Monday, 16 April 2012

BABA ISMAIL SPANJANG BERI TAZKIRAH DI MASJID AN NAWI BANTEN





Baba Ismail Spanjang Ziarah Indonesia





TG Ismail Spanjang Penerus Tradisi Ulama' al-Fathoni

Ketawadhu’an, ketenangan, dan kehati-hatian menjadi ciri pembawaannya yang paling menonjol.



 




 

 

 

Bagi sebagian muslimin di Indonesia, apalagi bagi para penuntut ilmu agama, nama Patani bukanlah nama yang asing. Ia nama sebuah negeri Islam terkenal di Thailanda Selatan, yang selama berbada-abad menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Semenanjung Melayu.

Sebenarnya, selain Patani setidaknya ada tiga provinsi lain di Thailand Selatan yang juga didiami kaum muslimin dari bangsa Melayu, yaitu Yala, Naratiwat, dan Songkla. Tetapi tampaknya Patani yang paling dikenal luas di negeri-negeri lain, bahkan hingga di Timur Tengah.

Banyak ulama Patani yang terkenal, karya-karya mereka pun banyak. Siapa yang tak kenal Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani, ulama Nusantara yang paling banyak menghasilkan karya fiqih dalam Madzhab Syafi`i? Ia ulama Nusantara pertama yang menulis fiqih Madzhab Syafi’i yang lengkap dalam seluruh judul kitab, bab, dan fasalnya, dengan kitabnya berjudul Hidayatul Muta`allim wa `Umdatul Mu'allim, yang ditulis tahun 1244 H/1828 M. Masih banyak lagi karya beliau.

Syaikh Daud bukan hanya satu-satunya ulama Patani yang terkenal dan yang menghasilkan karya-karya yang berbobot. Masih banyak nama besar yang lainnya yang tak cukup ruang di sini untuk menuliskan dan memmerincinya.

Di masa kini pun, tokoh-tokoh ulama Patani terus bermunculan melanjutkan estafet perjuangan para pendahlu mereka. Di antara tokoh ulama Patani sekarang yang dikenal luas di Thailand Selatan, bahkan meluas hingga negeri-negeri Melayu yang lain, adalah Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang.

Pertengahan bulan Februari yang lalu, selama sekitar 10 hari ia berada di Indonesia dalam rangka kunjungan dakwah dan silaturahim bersama beberapa ulama dan cendekiawan Thailand Selatan lainnya serta murid-murid mereka. Mereka mengunjungi beberapa tempat di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

alKisah sempat mengikuti dua hari terakhir perjalanan Syaikh Ismail Sepanjang dan rombongan di Indonesia, yaitu Jum’at tanggal 17 Februari, saat mereka mengunjungi penerbit kitab Dar Al-Kutub Al-Islamiyah di Kalibata, Jakarta Selatan, dan Sabtu tanggal 18 Februari, ketika menemui K.H. Dr. M. Hasyim Muzadi di pesantren yang diasuhnya, Pesantren Al-Hikam, yang berlokasi di Beji, Depok, Jawa Barat. Keesokan harinya, Ahad pagi, rombongan kembali ke Thailand.

Sejak pertama kali melihatnya, alKisah sudah sangat tertarik dengan sosoknya. Penampilannya, gerak-geriknya, tutur katanya, dan akhlaqnya menggambarkan sosok ulama yang sebenarnya. Ketawadhu’an, ketenangan, dan kehati-hatian menjadi ciri pembawaannya yang paling menonjol. Ia tak mau terburu-buru mengomentari sesuatu atau bicara tentang sesuatu, apalagi yang tak perlu atau tak benar-benar diketahuinya. Tak tampak kesombongan atau kebanggaan dengan ilmu yang dimiliki. Paduan dari berbagai ciri pribadinya itu memunculkan kewibawaan yang alami, yang tak dibuat-buat.



Orang-orang juga akan merasakan sesuatu yang lain bila mendengarkannya berdoa. Sangat menyentuh perasaan, seolah kita sendiri yang sedang membacanya di keheningan malam. Kalau tak ada keikhlasan dalam dirinya, tampaknya orang tak akan merasakan demikian. Itulah yang alKisah rasakan, dan mungkin juga dirasakan oleh yang lainnya, ketika mendengarnya membaca doa di akhir silaturahim rombongan dengan K.H. Dr. Hasyim Muzadi.

Kalimat demi kalimat dalam doanya terangkai dengan rapi, dengan ungkapan-ungkapan yang tertata dengan sangat baik dan dengan penuturan yang fasih.

Sesungguhnya pilihan-pilihan katanya dalam doanya itu bukanlah kata-kata yang asing atau yang sangat memukau dari segi keindahan bahasa. Sebagian besarnya kalimat-kalimat biasa yang sering didengar orang. Namun doa yang sama jika dibawakan oleh orang lain mungkin tak akan sampai terasa sangat menyentuh sebagaimana ketika dibawakan olehnya.

Sama seperti orang yang membuat dan menyajikan makanan. Jenis makanan yang sama, dengan resep yang sama, dan dengan ukuran bahan-bahan yang persis sama pula, namun dibuat dan disajikan oleh orang yang berbeda, akan terasa berbeda di lidah orang yang menikmatinya.

Caranya dalam berdoa dan berbagai ciri kepribadiannya mengingatkan alKisah kepada sosok Al-Maghfurlah K.H. M. Syafi`i Hadzami.

 

Pencinta Kitab



Syaikh Ismail Sepanjang dilahirkan tahun 1955 di Dusun Panjang, yang termasuk daerah Jambu, salah satu daerah di Patani. Sedangkan Patani, atau dalam kitab-kitab disebut “Fathani”, adalah salah satu provinsi di Thailand Selatan. Sebagaimana diketahui, mayoritas penduduk wilayah Thailand Selatan adalah bangsa Melayu dan beragama Islam. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Thailand, yang dihuni bangsa Siam yang beragama Buddha. Karena berasal dari Dusun Panjang, ia lebih dikenal dengan “Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang” atau “Baba Ismail Sepanjang”.

Ayahnya bernama Wan Umar bin Wan Abdul Lathif bin Wan Abdul Karim, sedangkan ibunya Siti Khadijah binti Ismail. Keduanya berasal dari Patani, hanya saja datuk-datuk ibundanya berasal dari Johor, Malaysia. Syaikh Ismail adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya perempuan.

Sebagaimana ulama-ulama Patani dan ulama-ulama Nusantara lainnya, ia pun belajar di pondok-pondok setempat. Jika sebagian ulama Patani setelah menyelesaikan pelajarannya melanjutkan pendidikannya di Timur Tengah atau tempat-tempat lain di luar negeri, tidak demikian dengan Syaikh Ismail. Ia tidak belajar ke luar negeri. Pendidikannya hanya di pondok-pondok di Patani, namun dijalani dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, dan dilalui dalam waktu yang lama.

Maka tak mengherankan jika hasilnya pun tak mengecewakan. Membanggakan. Meskipun produk lokal, keluasan dan kedalaman ilmunya dalam berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman tak kalah dengan lulusan-lulusan Timur Tengah.

Sebelum mengikuti pelajaran di pondok-pondok, di masa kanak-kanak ia belajar di sebuah sekolah kebangsaan, setingkat sekolah dasar di Indonesia. Selama enam tahun ia mengikuti pelajaran di tingkat dasar itu, empat tahun di kampungnya sendiri dan dua tahun berikutnya di Kampung Tanjong.

Karena berada di wilayah Thailand, tentu saja para pelajar sekolah kebangsaan, selain mempelajari ilmu-ilmu umum sebagaimana di negara-negara lain, juga mempelajari hal-hal khusus yang berkaitan dengan negaranya, terutama bahasa dan sejarah Siam. Karenanya, meskipun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah Thailand Selatan berbicara dalam bahasa Melayu, mereka pun dapat berbahasa Siam.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, barulah ia menimba ilmu di pondok-pondok di Patani. Pondok-pondok itu merupakan pesantren-pesantren tradisional yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dengan mengkaji kitab-kitab turats (kitab-kitab lama, peninggalan ulama masa lalu). Sebagian pesantren tradisional di Indonesia juga masih banyak yang demikian.

Pertama-tama ia belajar di sebuah pondok di kampungnya yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Abdul Lathif bin Haji Abdur Rahim. Kurang lebih tujuh tahun ia menimba ilmu di sini. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu dengan belajar di sebuah pondok di daerah Mayong, masih di wilayah Patani juga.

Kitab-kitab yang dipelajarinya sebagian besar sama dengan yang dipelajari di pondok-pondok di Indonesia. “Saat mempelajari ilmu nahwu, kami membaca kitabMukhtashar JiddanAl-KafrawiAl-Kawakibud-Durriyyah, dan lain-lain. Sedangkan ketika mempelajari ilmu sharaf, kitab-kitab yang dibaca di antaranya Al-Kailani. Dalam ilmu tauhid, yang biasa dibaca adalah kitab-kitab seperti Kifayatul AwamJauharatut-TauhidTijan Ad-DarariFathul Majid, dan lain-lain. Untuk ilmu fiqih, di antaranya Fathul QaribHasyiyah Al-BajuriFathul Mu`inI`anatuth-Thalibin. Untuk ushul fiqh, di antaranya Al-Waraqat dan Al-Luma` . Bagi tingkatan yang lebih lanjut, membaca Jam`ul Jawami`. Ada juga yang mempelajari Irsyadul Fuhul. Kitab-kitab itu selalu dibaca dan dipelajari, seolah-oleh menjadi wirid bagi kami,” begitu Syaikh Ismail menyebutkan beberapa kitab yang dipelajarinya saat menuntut ilmu di pondok.

Setelah menikah dan menunaikan haji, Syaikh Ismail mendirikan pondok. Maka kemudian hari-harinya pun diisi dengan kegiatan keilmuan dan dakwah. Dan bukan hanya di pondok yang dipimpinnya, melainkan juga di tengah-tengah masyarakat muslim Thailand Selatan hingga negeri-negeri di sekitarnya. Di hari-hari tertentu ia mengajar di masjid-masjid di Patani yang dihadiri oleh ribuan umat.

Kabarnya, kalau ia mengajar, beberapa jam sebelumnya orang sudah berkumpul bersiap-siap mendengarkan pengajaran, fatwa-fatwa, dan nasihat-nasihat yang disampaikan olehnya.



Di tengah-tengah kesibukannya mengajar, Syaikh Ismail masih dapat menghasilkan karya-karya, baik tulisannya sendiri maupun terjemahan atau ringkasan dari kitab-kitab yang ada. Karya-karyanya, selain dipelajari oleh para santrinya dan jama’ah pengajiannya, juga banyak digunakan oleh masyarakat muslim pada umumnya. Bukan hanya di Thailand Selatan, melainkan juga di negeri-negeri lain.

Apa yang diraihnya kini, yakni keluasan dan kedalamannya dalam ilmu-ilmu keislaman, selain berkat kesungguhan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu serta doa dari orangtua dan guru-gurunya, juga tak terlepas dari kecintaannya kepada kitab-kitab. Kecintaan dan kegemarannya akan kitab-kitab sangat tampak dan ia sendiri juga menuturkannya.

Saat mengunjungi ruang pameran kitab Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, secara bergurau ia menggambarkan kegemarannya itu. “Kami jika berada di toko kitab seperti ini tak ubahnya seperti perempuan-perempuan saat sedang berada di toko pakaian. Tak mau cepat-cepat beranjak.”

Begitu pun ketika sedang mendengarkan penjelasan Habib Alwi Abubakar Assegaf mengenai proses pentahqiqan kitab yang dilakukan di Darul Kutub Al-Islamiyah, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia memberikan komentar-komentar singkat yang menunjukkan kedalaman ilmunya.

Pengajaran-pengajaran, fatwa-fatwanya, dan nasihat-nasihatnya, bukan hanya dapat diikuti oleh kaum muslimin di Patani dan sekitarnya. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, kita pun dapat mengikutinya di internet. Mudah bagi kita untuk mengakses pengajian-pengajiannya atau kitab-kitabnya di dunia maya.

Apa yang disampaikannya dan ditulisnya telah nyata memberikan manfaat besar bagi umat.

Semoga Syaikh Ismail Sepanjang serta para ulama Patani dan sekitarnya dapat terus melanjutkan perjuangan para pendahulu mereka yang telah berjasa besar dalam mengembangkan Islam dan menghidupkan ilmu-ilmu keislaman di Nusantara. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberhasilan baginya dalam menjalankan tugas dakwah dan penyampaian ilmu-ilmu keislaman bagi muslimin di mana saja, terutama di Semenanjung Melayu.

SUMBER:

http://www.majalah-alkisah.com/index.php/tamu-kita/1008-tuan-guru-haji-ismail-sepanjang-penerus-tradisi-ulama-patani

Tuesday, 10 April 2012

Doa Basuhan Anggota Wudhu’ dan Selepas Wudhu’

1. Doa ketika membasuh dua pergelangan tangan:

اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِيكَ

Ertinya: Ya Allah, peliharalah kedua tanganku daripada melakukan maksiat kepadaMu.

 

2. Doa ketika berkumur:

اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ertinya: Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.

 

3. Doa ketika membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ  أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ

Ertinya: Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.

 

4. Doa ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

Ertinya: Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah dan hitamnya wajah-wajah.

 

5. Doa ketika basuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

Ertinya: Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.

 

6. Doa ketika membasuh tangan kiri:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

Ertinya: Ya Allah, janganlah beri kepadaku kitab amalanku dari sebelah kiri atau dari sebelah belakang.

 

8. Doa saat membasahi kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

Ertinya: Ya Allah, haramkan rambutku dan kulit  kepalaku daripada neraka.

 

9. Doa ketika membasuh dua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

Ertinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar ucapan yang baik dan mengikuti sesuatu yang terbaik.

 

10. Doa saat membasuh dua telapak kaki:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلاَقْدَامِ

Ertinya: Ya Allah, tetapkan kedua kakiku di atas titian shirothol mustaqim pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.

 

11. Doa setelah berwudhu:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدْ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَصَلَى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ

Ertinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci. Maha suci Engkau ya Allah dengan sifat kepujianMu. Aku menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan taubat kepadaMu. Dan selawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.







Rujukan:

Hasyiah al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim karangan Syaikh Ibrahim al-Bajuri,  cetakan Dar al-Ilmi Surabaya Indonesi, juz 1 hal. 58.

Monday, 2 April 2012

GERHANA BULAN



PENGERTIAN GERHANA

 

Gerhana, dalam bahasa Arab disebut dengan ‘kusuf’ atau ‘khusuf’.  ‘kusuf’ lebih dikenal untuk penyebut gerhana matahari (kusufususy syamsi) dan kata ‘khusuf’  lebih dikenal untuk penyebut gerhana bulan (khusuful qamar). Gerhana dalam bahasa Inggeris gerhana dikenal dengan istilah ‘Eclipse’. Gerhana dari segi istilah:’kusuf’’ ialah menutupi, sedangkan ‘khusuf’ bererti memasuki. ‘Kusufsy Syamsi’ menggambarkan bulan menutupi matahari, baik sebahagian maupun seluruhnya ‘khusuful qamar’ menggambarkan bulan memasuki bayangan bumi.

GERHANA ADALAH SATU BUKTI KEKUASAAN ALLAH

 

Pada pertengahan abad ke-17 (Masihi) tepat pada tahun 1686 Masihi Isaac Newton menemukan bahwa antara isi alam raya ini terjadi gaya tarik-menarik tetapi, antara benda-benda tersebut terjadi bertaburan berkat adanya gaya gerak saling menjauhi sehingga timbullah keseimbangan alam. Contoh Planet-planet mengelilingi  matahari menurut orbit masing-masing.

Keseimbangan dan keharmonian alam semesta ini sesungguhnya telah diberitahukan Allah kepada manusia  sajak 14 abad yang lampau, jauh  sebelum Isaac Newton dilahirkan.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman sebagai berikut:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ المِيْزَانَ

Ertinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)”  (Ar-Rahman: 7)

الشَّمْسُ وَالقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Ertinya: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan” (Ar-Rahman: 5)

 

GERHANA BULAN

 

Bumi beredar mengelilingi matahari dari Barat ke Timur dalam waktu setahun atau 365 hari, 05 jam, 48 minit dan 45.3 saat. Bulan beredar mengelilingi bumi dari Barat ke Timur dalam waktu 27 hari,07 jam, 43 minit dan 11.6 saat. Disamping bulan beredar mengelilingi bumi, bulan juga beredar bersama-sama bumi mengelilingi matahari.

Gerhana bulan berlaku apabila bumi berada sesatah dengan garisan bulan dengan matahari ketika fasa purnama.



 

 

 

 

bumi berada sesatah dengan garisan bulan dengan matahari

 

Cahaya matahari yang biasanya sampai sepenuhnya ke bulan, menjadi terhalang kerana terlindung oleh bumi.

Tompokan gelap di permukaan bulan adalah bayang-bayang bumi yang jatuh di permukaan bulan. Pergerakan  bumi  mengelilingi matahari akan mewujudkan dua kawasan zon bayangan, iaitu umbra dan penumbra.

 

JENIS-JENIS GERHANA

 

Jenis-jenis gerhana bulan ialah:

1) Gerhana warna

2) Gerhana penuh

3) Gerhana separa



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gerhana Warna

 

Berlaku apabila bulan memasuki hanya kawasan penumbra sahaja. Ia juga dinamakan gerhana penumbra.

Gerhana warna kelihatan bertukar dari bersinar ke warna putih suram.



    

    

 

 

 

 

 

Gerhana Warna

 

Gerhana Penuh:

 

Gerhana penuh berlaku apabila keseluruhan jasad bulan memasuki ke dalam kawasan umbra dan kelihatan terapung-apung di angkasa tanpa cahaya. Di bumi kelihatan berwarna merah tembaga, sebagai kesan pembalikan cahaya dari luar kawasan umbra. Peringkat gerhana bulan penuh bermula apabila bulan memasuki kawasan penumbra, selepas itu sedikit demi sedikit bulan memasuki kawasan umbra. Jangka masa bulan berada di kawasan umbra adalah di antara 50 hingga 102 minit.



Gerhana Penuh

 

Gerhana Separa

 

Berlaku apabila bulan memasuki hanya pada sebahagian sahaja kawasan umbra.



  

 

 

 

 

 

 

Gerhana Separa

 

 

SEMBAHYANG KUSUF (GERHANA MATAHARI DAN BULAN)

 

Sembahyang Kusuf adalah sunat Muakkad sama ada bagi orang yang bermukim atau musafir, merdeka atau hamba lelaki atau perempuan dan sama ada ditunaikan secara berjamaah atau bersendirian. Waktu Sembahyang Gerhana Matahari bermula apabila ternyata berlaku gerhana dan berakhir dengan hilangnya gerhana itu, dan sehingga jatuh matahari dengan gerhana tersebut. Bagi Sembahyang Gerhana Bulan waktunya bermula apabila ternyata berlaku gerhana bulan dan berakhir dengan hilang gerhana dan dengan naik matahari. Tidak dikira dengan naik fajar atau jatuhnya pada malam dengan gerhananya.

Lafaz niat Gerhana Matahari ialah:

أصلي سنة كسوف الشمس ركعتين لله تعالى

Ertinya: Sahaja aku sembahyang sunat Gerhana Matahari dua rakaat kerana Allah Ta’ala.

Lafaz niat Gerhana Bulan:

أصلي سنة خسوف القمر ركعتين لله تعالى

Ertinya: Sahaja aku Sembahyang Sunat Gerhana Bulan dua rakaat kerana Allah Ta’ala.



 

 

 

 

 

Kaifiat Sembahyang Gerhana adalah dilakukan dengan dua rakaat. Cara sekurang-kurangnya ialah dilakukannya dua rakaat seperti sunat Zohor. Yang akmalnya dilakukan sembahyang ini dengan dua kali ruku’ dan dua kali qiyam pada tiap-tiap satu rakaat dengan tidak dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat. Yang terlebih akmal dilakukan Sembahyang Kusuf dua rakaat dengan dua ruku’ dan dua qiyam, bagi tiap-tiap satu rakaaat, dengan dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat sembahyangnya.

Saturday, 24 March 2012

Secercah Cahaya Dari Seorang Sufi Agung Imam Ibnu 'Arabi Qaddasallahu Sirrah







Oleh: al-Ustadz al-Fadhil Falah al-Jambi al-Azhari 

 

 

Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Sebagian ulama ada yang mengatakan "Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi". Salah satu tuduhan yang terkenal adalah ajaran wihdatul wujud yang beliau kenalkan, Sehingga ketika nama wihdatul wujud disebutkan maka yang terlintas di telinga pendengar adalah nama Ibnu ‘Arabi, sang pencetus.

 

Pada kitab yang berjudul Min Aimmatil Muwahhidin Ibnu Arabi yang ditulis oleh al-Alamah al-Syekh Abdurahaman Hasan Mahmud terdapat banyak pembahasan ilmiah yang berkaitan dengan hal-hal kontroversi Ibnu ‘Arabi.

 

Pada dasarnya ungkapan al-Imam lebih banyak dipahami dengan pemahaman yang salah dari pada dipahami dengan pemahaman yang benar seperti apa yang diinginkan sang Imam. Hal itu disebabkan karena banyaknya orang-orang yang tidak kenal istilahat sufiyah membaca karya-karya sufiyah kemudian dia pahami sendiri tulisan para Sufi yang berkaitan degan hakikat atau adzwaq. Mereka tidak menyadari kaidah "Likulli Qaumin Mushthalahatuhum". Adapun untuk kaum sufi maka mereka sengaja mencampuri perkataan-perkataannya dengan al-ghazz (ungkapan-ungkapan teka-teki) atau at-tauriyah (perkataan-perkataan  yang memiliki banyak makna), dan yang mampu memahaminya adalah golongan mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan ini semata-mata karena mereka sulit untuk mengungkapkan perasaan hati (cinta kepada Allah) yang terkadang  membawa mereka kepada makam al-fana fillah dengan ungkapan yang jelas. Jika ada seorang laki-laki sangat mencintai seorang wanita kemudian dia memuja dan menyanjung kekasihnya tersebut maka kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki tersebut banyak mengandung unsur kekufuran. Dia akan mengatakan engkau segalanya bagiku, engkau hidup matiku, engkau nyawaku (ruhku), engkau adalah diriku dan aku adalah dirimu dan seterusnya. Adakah yang mempermasalahkan ungkapan tersebut?!

 

 

Termasuk latar belakang Syekh Abdurahman mengarang kitab ini adalah banyaknya tuduhan-tuduhan dusta yang dinisbatkan kepada imam Ibnu ‘Arabi.  Sedangakn Ibnu ‘Arabi adalah imam dalam ilmu Tasawuf. Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang tidak dapat difahami sendiri dengan modal membaca secara otodidak. Banyak ulama mengatakan bahwa imam Ibnu ‘Arabi memiliki perkataan yang berada pada tingkatan yang tinggi, tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang berada pada tingkatan beliau. Adapun Imam Ibnu Arabi beliau mengatakan sendiri “Man lam yasyrab masyrabana haruma 'alaihi qiro’atu kutubina": siapa yang tidak merasakan minuman kami (masuk dalam golongan  sufiyyah untuk mengikuti terbiyah) haram membaca buku-buku kami". Perkataan ini tertulis di dalam kitab Penulis pada halaman 11.

 

 

Beberapa keistimewaan kitab ini, adalah banyak menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan al-Imam yang dikutip dari kitab monumentalnya Futuhat Makiyah. Penulis selalu menukil perkataan para ulama sebelum menuliskan penjelasan pribadi. Kitab ini sulit untuk didapatkan karena kitab yang ada ditangan resentator adalah cetakan pribadi yang dicetak atas permintaan Maulaya Syekh Yousef Muhyidin al-Bakhur al-Hasani hafidzahullah. Adupun kekurangan kitab ini adalah sulitnya untuk dibaca dan dipahami sendiri tanpa ada penjelasan dan bimbingan dari seorang guru.

 

 

Diantara  pembahasan di dalam kitab ini adalah sebagai berikut:  Perkataan Ibnu ‘Arabi: “Asal semua ciptaan adalah tiga (Tatslits), satu tidak dapat menghasilkan sesuatu. Dua adalah awal dari pada bilangan dan dari dua tidak dapat menghasilkan sesuatu selama tidak ada unsur ketiga yang menghubungkan di antara keduanya.” Dari perkataan ini banyak keritikan yang ditujukan kepada Imam Ibnu ‘Arabi. Di antara ulama yang mengkritik adalah Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah. Beliau memberikan komentar: “Seumur hidup, saya belum pernah membaca perkataan yang lebih jelek dari ungkapan ini. Tidak diragukan lagi bahawasanya perkataan ini adalah justifiaksi diperbolehkannya akidah trinitas pada agama terdahulu (Nasrani). Sebagaimana firman Allah "Laqad Kafara al-ladzina qalu innallaha tsaalitsu tsalatsah". Sedangkan  Allah yang maha Esa berfirman "Allahu khaliqu kulli syai’in".

 

 

Munaqasyah: Ringkasan jawaban yang ditulis oleh Syeikh Abdurrahman adalah sebagai berikut, “Satu yang dimaksud oleh Imam Ibnu ‘Arabi adalah Dzat Allah. Dua yang dimaksud imam ‘Ibnu Arabi adalah Sifat Allah. Tiga yang dimaksud Ibnu ‘Arabi adalah Af'al Allah. Jadi yang dimaksud bahwa ciptaan itu bersumber dari tiga adalah segala ciptaan dihasilkan dari Af'al Allah bukan dari Dzat Allah, karena dzat Allah menghasilkan Sifat Allah, Sifat Allah menghasilkan Af'al Allah, dan Af'al Allah menghasilkan semua ciptaannya. Perkataan ini dikenal dengan istilah Tauhid Martabah. Penjelasan ini sesuai dengan syariat dan akal. Di dalam al-Quran banyak disebutkan af'al Allah yang memiliki makna menciptakan, memberi rezki, menurunkan rahmat dan lain-lain.

 

 

Sedangkan secara akal adalah jika makhluk keluar dari Dzat Allah maka makhluk itu adalah bagian daripada Allah dan dia memiliki sifat Qadim. Sebagaimama seorang anak adalah bagian dari dzat ayah dan ibu. Hal ini  tentu tidak sesuai dengan akidah islam. Oleh kernanya apa yang dimaksudtatslits (trinitas) dari ungkapan Ibnu ‘Arabi bukanlah trinitas yang difahami oleh Nasrani  yaitu Tuhan Bapa, Tuhan ibu Maryam,atau Ruh Qudus dan Tuhan Anak (Nabi Isa alaihi salam).

 

Tatslits yang dikenalkan Imam Ibnu Arabi sesugguhnya adalah pemahaman beliau dari kalimat Basmalah.


 بسم الله الرحمن الرحيم  . الله = الذات, الرحمن = الصفة ,الرحيم = الفعل..


 

pembahasan ini ada didalam kitab penulis dihalaman 29-33.

 

Kitab: Min Aimmatil Muwahhidin al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi

Tebal: 188 Hal

Penulis: Al-Syekh Abdurahman Hasan Mahmud

Cetakan: Pertama 1998 M

Percetakan: Maktabah Alamul Fikri

 

 





















Makam Sayidi Imam Ibnu 'Arabi al-Andalusi (dalam kaca) di Damaskus Suriah