkataan tersebut yang kita tidak ketahui.

 

 

Meskipun demikian Ishaq menganggap ia harus tetap mencoba kesempatannya. akhirnya ia beristikharah kepada Allah kemudian pergi bersama pembesar-pembesar Ahli Bait untuk meminang sayyidah Nafisah, akan tetapi penolakanlah yang ia dapatkan sehingga ia pulang dengan hati yang hancur karena lamarannya ditolak.

 

 

Kemudian ia pergi ke Masjid Nabawy dan melakukan shalat. Setelah itu ia masuk ke dalam ruang makam Rasulullah dan berdiri di samping makam seraya berkata:Semoga rahmat dan keselamatan selalu tercurah kepadamu wahai Rasulullah, wahai Penghulu para rasul, Penutup para nabi, dan kekasih Tuhan semesta alam.aku datang untuk membritahukan engkau keadaanku, aku limpahkan hajatku kepadamu supaya engkau membantuku , kepadamulah manusia mengadukan hajat merek dan meminta bantuan pertolongan, aku telah melamar Nafisah kepada ayahnya tetapi  ia menolakku".kemudian Ia mengucapkan salam dan pergi dari makam Rasulullah.

 

 

Keesokan harinya Ishaq dikagetkan dengan berita bahwa ia di panggil oleh al Hasan al anwar, dan  ketika ia menemuinya al hasan berkata: “Tadi malam aku mimpi bertemu dengan kakekku Rasulullah dengan rupa yang sangat menawan, beliau mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Wahai Hasan nikahkanlah putrimu Nafisah dengan Ishaq al Mu’tamin!”. Kemudian dilangsungkanlah pernikahan mereka pada hari Jumat tanggal 1 Rajab 161 H, sehingga lengkaplah cahaya berkah hasan dan husein di rumah itu karena sayyidah Nafisah adalah keturunan Hasan, sedang suaminya keturunan Husein radhiyallahu ‘anhuma. Sayyid Ishaq juga terkenal keagungannya, sifat wara’, banyak orang yang meriwayatkan hadist dan atsar darinya karena beliau juga terkenal sebagai Muhaddist yang berkompeten.

 

 

 

PERJALANAN KE MESIR

 

Kini Sayyidah Nafisah telah menjadi idola di hati masyarakat, khususnya penduduk Mesir. Setiap musim haji mereka menyempatkan diri untuk menziarahi beliau dan selalu mempersilahkannya mengunjungi Mesir. Menanggapi hal itu beliau berkata: “Insya Allah aku akan menziarahi kalian, karena Allah telah memujinya dan menyebutkannya dalam al quran. Begitu juga kakekku telah bersabda agar berwasiat kebaikan kepada penduduknya”.

 

 

Kemudian beliau radhiyallahu ‘anha bersama suami dan kedua anaknya al Qasimdan Umi Kultsum serta ahli bait lainnya  berhijrah ke Mesir dikarenakan ayah beliau sudah tidak berkuasa lagi di Madinah serta banyaknya fitnah yang menyebabkan keturunan Rasulullah pindah ke tempat lain .

 

 

Sambutan yang sangat meriah dan hangat beliau dapatkan ketika sampai di Mesir, masyarakat saling berebut menjamu beliau serta  para rombongan hijrah. Dan Sayyid Jamal ibn Jashash lah yang memberikan tempat tinggal bagi beliau di Mesir .

Meskipun beliau terbiasa hidup berkecukupan ketika tinggal bersama ayah beliau di Madinah, tapi sifat wara’nya lah yang menjadikan beliau tetap kerasan di tempat barunya ini. Dikatakan dalam salah satu riwayat bahwa beliau hanya makan sekali dalam waktu tiga hari. Berkata  salah satu keponakannya yang bernama Zainab : “Aku melayani beliau selama 40 tahun dan tidaklah aku dapati beliau kecuali tidak pernah tidur pada malam hari, puasa pada siangnya kecuali pada hari raya dan 3 hari tasyriq. Aku berkata: Tidaklah anda kasihan dengn diri anda? Beliau menjawab: bagaimana aku bisa kasihan kepada diriku ketika banyak siksaan dihadapan mata dan tidak bisa menghalaunya kecuali orang-orang yang beruntung”. Ia juga berkata: “ Bibiku adalah orang yang hafal alquran dan tafsirnya, stiap kali membacanya beliau selalu meneteskan air mata”.

 

 

 

KAROMAH-KAROMAH BELIAU

 

Diantaranya adalah:

 

·         Keranjang makanan

Al Qona’I berkata : aku bertanya kepada zainab keponakan beliau: “Apakah makanan bibimu sehari-hari? “Ia menjawab: “beliau hanya makan sekali  selama tiga hari, keranjang makanan beliau tergantung di depan tempat sholat. Dan setiap kali beliau mengiginkan makanan , aku selalu mendapatkannya di dalam keranjang tersebut. Maka Alhamdulillah kami bisa menyaksikan (karomah) yang telah diberikan Allah kepada Sayyidah Maryam”.

 

 

·         Mengalirnya kembali sungai Nil

Sa’ad ibn hasan berkata: pada zaman beliau sungai Nil pernah kering, kemudian orang-orang mendatangi beliau dan meminta doa darinya. Beliau memberikan cadarnya kepada mereka, kemudian mereka membawanya dan melemparkannya ke dalam sungai. Setelah itu mengalirlah air sungai tersebut sebelum orang-orang meninggalkannya.

 

 

  • Seekor ular besar


Al Imam Auza’i – imam dan pakar fiqih daratan Syam- (wft. 159H) berkata: Aku bertanya  kepada Jauharah – salah satu budak Hasan al Anwar- :Apakah engkau melihat sebuah karomah pada saat sayyidah Nafisah masih kecil? Ia menjawab : “Ya, ketika itu udara sangat panas sekali dan di sampingku ada  secawan air untuk beliau. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seekor ular besar yang mendekat kepadaku, kemudian ular tersebut menempelkan pipinya ke dalam cawat tersebut layaknya ia sedang mengambil berkah dari air tesebut. Setelah itu ular tersebut pergi.

 

 

  • Doa untuk Imam Syafi’i


Setiap kali Imam Syafi’I sakit , ia selalu mengutus seseorang –seperti Rabi’ al Jizi atau Rabi’ al Muradi- kepada beliau untuk menyampaikan salam dan mengatakan bahwa imam Syafi’i sedang sakit, kemudian beliau mendoakannya dan Imam Syafi’i pun sembuh sebelum utusannya tsb tadi datang. Ketika Imam Syafi’i sakit (akan wafat), ia juga mengutus seorang seperti biasanya kepada beliau radhiyallahu ‘anha, kemudian beliau berdoa: Semoga Allah menyengangkan beliau dengan melihat DzatNya( di akherat).

 

 

  • Mimpi Rasulullah


Suatu hari suami beliau Sayyid Ishaq berkata: “Ikutlah bersama kami ke Hijaz!” beliau menjawab: “Aku tidak bisa melakukan itu karena tadi aku mimpi \Rasulullah bersabda kepadaku: “Jangan tinggalkan Mesir karena Allah akan mewafatkanmu di Mesir!”

 

 

 

WAFAT

 

Sayyidah  Nafisah terserang penyakit pada bulan Rajab 208 H dan penyakit tersebut tambah parah hingga bulan Ramadhan. Karena sangat parahnya penyakit sehingga beliau tidak kuat bergerak, kemudian didatangkan dokter kepada beliau dan ia menganjurkan beliau untuk tidak berpuasa. Tetapi beliau berkata: “ Sungguh mengherankan (saranmu), padahal selama 30 tahun aku selalu meminta kepada Allah agar aku meninggal dalam keadaan berpuasa. Terus apakah aku akan berbuka? Padahal aku sudah menggali kuburan dibalik serambi - sambil menunjukkan letak kuburan tersebut -. Disanalah insya Allah aku di akan dimakamkan. Jika aku meninggal kuburkanlah aku di sana! ”.

 

 

Diriwayatkan bahwa beliau telah menghatamkan alquran di dalam kuburan tersebut sebanyak 1000 kali.

 

Beliau meninggal  selang 4 tahun setelah meninggalnya Imam Syafi’I . Jasad beliau di makamkan di makam yang beliau gali sendiri dangan tangan mulianya.

 

 

Semoga Allah meridhoi Sayyidah Nafisah dan mengumpulkan kita bersama beliau di syurga bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shaleh. Karena mereka adalah sebaik-baik teman.

 

Wallahu a’lam wa ahkam.

 

 

SUMBER:

http://allahadatanpatempat.blogspot.com/2011/11/sayyidah-nafisah-wali-allah-dari-kaum.html

 

Iman. Islam dan Ehsan - Kitab Faridatul Faraid


(  
Dan  )  Melengkapi  agama  itu  atas  tiga  perkara  iaitu Islam dan  iman dan ehsan .

 

 

Bermula Islam itu ) Mengikut dan menerima oleh zhahir seseorang akan barang yang mendatangkan dengan dia oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salaam daripada segala barang yang diketahuikan daripada agama dengan dharurah, ertinya dengan ketiadaan fikir dan bicara seperti dua kalimah Syahadah dan sembahyang .

 

Dan dikehendaki dengan mengikut dan menerima itu mengaku lidah dengan barang yang tersebut itu dan tiada menolakkan dia dan jika tiada diamalkan dia sekalipun seperti meninggal ia akan sembahyang dan umpamanya selama-lamanya .

 

 

Dan segala rukun Islam itu ) Lima perkara :

 

Pertama ) Bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad Pesuruh Allah . Ini rukun tertentu dengan orang kafir yang menghendaki masuk agama Islam .

 

Kedua ) Mendirikan sembahyang yang lima .

 

Ketiga ) Memberikan zakat .

 

Keempat ) Puasa bulan Ramadhan .

 

Kelima ) Haji akan Baitullah bagi mereka yang kuasa kepadanya akan jalan .

 

 

Bermula iman itu ) Membenar hati akan Nabi s.a.w pada tiap-tiap suatu yang mendatang ia dengan dia daripada (3) barang yang maklum daripada agama dengan dharurah .

 

(3) ( Qauluhu ; Barang yang ma’lum daripada agama dengan dharurah ) Ertinya barang yang diketahuikan daripada segala dalil agama sebagai pengetahuan yang masyhur antara segala ahli agama hingga menyerupai dengan dharurah, ertinya ketiadaan fikir dan bicara .  ﺍﻫ  ﻤﺆﻟﻔﻪ

 

Dan dikendaki dengan membenar itu, mengikut hati dan menerimanya akan barang yang tersebut itu, tiada semata-mata mengetahui benar Nabi s.a.w serta ketiadaan mengikut dan menerima, maka tiada dihukumkan dengan iman kebanyakan daripada segala kafir yang mengetahui mereka itu bahawasanya Saiyyidina Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salaam itu Nabi dan Rasul yang sebenar kerana ketiadaan mengikut hati mereka itu dan ketiadaan menerimanya akan demikian itu .

 

 

Dan segala rukun iman itu ) Enam perkara :

 

Pertama ) Beriman ertinya percaya dengan Allah .

 

Kedua ) Beriman dengan MalaikatNya .

 

Ketiga ) Beriman dengan segala KitabNya .

 

Keempat ) Beriman dengan segala RasulNya .

 

Kelima Beriman dengan hari yang kesudahan .

 

Keenam ) Beriman dengan qadarNya baiknya dan jahatnya, ertinya bahawasanya sekelian perkara, sama ada elok seperti tha‘at atau keji seperti ma’shiat, hasil ia dengan perbuatan Allah Ta‘ala atas muwaafaqat kehendakNya pada sedia kala .

 

 

( Bermula ehsan itu ) Berbuat baik dengan bahawa ikhlas oleh seseorang pada segala tha‘atnya dan iaitu ber‘ibadat kita akan Allah Ta‘ala padahal seolah-olah kita melihatkan Dia, maka tiada patut bahawa berpaling kita kepada yang lainnya dengan bathin atawa zhahir padahal mengetahui kita bahawasa Allah Ta‘ala itu melihatkan kita, maka malu kita pada ketika itu bahawa lalai kita di dalam ‘ibadat { kepada } Nya . Dan ehsan ini syarat bagi kesempurnaan Islam dan iman, maka tiada sempurna keduanya melainkan dengan dia .

Kitab Fariidatul faraaid fil 'ilmil 'aqaaid

 

SUMBER:

http://kitabjawilama.blogspot.com/search?q=rukun+agama

 

Friday, 9 November 2012

Apa itu Agama dan Rukun-rukunnya?

 

 

Ta’rif  Agama

 

Bermula Ugama itu ialah ibarat yakni satu tuturan dan cakapan daripada sekumpulan dan perhimpunan undang-undang yang datang daripada Allah Ta’ala keatas RasulNya supaya menyampaikan akan dia kepada umat manusia. Atau dikatakan Ugama itu ialah terkena kepada segala undang-undang yang datang daripada Allah Ta’ala kepada Rasul-rasulnya kemudian menyampaikan mereka itu akan segala umat. Iaitulah yang dinamakan Ugama Islam dan orang-orang yang mengikut undang-undang itu dinamakan muslim, yakni orang yang berugama Islam.

 

Maka nyata daripada ta’rif itu bahawa yang disebutkan ugama itu ialah kena kepada undang-undang Allah Ta’ala yang dihantar akan dia dengan melalui Rasul-rasulNya, daripada yang bersangkutan dengan aqidah dan dengan ibadah dan mu’amalah dan sebagainya. Bermula undang-undang Allah Ta’ala lima perkara iaitu wajib, sunat, haram, makruh, harus. Maka tiap-tiap daripada apa kerja manusia itu tidak keluar daripada salah satu daripada lima undang-undang yang tersebut yang dinama akan dia dengan hukum-hukum syara’ atau hukum-hukum taklifiyyah, yang lagi akan datang menyebut akan dia di dalam huraian hukum-hukum syara’ insya Allah.

 

Maka nyata pula daripada huraian ini bahawa pengenalan Ugama itu, ramainya orang-orang yang tidak mengenal Ugama yang tersebut maka setengahnya sembahyang sahaja, puasanya tidak dan setengahnya sembahyang, puasa, menunaikan haji, tidak mengeluar pula zakat dan bermacam-macamlah berlakunya. Ada kala membuat yang sunat-sunat jua tidak yang wajib. Semuanya itu daripada sebab tidak mengenal Ugama. Kalau begitu, hendaklah kamu mempelajari akan dia dengan bersungguh-sungguh sehingga mengenal akan dia.

 

Rukun Agama

 

Dan kejadian Ugama atau terbentuknya Ugama itu diatas tiga perkara iaitu Islam, Iman dan Ihsan.

1)   Islam

Bermula Islam itu mengikut zohir dan mengaku zohir oleh seseorang akan segala perkara yang dibawa datang akan dia oleh Rasul daripada pekerjaan Ugama yang diketahui akan dia dengan dhorurah, yakni ketiadaan fikir bahkan semua orang tahu belaka kata perkara itu daripada pekerjaan Ugama sehingga kanak-kanak pun tahu seperti sembahyang, puasa. Dan rukun itu 5 perkara yakni terbentuklah segala pekerjaan Ugama itu diatas 5 rukun yang dinamakan dia rukun Islam.

 

Dan makna rukun itu ialah perkara-perkara yang jadi sesuatu dengan dia dan ia pula juzu’ suatu atau suku sesuatu itu, yakni rukun itu asas atau tunjang bagi sesuatu. Maka rukun Islam atau asas atau tunjang Islam itu 5 perkara:

Pertamanya mengucap dua kalimah syahadah iaitu

اشهد ان لا إله الا الله و اشهد ان محمد رسول الله

Ertinya: Aku menyaksi dan aku mengaku dengan lidahku bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku  menyaksi dan aku mengaku bahawa Muhammad itu Rasulullah atau utusan Allah.

Dan rukun yang pertama inilah sebagai asas dan tunjang utama bagi seseorang Islam, sehingga-hingga tidak dihukumkan dengan seseorang itu dengan Islam kecuali ianya menyebut dengan lidahnya akan dua kalimah itu tetapi orang-orang yang sudah Islam dua ibu bapanya tidak wajib lagi mereka itu menyebut dua kalimah itu kerana memadai dengan menurut jua. Dan berkata setengah ulama’ wajib juga berkata didalam seumur hidupnya sekali supaya lepas tuntutan Allah Ta’ala. Sabda Nabi s.a.w didalam hadith yang sohih. Bersabda ia:

اُمِرْتُ اَن أُقَاتِلَ النَّاس حَتَّى يَشْهَدُوا اَن لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله. (الحديث)

Ertinya:

Diperintah akan daku bahawa aku membunuh akan segala manusia sehingga menyaksi dan mengaku lidah mereka itu bahawasanya tidak ada Tuhan melain Allah hingga akhir. (hadith).

 

Keduanya sembahyang lima waktu, ketiganya memberi zakat, keempatnya puasa dibulan ramadhan dan kelimanya menunaikan haji ke baitullah bagi mereka yang kuasa kepadanya akan jalan. Sabda nabi s.a.w  didalam hadith yang sohih:

بُنِيَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَن لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَومِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً.

Ertinya:

Dibinakan  pekerjaan Islam itu diatas lima perkara : Menyaksikan tiada tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu Rasulullah, dan mendirikan sembahyang, dan mengeluarkan zakat,  dan berpuasa di bulan ramadhan, dan menunaikan haji di baitulllah bagi mereka yang kuasa kepadanya akan jalan.

 

Maka nyata daripadanya bahawasanya orang-orang yang tidak mengerjakan lima-lima perkara tersebut itu, mereka itu tidak ada asas dan tunjang pada Ugama Islam seperti binaan – binaan yang tidak ada asas dan tunjang, maka adalah binaan itu menjadi runtuh. Demikianlah menjadi runtuh Ugama apabila tidak ada asas dan tidak ada lima tunjang yang tersebut atau mengingkari dengan lidahnya dan jikalau dengan selora sekalipun.

 

2)   Iman

Bermula Iman itu percaya hati seseorang serta mengaku putus didalam hatinya akan sungguh segala perkara yang dibawa datang akan dia oleh Rasul s.a.w daripada pekerjaan Ugama yang diketahuikan dia dengan dhorurah benar dengan tidak kena fikir dan bicara bahkan tahu belaka tua dan muda akan bahawa perkara itu daripada pekerjaan Ugama Islam.

 

Dan terbentuklah iman itu diatas 6 asas atau 6 tunjang yang dinamakan dia dengan rukun iman. Yang pertama, percayakan Allah. Maknanya mengaku putus didalam hati seseorang dengan tentu sungguh Allah Ta’ala itu Tuhan yang bersifat ia dengan segala sifat-sifat ketuhanan. Maka jika seseorang itu tidak mengaku putus dengan sungguh begitu atau ia mengetahui jua dengan tidak mengaku maka adalah ia tidak beriman dengan Allah Ta’ala dan adalah ia orang yang kafir di sisi Allah Ta’ala dan jikalau sembahyang, puasa sekalipun.

 

Yang kedua percayakan akan malaikat. Maknanya mengaku putus didalam hati seseorang akan bahawasa malaikat itu tentu sungguh ada dan ia setengah daripada makhluk Allah Ta’ala.

 

Yang ketiganya percaya akan segala kitab dengan maknanya. Mengaku putus seorang didalam hatinya dengan tentu sungguh  ada segala kitab yang datang daripada Allah Ta’ala seperti Qur’an dan Taurat dan lain-lainnya dan sungguh segala perkara-perkara yang disebut didalamnya.

 

Yang keempatnya percaya akan segala Rasul-rasul Allah, dengan maknanya mengaku putus seseorang didalam hatinya dengan tentu sungguh ada segala Rasul Allah Ta’ala itu, dan mengaku sungguh akan segala perkara yang mereka itu menyampaikan kepada umatnya.

 

Yang kelimanya percaya akan hari qiamat dengan maknanya mengaku putus seseorang didalam hatinya dengan tentu sungguh ada hari qiamat itu bila-bila masa jua akan datang berlakunya.

 

Yang keenamnya percaya dengan qadho’ dan qadar, dengan maknanya qodho’ itu penentuan yang telah menentu akan dia Allah Ta’ala dengan iradat. Dan makna qadar itu takdir Allah Ta’ala. Maksudnya perbuatan yang telah perbuat akan dia oleh Allah Ta’ala dengan qudratNya. Maka percaya dengan qodho’ dan qadar itu maknanya mengaku putus didalam hati seseorang dengan tentu sungguh akan bahawa segala perkara yang berlaku daripada baik dan jahat semuanya dengan kehendak Allah Ta’ala dan menjadi ia akan dia. Inilah enam perkara yang dinamakan dia rukun iman. Maka barangsiapa tidak percaya dengan maknanya tidak mengaku sungguh segala perkara itu, maka adalah ia kafir tidak dinamakan dia orang yang beriman.

Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ  وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا.

Ertiya: Dan barangsiapa kafir ia yakni tidak percaya dan tidak mengaku sungguh dengan Allah Ta’ala dan segala malaikatNya dan segala kitabNya dan sekelian rasulNya dan dengan hari akhir yakni hari qiamat maka sesungguhnya sesat ia akan sebagai sesat yang jauh.

 

3)   Ihsan

Bermula ihsan itu  berbuat baik, dengan maknanya mengerjakan segala perintah Allah seperti sembahyang, puasa dan sebagainya daripada segala yang disuruh itu dengan elok yang mencukupi segala syarat –syarat dan sempurna rukun-rukunnya, seolah-olah mengerjakan  dan menunaikan perintah Allah itu dihadapan Allah Ta’ala dan jikalau kita tidak melihat akan dia sekalipun. Dan Ihsan ini syarat bagi kesempurnaan Ugama Islam jua. Bukanlah syarat bagi sah Ugama Islam. Dan orang yang tidak mengerjakan ibadat dengan elok, dengan bahawa tidak cukup syarat dan rukun dan tidak ada ikhlas dan tidak khusyu’ dan tawadhu’, maka dinamakan dia orang yang tidak berbuat elok. Maka tidak sempurnalah Ugama Islam dan tidak ada hak lagi menerima pahala daripada Allah Ta’ala.

 

Sabda Nabi S.A.W: Daripada Umar ibn al-Khatab, berkata ia:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتِ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَىْ فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَلَى الْإسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإسلام أَنْ تَشْهَدَ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةُ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يُسْأَلَهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ. قاَلَ أَن تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِن لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِّنَهُ يَرَاكَ

(روايت مسلم)

Ertinya:

Di antaranya kami menduduki kami disisi Rasulullah S.A.W pada suatu hari tiba-tiba kelihatan diatas kami seorang lelaki yang sangat putih pakaiannya dan bersangatan hitam rambutnya, tidak nampak bekas-bekas perjalanannya, dan tidak mengenal akan dia oleh seseorang daripada puak kami sehingga ia menduduki akan Rasulullah S.A.W. Dan sandar ia akan dua lututnya kepada dua lutut Rasulullah. Dan meletak ia akan dua tangannya keatas dua peha Rasulullah, lalu berkata ia: Ya Muhammad, beritahu akan saya daripada Islam. Sabdanya bahawa menyaksi engkau bahawa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bahawa Muhammad Rasulullah. Dan mendirikan engkau akan sembahyang. Dan mengeluar engkau akan zakat. Dan berpuasa engkau di bulan ramadhan. Dan menunaikan engkau akan fardhu haji ke Baitullah jika kuasa engkau kepadanya akan jalan. Berkata lelaki itu benar engakau. Kemudian menanya lagi lelaki itu: wahai Muhammad beritahu akan saya daripada iman. Sabdanya: bahawa percaya engkau akan Allah, dan akan malaikat, dan segala kitab-kitabNya, dan sekelian rasul-rasulNya, dan akan hari kiamat, dan percaya engkau dengan qadarNya baiknya dan jahatnya. Berkata lelaki itu benar engkau ya Muhammad. Kemudian menanya pula lelaki itu: beritahu akan saya Muhammad daripada ihsan. Sabdanya: bahawa engkau mengerjakan ibadat akan Allah Ta’ala itu seolah-seolahnya engkau melihat akan Allah, maka jika engkau tidak nampak akan Dia maka Ia tetap melihat akan dikau.

 

Maka nyatalah bahawa kebentukan Islam yang sempurna itu adalah dengan berhimpun tiga perkara yang tersebut, bukanlah dengan semata-mata mengaku lidah dengan Islam jua. Padahalnya tidak menunaikan segala Rukun Islam dan Rukun Iman dan Ihsan yang tersebut, maka adalah pada hakikatnya tidak mengenal Ugama. Bahkan mengetahui jua dengan tidak mengaku didalam hatinya, seperti yang banyak berlaku pada umat Nabi Muhammad S.A.W di masa-masa ini dengan mengetahui sembahyang, tetapi tidak sembahyang, dan mengetahui puasa tetapi tidak puasa dan ila akhir dan sebagainya. Maka dengan huraian yang panjang, hendaklah engkau lihat di dalam risalah yang bernama Al-Hablu Al-Matin Fi Ma’rifati Al-Din. Wallahu A’lam.

 

Rujukan:

Risalah al-Misbah al-Munir, karangan Abdul Aziz bin Ismail al-Fathoni, Cetakan Matba’ah Halabi, hal. 4-8.

Peringatan Bagi Penuntut Ilmu

 

Hendaklah berniat dengan menuntut ‘ilmu itu akan keredhaan Allah dan akan negeri akhirat dan menghilangkan jahil daripada dirinya dan terjauh daripada orang yang jahil dan menghidupkan agama kerana bahawasanya kekal agama Islam itu dengan ‘ilmu . Dan tiada sah zuhud dan taqwa melainkan dengan ‘ilmu dan berniat syukur atas nikmat iman dan aqal dan sihat badan .

 

 

Dan jangan berniat dengan berniat menuntut ‘ilmu itu akan berhadap manusia kepadanya dan mendatangkan dunia dan kemuliaan pada raja-raja dan lainnya daripada dunia . Dan hendaklah bagi orang yang menuntut itu memelihara akan adabnya kerana tiada mencapai akan ‘ilmu dan tiada manfaat dengan dia dan tiada berkat padanya melainkan dengan beradab .

 

 

Setengah daripadanya membesarkan ‘ilmu dan ahlinya dan membesarkan gurunya dan jangan berjalan di hadapannya dan jangan duduk pada tempatnya dan jangan memulai perkataan dan jangan membanyakkan perkataan dan tertawa-tawa di hadapannya melainkan dengan izinnya atau redhanya .

 

 

Dan jangan bertanya akan dia masalah pada ketika ia jemu dan jangan diserukan dia dengan namanya seperti jangan diserukan dua ibu bapanya dengan nama keduanya .

 

 

Dan jangan memegang kitab melainkan dengan wudhu΄ kerana bahawasanya ‘ilmu itu nur dan wudhu΄ itu nur, maka bertambah nur ‘ilmu itu dengan nur wudhu΄ dan jangan menghanjurkan kakinya kepada kitab dan jangan meletakkankan atasnya sesuatu, maka iaitu haram melainkan kerana hajat .

 

 

Dan lagi, menghormati taulannya yang bersekutu pada menuntut ‘ilmu dan memeliharakan daripada perangai yang keji-keji serta memelihara ia daripada kenyang dan banyak tidur dan daripada membanyak perkataan yang sia-sia dan memelihara ia daripada makan akan makanan pekan kerana makanan pekan itu terlebih hampir bagi najis dan khianat dan terlebih jauh daripada dzikrullah dan terlebih hampir kepada lalai dan lagi kerana bahawasanya mata segala faqir jatuh atasnya dan tiada kuasa mereka itu membeli akan dia dan jadi menyakiti mereka itu dengan demikian itu, maka hilang berkatnya .

 

Kitab : Pelita Bagi Penuntut

 

SUMBER:

http://kitabjawilama.blogspot.com/2012/04/peringatan-bagi-penuntut.html