Monday, 16 April 2012

TG Ismail Spanjang Penerus Tradisi Ulama' al-Fathoni

Ketawadhu’an, ketenangan, dan kehati-hatian menjadi ciri pembawaannya yang paling menonjol.



 




 

 

 

Bagi sebagian muslimin di Indonesia, apalagi bagi para penuntut ilmu agama, nama Patani bukanlah nama yang asing. Ia nama sebuah negeri Islam terkenal di Thailanda Selatan, yang selama berbada-abad menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Semenanjung Melayu.

Sebenarnya, selain Patani setidaknya ada tiga provinsi lain di Thailand Selatan yang juga didiami kaum muslimin dari bangsa Melayu, yaitu Yala, Naratiwat, dan Songkla. Tetapi tampaknya Patani yang paling dikenal luas di negeri-negeri lain, bahkan hingga di Timur Tengah.

Banyak ulama Patani yang terkenal, karya-karya mereka pun banyak. Siapa yang tak kenal Syaikh Daud bin Abdullah Al-Fathani, ulama Nusantara yang paling banyak menghasilkan karya fiqih dalam Madzhab Syafi`i? Ia ulama Nusantara pertama yang menulis fiqih Madzhab Syafi’i yang lengkap dalam seluruh judul kitab, bab, dan fasalnya, dengan kitabnya berjudul Hidayatul Muta`allim wa `Umdatul Mu'allim, yang ditulis tahun 1244 H/1828 M. Masih banyak lagi karya beliau.

Syaikh Daud bukan hanya satu-satunya ulama Patani yang terkenal dan yang menghasilkan karya-karya yang berbobot. Masih banyak nama besar yang lainnya yang tak cukup ruang di sini untuk menuliskan dan memmerincinya.

Di masa kini pun, tokoh-tokoh ulama Patani terus bermunculan melanjutkan estafet perjuangan para pendahlu mereka. Di antara tokoh ulama Patani sekarang yang dikenal luas di Thailand Selatan, bahkan meluas hingga negeri-negeri Melayu yang lain, adalah Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang.

Pertengahan bulan Februari yang lalu, selama sekitar 10 hari ia berada di Indonesia dalam rangka kunjungan dakwah dan silaturahim bersama beberapa ulama dan cendekiawan Thailand Selatan lainnya serta murid-murid mereka. Mereka mengunjungi beberapa tempat di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

alKisah sempat mengikuti dua hari terakhir perjalanan Syaikh Ismail Sepanjang dan rombongan di Indonesia, yaitu Jum’at tanggal 17 Februari, saat mereka mengunjungi penerbit kitab Dar Al-Kutub Al-Islamiyah di Kalibata, Jakarta Selatan, dan Sabtu tanggal 18 Februari, ketika menemui K.H. Dr. M. Hasyim Muzadi di pesantren yang diasuhnya, Pesantren Al-Hikam, yang berlokasi di Beji, Depok, Jawa Barat. Keesokan harinya, Ahad pagi, rombongan kembali ke Thailand.

Sejak pertama kali melihatnya, alKisah sudah sangat tertarik dengan sosoknya. Penampilannya, gerak-geriknya, tutur katanya, dan akhlaqnya menggambarkan sosok ulama yang sebenarnya. Ketawadhu’an, ketenangan, dan kehati-hatian menjadi ciri pembawaannya yang paling menonjol. Ia tak mau terburu-buru mengomentari sesuatu atau bicara tentang sesuatu, apalagi yang tak perlu atau tak benar-benar diketahuinya. Tak tampak kesombongan atau kebanggaan dengan ilmu yang dimiliki. Paduan dari berbagai ciri pribadinya itu memunculkan kewibawaan yang alami, yang tak dibuat-buat.



Orang-orang juga akan merasakan sesuatu yang lain bila mendengarkannya berdoa. Sangat menyentuh perasaan, seolah kita sendiri yang sedang membacanya di keheningan malam. Kalau tak ada keikhlasan dalam dirinya, tampaknya orang tak akan merasakan demikian. Itulah yang alKisah rasakan, dan mungkin juga dirasakan oleh yang lainnya, ketika mendengarnya membaca doa di akhir silaturahim rombongan dengan K.H. Dr. Hasyim Muzadi.

Kalimat demi kalimat dalam doanya terangkai dengan rapi, dengan ungkapan-ungkapan yang tertata dengan sangat baik dan dengan penuturan yang fasih.

Sesungguhnya pilihan-pilihan katanya dalam doanya itu bukanlah kata-kata yang asing atau yang sangat memukau dari segi keindahan bahasa. Sebagian besarnya kalimat-kalimat biasa yang sering didengar orang. Namun doa yang sama jika dibawakan oleh orang lain mungkin tak akan sampai terasa sangat menyentuh sebagaimana ketika dibawakan olehnya.

Sama seperti orang yang membuat dan menyajikan makanan. Jenis makanan yang sama, dengan resep yang sama, dan dengan ukuran bahan-bahan yang persis sama pula, namun dibuat dan disajikan oleh orang yang berbeda, akan terasa berbeda di lidah orang yang menikmatinya.

Caranya dalam berdoa dan berbagai ciri kepribadiannya mengingatkan alKisah kepada sosok Al-Maghfurlah K.H. M. Syafi`i Hadzami.

 

Pencinta Kitab



Syaikh Ismail Sepanjang dilahirkan tahun 1955 di Dusun Panjang, yang termasuk daerah Jambu, salah satu daerah di Patani. Sedangkan Patani, atau dalam kitab-kitab disebut “Fathani”, adalah salah satu provinsi di Thailand Selatan. Sebagaimana diketahui, mayoritas penduduk wilayah Thailand Selatan adalah bangsa Melayu dan beragama Islam. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Thailand, yang dihuni bangsa Siam yang beragama Buddha. Karena berasal dari Dusun Panjang, ia lebih dikenal dengan “Tuan Guru Haji Ismail Sepanjang” atau “Baba Ismail Sepanjang”.

Ayahnya bernama Wan Umar bin Wan Abdul Lathif bin Wan Abdul Karim, sedangkan ibunya Siti Khadijah binti Ismail. Keduanya berasal dari Patani, hanya saja datuk-datuk ibundanya berasal dari Johor, Malaysia. Syaikh Ismail adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua kakaknya perempuan.

Sebagaimana ulama-ulama Patani dan ulama-ulama Nusantara lainnya, ia pun belajar di pondok-pondok setempat. Jika sebagian ulama Patani setelah menyelesaikan pelajarannya melanjutkan pendidikannya di Timur Tengah atau tempat-tempat lain di luar negeri, tidak demikian dengan Syaikh Ismail. Ia tidak belajar ke luar negeri. Pendidikannya hanya di pondok-pondok di Patani, namun dijalani dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, dan dilalui dalam waktu yang lama.

Maka tak mengherankan jika hasilnya pun tak mengecewakan. Membanggakan. Meskipun produk lokal, keluasan dan kedalaman ilmunya dalam berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman tak kalah dengan lulusan-lulusan Timur Tengah.

Sebelum mengikuti pelajaran di pondok-pondok, di masa kanak-kanak ia belajar di sebuah sekolah kebangsaan, setingkat sekolah dasar di Indonesia. Selama enam tahun ia mengikuti pelajaran di tingkat dasar itu, empat tahun di kampungnya sendiri dan dua tahun berikutnya di Kampung Tanjong.

Karena berada di wilayah Thailand, tentu saja para pelajar sekolah kebangsaan, selain mempelajari ilmu-ilmu umum sebagaimana di negara-negara lain, juga mempelajari hal-hal khusus yang berkaitan dengan negaranya, terutama bahasa dan sejarah Siam. Karenanya, meskipun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah Thailand Selatan berbicara dalam bahasa Melayu, mereka pun dapat berbahasa Siam.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, barulah ia menimba ilmu di pondok-pondok di Patani. Pondok-pondok itu merupakan pesantren-pesantren tradisional yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dengan mengkaji kitab-kitab turats (kitab-kitab lama, peninggalan ulama masa lalu). Sebagian pesantren tradisional di Indonesia juga masih banyak yang demikian.

Pertama-tama ia belajar di sebuah pondok di kampungnya yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Abdul Lathif bin Haji Abdur Rahim. Kurang lebih tujuh tahun ia menimba ilmu di sini. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu dengan belajar di sebuah pondok di daerah Mayong, masih di wilayah Patani juga.

Kitab-kitab yang dipelajarinya sebagian besar sama dengan yang dipelajari di pondok-pondok di Indonesia. “Saat mempelajari ilmu nahwu, kami membaca kitabMukhtashar JiddanAl-KafrawiAl-Kawakibud-Durriyyah, dan lain-lain. Sedangkan ketika mempelajari ilmu sharaf, kitab-kitab yang dibaca di antaranya Al-Kailani. Dalam ilmu tauhid, yang biasa dibaca adalah kitab-kitab seperti Kifayatul AwamJauharatut-TauhidTijan Ad-DarariFathul Majid, dan lain-lain. Untuk ilmu fiqih, di antaranya Fathul QaribHasyiyah Al-BajuriFathul Mu`inI`anatuth-Thalibin. Untuk ushul fiqh, di antaranya Al-Waraqat dan Al-Luma` . Bagi tingkatan yang lebih lanjut, membaca Jam`ul Jawami`. Ada juga yang mempelajari Irsyadul Fuhul. Kitab-kitab itu selalu dibaca dan dipelajari, seolah-oleh menjadi wirid bagi kami,” begitu Syaikh Ismail menyebutkan beberapa kitab yang dipelajarinya saat menuntut ilmu di pondok.

Setelah menikah dan menunaikan haji, Syaikh Ismail mendirikan pondok. Maka kemudian hari-harinya pun diisi dengan kegiatan keilmuan dan dakwah. Dan bukan hanya di pondok yang dipimpinnya, melainkan juga di tengah-tengah masyarakat muslim Thailand Selatan hingga negeri-negeri di sekitarnya. Di hari-hari tertentu ia mengajar di masjid-masjid di Patani yang dihadiri oleh ribuan umat.

Kabarnya, kalau ia mengajar, beberapa jam sebelumnya orang sudah berkumpul bersiap-siap mendengarkan pengajaran, fatwa-fatwa, dan nasihat-nasihat yang disampaikan olehnya.



Di tengah-tengah kesibukannya mengajar, Syaikh Ismail masih dapat menghasilkan karya-karya, baik tulisannya sendiri maupun terjemahan atau ringkasan dari kitab-kitab yang ada. Karya-karyanya, selain dipelajari oleh para santrinya dan jama’ah pengajiannya, juga banyak digunakan oleh masyarakat muslim pada umumnya. Bukan hanya di Thailand Selatan, melainkan juga di negeri-negeri lain.

Apa yang diraihnya kini, yakni keluasan dan kedalamannya dalam ilmu-ilmu keislaman, selain berkat kesungguhan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu serta doa dari orangtua dan guru-gurunya, juga tak terlepas dari kecintaannya kepada kitab-kitab. Kecintaan dan kegemarannya akan kitab-kitab sangat tampak dan ia sendiri juga menuturkannya.

Saat mengunjungi ruang pameran kitab Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, secara bergurau ia menggambarkan kegemarannya itu. “Kami jika berada di toko kitab seperti ini tak ubahnya seperti perempuan-perempuan saat sedang berada di toko pakaian. Tak mau cepat-cepat beranjak.”

Begitu pun ketika sedang mendengarkan penjelasan Habib Alwi Abubakar Assegaf mengenai proses pentahqiqan kitab yang dilakukan di Darul Kutub Al-Islamiyah, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia memberikan komentar-komentar singkat yang menunjukkan kedalaman ilmunya.

Pengajaran-pengajaran, fatwa-fatwanya, dan nasihat-nasihatnya, bukan hanya dapat diikuti oleh kaum muslimin di Patani dan sekitarnya. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, kita pun dapat mengikutinya di internet. Mudah bagi kita untuk mengakses pengajian-pengajiannya atau kitab-kitabnya di dunia maya.

Apa yang disampaikannya dan ditulisnya telah nyata memberikan manfaat besar bagi umat.

Semoga Syaikh Ismail Sepanjang serta para ulama Patani dan sekitarnya dapat terus melanjutkan perjuangan para pendahulu mereka yang telah berjasa besar dalam mengembangkan Islam dan menghidupkan ilmu-ilmu keislaman di Nusantara. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberhasilan baginya dalam menjalankan tugas dakwah dan penyampaian ilmu-ilmu keislaman bagi muslimin di mana saja, terutama di Semenanjung Melayu.

SUMBER:

http://www.majalah-alkisah.com/index.php/tamu-kita/1008-tuan-guru-haji-ismail-sepanjang-penerus-tradisi-ulama-patani

Tuesday, 10 April 2012

Doa Basuhan Anggota Wudhu’ dan Selepas Wudhu’

1. Doa ketika membasuh dua pergelangan tangan:

اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِيكَ

Ertinya: Ya Allah, peliharalah kedua tanganku daripada melakukan maksiat kepadaMu.

 

2. Doa ketika berkumur:

اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ertinya: Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.

 

3. Doa ketika membasuh hidung:

اَللَّهُمَّ  أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ

Ertinya: Ya Allah, berilah aku ciuman daripada haruman bau Syurga.

 

4. Doa ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

Ertinya: Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari putihnya wajah-wajah dan hitamnya wajah-wajah.

 

5. Doa ketika basuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا

Ertinya: Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.

 

6. Doa ketika membasuh tangan kiri:

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

Ertinya: Ya Allah, janganlah beri kepadaku kitab amalanku dari sebelah kiri atau dari sebelah belakang.

 

8. Doa saat membasahi kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

Ertinya: Ya Allah, haramkan rambutku dan kulit  kepalaku daripada neraka.

 

9. Doa ketika membasuh dua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

Ertinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar ucapan yang baik dan mengikuti sesuatu yang terbaik.

 

10. Doa saat membasuh dua telapak kaki:

اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اْلاَقْدَامِ

Ertinya: Ya Allah, tetapkan kedua kakiku di atas titian shirothol mustaqim pada hari dimana banyak kaki-kaki yang tergelincir.

 

11. Doa setelah berwudhu:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدْ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَصَلَى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ

Ertinya: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusanNya. Ya Allah! Jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci. Maha suci Engkau ya Allah dengan sifat kepujianMu. Aku menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan taubat kepadaMu. Dan selawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.







Rujukan:

Hasyiah al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim karangan Syaikh Ibrahim al-Bajuri,  cetakan Dar al-Ilmi Surabaya Indonesi, juz 1 hal. 58.

Monday, 2 April 2012

GERHANA BULAN



PENGERTIAN GERHANA

 

Gerhana, dalam bahasa Arab disebut dengan ‘kusuf’ atau ‘khusuf’.  ‘kusuf’ lebih dikenal untuk penyebut gerhana matahari (kusufususy syamsi) dan kata ‘khusuf’  lebih dikenal untuk penyebut gerhana bulan (khusuful qamar). Gerhana dalam bahasa Inggeris gerhana dikenal dengan istilah ‘Eclipse’. Gerhana dari segi istilah:’kusuf’’ ialah menutupi, sedangkan ‘khusuf’ bererti memasuki. ‘Kusufsy Syamsi’ menggambarkan bulan menutupi matahari, baik sebahagian maupun seluruhnya ‘khusuful qamar’ menggambarkan bulan memasuki bayangan bumi.

GERHANA ADALAH SATU BUKTI KEKUASAAN ALLAH

 

Pada pertengahan abad ke-17 (Masihi) tepat pada tahun 1686 Masihi Isaac Newton menemukan bahwa antara isi alam raya ini terjadi gaya tarik-menarik tetapi, antara benda-benda tersebut terjadi bertaburan berkat adanya gaya gerak saling menjauhi sehingga timbullah keseimbangan alam. Contoh Planet-planet mengelilingi  matahari menurut orbit masing-masing.

Keseimbangan dan keharmonian alam semesta ini sesungguhnya telah diberitahukan Allah kepada manusia  sajak 14 abad yang lampau, jauh  sebelum Isaac Newton dilahirkan.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman sebagai berikut:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ المِيْزَانَ

Ertinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)”  (Ar-Rahman: 7)

الشَّمْسُ وَالقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

Ertinya: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan” (Ar-Rahman: 5)

 

GERHANA BULAN

 

Bumi beredar mengelilingi matahari dari Barat ke Timur dalam waktu setahun atau 365 hari, 05 jam, 48 minit dan 45.3 saat. Bulan beredar mengelilingi bumi dari Barat ke Timur dalam waktu 27 hari,07 jam, 43 minit dan 11.6 saat. Disamping bulan beredar mengelilingi bumi, bulan juga beredar bersama-sama bumi mengelilingi matahari.

Gerhana bulan berlaku apabila bumi berada sesatah dengan garisan bulan dengan matahari ketika fasa purnama.



 

 

 

 

bumi berada sesatah dengan garisan bulan dengan matahari

 

Cahaya matahari yang biasanya sampai sepenuhnya ke bulan, menjadi terhalang kerana terlindung oleh bumi.

Tompokan gelap di permukaan bulan adalah bayang-bayang bumi yang jatuh di permukaan bulan. Pergerakan  bumi  mengelilingi matahari akan mewujudkan dua kawasan zon bayangan, iaitu umbra dan penumbra.

 

JENIS-JENIS GERHANA

 

Jenis-jenis gerhana bulan ialah:

1) Gerhana warna

2) Gerhana penuh

3) Gerhana separa



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gerhana Warna

 

Berlaku apabila bulan memasuki hanya kawasan penumbra sahaja. Ia juga dinamakan gerhana penumbra.

Gerhana warna kelihatan bertukar dari bersinar ke warna putih suram.



    

    

 

 

 

 

 

Gerhana Warna

 

Gerhana Penuh:

 

Gerhana penuh berlaku apabila keseluruhan jasad bulan memasuki ke dalam kawasan umbra dan kelihatan terapung-apung di angkasa tanpa cahaya. Di bumi kelihatan berwarna merah tembaga, sebagai kesan pembalikan cahaya dari luar kawasan umbra. Peringkat gerhana bulan penuh bermula apabila bulan memasuki kawasan penumbra, selepas itu sedikit demi sedikit bulan memasuki kawasan umbra. Jangka masa bulan berada di kawasan umbra adalah di antara 50 hingga 102 minit.



Gerhana Penuh

 

Gerhana Separa

 

Berlaku apabila bulan memasuki hanya pada sebahagian sahaja kawasan umbra.



  

 

 

 

 

 

 

Gerhana Separa

 

 

SEMBAHYANG KUSUF (GERHANA MATAHARI DAN BULAN)

 

Sembahyang Kusuf adalah sunat Muakkad sama ada bagi orang yang bermukim atau musafir, merdeka atau hamba lelaki atau perempuan dan sama ada ditunaikan secara berjamaah atau bersendirian. Waktu Sembahyang Gerhana Matahari bermula apabila ternyata berlaku gerhana dan berakhir dengan hilangnya gerhana itu, dan sehingga jatuh matahari dengan gerhana tersebut. Bagi Sembahyang Gerhana Bulan waktunya bermula apabila ternyata berlaku gerhana bulan dan berakhir dengan hilang gerhana dan dengan naik matahari. Tidak dikira dengan naik fajar atau jatuhnya pada malam dengan gerhananya.

Lafaz niat Gerhana Matahari ialah:

أصلي سنة كسوف الشمس ركعتين لله تعالى

Ertinya: Sahaja aku sembahyang sunat Gerhana Matahari dua rakaat kerana Allah Ta’ala.

Lafaz niat Gerhana Bulan:

أصلي سنة خسوف القمر ركعتين لله تعالى

Ertinya: Sahaja aku Sembahyang Sunat Gerhana Bulan dua rakaat kerana Allah Ta’ala.



 

 

 

 

 

Kaifiat Sembahyang Gerhana adalah dilakukan dengan dua rakaat. Cara sekurang-kurangnya ialah dilakukannya dua rakaat seperti sunat Zohor. Yang akmalnya dilakukan sembahyang ini dengan dua kali ruku’ dan dua kali qiyam pada tiap-tiap satu rakaat dengan tidak dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat. Yang terlebih akmal dilakukan Sembahyang Kusuf dua rakaat dengan dua ruku’ dan dua qiyam, bagi tiap-tiap satu rakaaat, dengan dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat sembahyangnya.

Saturday, 24 March 2012

Secercah Cahaya Dari Seorang Sufi Agung Imam Ibnu 'Arabi Qaddasallahu Sirrah







Oleh: al-Ustadz al-Fadhil Falah al-Jambi al-Azhari 

 

 

Ibnu ‘Arabi adalah sosok sufi yang banyak mendapatkan kritikan dan tuduhan tajam. Sebagian ulama ada yang mengatakan "Ma Ikhtalafal ulama’u fi ahadin ka ikhtilafihim fi Muhyidin Ibnu ‘Arabi". Salah satu tuduhan yang terkenal adalah ajaran wihdatul wujud yang beliau kenalkan, Sehingga ketika nama wihdatul wujud disebutkan maka yang terlintas di telinga pendengar adalah nama Ibnu ‘Arabi, sang pencetus.

 

Pada kitab yang berjudul Min Aimmatil Muwahhidin Ibnu Arabi yang ditulis oleh al-Alamah al-Syekh Abdurahaman Hasan Mahmud terdapat banyak pembahasan ilmiah yang berkaitan dengan hal-hal kontroversi Ibnu ‘Arabi.

 

Pada dasarnya ungkapan al-Imam lebih banyak dipahami dengan pemahaman yang salah dari pada dipahami dengan pemahaman yang benar seperti apa yang diinginkan sang Imam. Hal itu disebabkan karena banyaknya orang-orang yang tidak kenal istilahat sufiyah membaca karya-karya sufiyah kemudian dia pahami sendiri tulisan para Sufi yang berkaitan degan hakikat atau adzwaq. Mereka tidak menyadari kaidah "Likulli Qaumin Mushthalahatuhum". Adapun untuk kaum sufi maka mereka sengaja mencampuri perkataan-perkataannya dengan al-ghazz (ungkapan-ungkapan teka-teki) atau at-tauriyah (perkataan-perkataan  yang memiliki banyak makna), dan yang mampu memahaminya adalah golongan mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan ini semata-mata karena mereka sulit untuk mengungkapkan perasaan hati (cinta kepada Allah) yang terkadang  membawa mereka kepada makam al-fana fillah dengan ungkapan yang jelas. Jika ada seorang laki-laki sangat mencintai seorang wanita kemudian dia memuja dan menyanjung kekasihnya tersebut maka kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki tersebut banyak mengandung unsur kekufuran. Dia akan mengatakan engkau segalanya bagiku, engkau hidup matiku, engkau nyawaku (ruhku), engkau adalah diriku dan aku adalah dirimu dan seterusnya. Adakah yang mempermasalahkan ungkapan tersebut?!

 

 

Termasuk latar belakang Syekh Abdurahman mengarang kitab ini adalah banyaknya tuduhan-tuduhan dusta yang dinisbatkan kepada imam Ibnu ‘Arabi.  Sedangakn Ibnu ‘Arabi adalah imam dalam ilmu Tasawuf. Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang tidak dapat difahami sendiri dengan modal membaca secara otodidak. Banyak ulama mengatakan bahwa imam Ibnu ‘Arabi memiliki perkataan yang berada pada tingkatan yang tinggi, tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang berada pada tingkatan beliau. Adapun Imam Ibnu Arabi beliau mengatakan sendiri “Man lam yasyrab masyrabana haruma 'alaihi qiro’atu kutubina": siapa yang tidak merasakan minuman kami (masuk dalam golongan  sufiyyah untuk mengikuti terbiyah) haram membaca buku-buku kami". Perkataan ini tertulis di dalam kitab Penulis pada halaman 11.

 

 

Beberapa keistimewaan kitab ini, adalah banyak menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan al-Imam yang dikutip dari kitab monumentalnya Futuhat Makiyah. Penulis selalu menukil perkataan para ulama sebelum menuliskan penjelasan pribadi. Kitab ini sulit untuk didapatkan karena kitab yang ada ditangan resentator adalah cetakan pribadi yang dicetak atas permintaan Maulaya Syekh Yousef Muhyidin al-Bakhur al-Hasani hafidzahullah. Adupun kekurangan kitab ini adalah sulitnya untuk dibaca dan dipahami sendiri tanpa ada penjelasan dan bimbingan dari seorang guru.

 

 

Diantara  pembahasan di dalam kitab ini adalah sebagai berikut:  Perkataan Ibnu ‘Arabi: “Asal semua ciptaan adalah tiga (Tatslits), satu tidak dapat menghasilkan sesuatu. Dua adalah awal dari pada bilangan dan dari dua tidak dapat menghasilkan sesuatu selama tidak ada unsur ketiga yang menghubungkan di antara keduanya.” Dari perkataan ini banyak keritikan yang ditujukan kepada Imam Ibnu ‘Arabi. Di antara ulama yang mengkritik adalah Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah. Beliau memberikan komentar: “Seumur hidup, saya belum pernah membaca perkataan yang lebih jelek dari ungkapan ini. Tidak diragukan lagi bahawasanya perkataan ini adalah justifiaksi diperbolehkannya akidah trinitas pada agama terdahulu (Nasrani). Sebagaimana firman Allah "Laqad Kafara al-ladzina qalu innallaha tsaalitsu tsalatsah". Sedangkan  Allah yang maha Esa berfirman "Allahu khaliqu kulli syai’in".

 

 

Munaqasyah: Ringkasan jawaban yang ditulis oleh Syeikh Abdurrahman adalah sebagai berikut, “Satu yang dimaksud oleh Imam Ibnu ‘Arabi adalah Dzat Allah. Dua yang dimaksud imam ‘Ibnu Arabi adalah Sifat Allah. Tiga yang dimaksud Ibnu ‘Arabi adalah Af'al Allah. Jadi yang dimaksud bahwa ciptaan itu bersumber dari tiga adalah segala ciptaan dihasilkan dari Af'al Allah bukan dari Dzat Allah, karena dzat Allah menghasilkan Sifat Allah, Sifat Allah menghasilkan Af'al Allah, dan Af'al Allah menghasilkan semua ciptaannya. Perkataan ini dikenal dengan istilah Tauhid Martabah. Penjelasan ini sesuai dengan syariat dan akal. Di dalam al-Quran banyak disebutkan af'al Allah yang memiliki makna menciptakan, memberi rezki, menurunkan rahmat dan lain-lain.

 

 

Sedangkan secara akal adalah jika makhluk keluar dari Dzat Allah maka makhluk itu adalah bagian daripada Allah dan dia memiliki sifat Qadim. Sebagaimama seorang anak adalah bagian dari dzat ayah dan ibu. Hal ini  tentu tidak sesuai dengan akidah islam. Oleh kernanya apa yang dimaksudtatslits (trinitas) dari ungkapan Ibnu ‘Arabi bukanlah trinitas yang difahami oleh Nasrani  yaitu Tuhan Bapa, Tuhan ibu Maryam,atau Ruh Qudus dan Tuhan Anak (Nabi Isa alaihi salam).

 

Tatslits yang dikenalkan Imam Ibnu Arabi sesugguhnya adalah pemahaman beliau dari kalimat Basmalah.


 بسم الله الرحمن الرحيم  . الله = الذات, الرحمن = الصفة ,الرحيم = الفعل..


 

pembahasan ini ada didalam kitab penulis dihalaman 29-33.

 

Kitab: Min Aimmatil Muwahhidin al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi

Tebal: 188 Hal

Penulis: Al-Syekh Abdurahman Hasan Mahmud

Cetakan: Pertama 1998 M

Percetakan: Maktabah Alamul Fikri

 

 





















Makam Sayidi Imam Ibnu 'Arabi al-Andalusi (dalam kaca) di Damaskus Suriah






Kepentingan Tasawwuf di Dalam Islam

Pendahuluan                                                                                                                                    


Pelbagai definisi Tasawwuf dari segi bahasa yang dikemukakan oleh ulama’-ulama’ antaranya ialah sufah,  suf,  suffah ,  suffi, sof, sofwah, sof, sufanah,sufah al-qafa, sofa’ namun perkataan sofa’  yang bermaksud suci  adalah pendapat yang sohih dan dipersetujui oleh kebanyakan ulama’berdasarkan kekuatannya dari segi bahasa. Adapun definisi Tasawwuf dari sudut istilah juga mempunyai pelbagai  penta’rifan bahkan mencapai sehingga dua ribu penta’rifan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikh Zarruq r.a. Wujudnya pelbagai definisi Tasawwuf  di kalangan ulama’-ulama’ adalah berdasarkan pengalaman rohani yang mereka alami dalam mujahadah mereka menuju kepada Allah.  Syeikh Ahmad Zarruq rh mendefinisikan Tasawwuf sekaligus mengklasifikasikan ilmu Tasawwuf, Feqah, Usuluddin yang menjadi kewajipan terhadap semua mukallaf mempelajari dan mengamalkan ketiga-tiga ilmu tersebut, “Tasawwuf ialah suatu ilmu bertujuan memperbaiki hati dan mentafridkannya hanya kepada Allah Ta’ala semata-mata tanpa yang lain. Ilmu Feqah bertujuan membetulkan amalan, menjaga peraturan dan menzahirkan hikmah terhadap hukum hakam, Ilmu Usul (lmu Tauhid) untuk memantapkan muqaddimah keimanan dengan dalil-dalil serta menghiasi iman dengan keyakinan, ia seumpama ilmu peubatan yang bertujuan menjaga badan, ilmu nahu yang memperbetulkan lidah serta bermacam-macam lagi ilmu yang lain”.

Kepentingan Tasawwuf Di Dalam Mencapai Maqam Ihsan 

Tasawwuf adalah sebahagian daripada agama Islam yang tidak boleh dipisahkan oleh mana-mana individu muslim kerana berdasarkan sebuah hadith[1] Rasulullah S.A.W  yang menceritakan tentang pertanyaan Jibril a.s tentang Islam, Iman dan Ihsan  sehigga kemudiannya baginda S.A.W bersabda kepada para sahabat “Ini adalah Jibril as, ia datang kepada kamu untuk mengajar tentang agamamu”  menjadikan maqam Ihsan sebagai “Din” cara hidup dan merupakan salah satu rukun agama yang tiga.

Dalam hadith Nabi S.A.W  ini disebut “An Ta’budallah” bermaksud: “Kamu menyembah atau beribadat kepada Allah”. Beribadat kepada Allah, tentulah berdasarkan kepada Iman dan Islam. Ini bermakna, ibadah itu merupakan penghayatan ilmu tauhid dan feqah. Menurut Hadith tersebut , ibadah itu jika dapat ditingkatkan sehingga mendapat pengalaman rasa seakan-akan atau seolah-olah melihat atau menyaksikan hakikat Allah, maka pengalaman rasa seakan-akan melihat Allah itulah ihsan yang dikenali sebagai Tasawwuf atau Tariqah. Oleh sebab  itulah, maka ilmu Tasawwuf  atau Tariqah[2] dianggap sebagai ilmu rasa (ilmu zauqi) yang mana menurut Imam  Ghazali r.a., tidak dapat dicapai dengan jalan mendengar atau ta’lim seperti ilmu-ilmu yang lain kecuali dengan zauq dan suluk sahaja. Apabila ibadah itu telah sampai ke peringkat zauq, maka ibadah itu akan bertukar menjadi ubudiyyah.[3]

Seorang penulis Islam yang terkenal iaiu Syeikh Ahmad Asy-Syarbashi yang juga merupakan salah seorang tenaga pengajar di Al-Azhar Asy-Syarif telah menyebut di dalam majalah Al- Ishhah Al-Ijtimaie di bawah tajuk; Akhlak  di Sisi Kaum Sufi. Setelah beliau memperkatakan tentang Tasawwuf, taarif serta asal usulnya, beliau menyebut: “Aku yakin dan berpegang bahawa hakikat Tasawwuf” yang sempurna adalah martabat Ihsan yang telah digariskan oleh Rasul Islam Sayyidina Muhammad ‘alaihisshalatu wassalam dalam hadis Jibril iaitu ketika baginda mengatakan:

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك.[4]


Gerakan tariqah mempunyai peranan dan pengaruh yang mendalam dalam dakwah Islam di Malaysia semenjak dahulu hingga kini. Dengan metod, kaedah dan uslub yang khusus untuk merealisasikan tawhid hakiki melalui kalimah syahadah La Ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah S.A.W., ahli tariqah menghayati rahsia tawhid hingga ke darjat maqam al-ihsan, sejajar dengan hadis Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:

“Ihsan itu, hendaklah kamu beribadat kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya, sekalipun kamu tidak dapat melihatNya, maka sesungguhNya Dia melihat mu.”[5]

Ilmu usuluddin dan Ilmu feqah kesempurnaannya adalah dengan Ilmu Tasawwuf.  Ilmu usuluddin untuk mengesahkan Iman.Ilmu feqah untuk mengesahkan Amal manakala Ilmu Tasawwuf untuk menjernihkan Iman dan Amal. Kalau alim Ilmu usuluddin, Ilmu feqah tetapi tidak ada Ilmu Tasawwuf tidak beramal  seperti bersifat dengan sifat riya’, ‘ujub,takabbur, mencari ‘aib orang lain,mencari kelemahan orang, dan mencari kesalahan orang maka tidak sempurna imannya dan islamnya.
مقام الإحسان شرط لكمال الإيمان والإسلام
Maqam Ihsan merupakan SYARAT bagi kesempurnaan Iman dan Islam.

Walaupun maqam Ihsan merupakan pelengkap dan penyempurna Iman dan Islam namun harus diingat untuk menceburi di dalam bidang Tasawwuf  mestilah terlebih dahulu melalui ilmu syariat  yang terdiri daripada Feqah dan Usuluddin. Dikhuatiri apabila seseorang terus berada di dalam bidang Tasawwuf tanpa mengetahul ilmu syariat dan beramal dengannya maka ia boleh membahayakan dirinya kerana akan tertipu dek kerana berasa tinggi akan ilmu dan amalnya tanpa perlu melalui syariat dan juga telah merasa kelazatan di dalam Tasawwuf yang membuatkannya malas untuk melalui perjalanan ilmu Syariat yang dituntut supaya mempelajarinya.  Dikhuatiri dia terperangkap dengan tipu daya syaitan bahawa merasakan amalannya itu diterima oleh Allah S.W.T. Di sinilah pentingnya ilmu Syariat sebagai kayu ukur untuk mengetahui dan menilai sama ada amal ‘ibadat kita itu sah di sisi Allah S.W.T ataupun tidak.

Dan diketahui daripada demikian itu, bahawa Tasawwuf  adalah Ihsan yang disebut di dalam hadith Jibril ‘Alaihi as Salam sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W:  ((Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya, jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu)). Maka sesungguhnya Ihsan itu disebut selepas Islam dan Iman, dan pada demikian itu berkata oleh al-Imam Ahmad bin Abi Bakar bin Sumait “dan adapun Tasawwuf itu maka tidak dianggap seseorang itu sebagai ahlinya tanpa dia faqih (di dalam ilmu Syariat), dan sesungguhnya Syari’ (Allah) telah menerangkan Islam dan Iman dahulu sebelum Ihsan sebagaimana yang telah disebutkan  di dalam hadith  Jibril ‘alaihi as-Salam maka jadilah di dalam menuntut ilmu juga seperti yang demikian itu (yakni mempelajari Ilmu Islam iaitu Feqah dan Ilmu Iman iaitu Tauhid dahulu daripada Ihsan iaitu Ilmu Tasawwuf). Telah berkata oleh Imam al-Ghazali  “Sesiapa yang berilmu kemudian bertasawwuf maka dia telah berjaya, dan sesiapa yang bertasawwuf  sebelum menjadi faqih maka membahayakan akan dirinya.”[6]

Kepentingan Tasawwuf di Dalam Pembersihan Hati

 

Taklif syara’ yang diperintahkan kepada manusia iaitu yang khusus pada dirinya merujuk kepada dua bahagian:-

  1. Hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan zhahir .

  2. Hukum-hukum yang berkaitan dengan amalan batin.


Atau dengan lain perkataan;

  1. Hukum hakam yang bersangkut paut dengan tubuh badan manusia.

  2. Amalan-amalan yang bersangkut paut dengan hati.


Amalan tubuh badan mempunyai dua jenis iaitu yang berupa suruhan dan larangan. Suruhan Allah adalah seperti solat, haji, dan sebagainya manakala larangan pula seperti membunuh, berzina, mencuri, minum arak dan seumpama dengannya. Amalan hati juaga ada yang berupa suruhan dan ada pula yang berupa larangan. Suruhan seperti beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul seluruhnya dan banyak lagi. Juga seperti ikhlas, redha, benar, khusyu’, tawakkal, dan sebagainya. Tegahan pula seperti kufur nifaq, bangga diri, sombong, riya’, tipu daya, hasad dengki dan banyak lagi. Sekalipun kedua-duanya dikira penting di sisi syara’  tetapi bahagian kedua yang berkaitan dengan hati ini adalah lebih penting jika dibandingkan  dengan bahagian yang pertama. Ini kerana yang batin adalah asas kepada yang zahir serta sumbernya, amalan batin juga punca amalan zahir. Kerosakan amalan batin mengurangkan kualiti amalan zahir. [7]

Menurut Mufti Besar Mesir, Syaikh Dr. Ali Jum’ah,  Tasawwuf merupakan program tarbiyah yang mementingkan penyucian jiwa  dari segala penyakitnya yang menghijab manusia daripada Allah S.W.T. Ilmu Tasawwuf juga bertujuan memperbetulkan dan memperbaiki penyelewengan jiwa dan akhlak yang berkaitan dengan hubungan seseorang insan dengan Allah, hubungan dengan masyarakat dan hubungan dengan diri sendiri  . [8]

Hidup ber’ibadah dan memuji-muji Allah itu meminta Ruhaniah manusia itu suci. Ini meminta kehidupan seorang itu suci. Cara-cara hidup suci mempunyai ketentuan-ketentuan yang luas, dan inilah yang menjadi lapangan Tasawwuf. Bagaimana supaya apa pun pekerjaan manusia itu, dengan pekerjaan itu ia dapt menambah suci hatinya kepada Tuhannya, ini pekerjaan Tasawwuf.[9]

Terdapat banyak dalil-dalil syara’ yang menunjukkan kedudukan hati di sisi Allah S.W.T. Antaranya ialah

فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَلِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ  أَحَدَا


"Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia beramal dengan amalan yang soleh dan janganlah dia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.[10]

يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ (88) إِلاَّ مَن أَتَى الَّلهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)


Pada hari yang tidak bermanfaat harta benda dan anak pinak melainkan orang yang datang menemui Allah dengan hati yang sejahtera”.[11]

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب.


Ingatlah bahawa pada jasad itu terdapat seketul daging , apabila daging itu baik maka baiklah jasad seluruhnya dan apabila ia rosak maka rosaklahjasad seluruhnya, ingatlah bahawa itu adalah hati.[12] 

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله لا ينظر أجسادكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم.


Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh badan kamu dan tidak pula kepada rupa parasmu akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.[13]

 

            Betapa nilainya kedudukan hati seseorang di sisi Allah sehingga di dalam syarat untuk diterima amal ibadat seseorang itu juga berkaitan dengan hati umpama ikhlas dan khusyu’ di dalam solat. Berdasarkan Firman Allah:

وأقم الصلاة لذكري (14: طه) .


Bermaksud: Dan dirikanlah sembahyang untuk mengingatiKu.

فويل للمصلين، الذين هم عن صلاتهم ساهون (4-5: الماعون).


Bermaksud: Maka kecelakaan besar bagi orang-orang yang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solat mereka.

Dan Sabda Rasulullah s.a.w:

"إن العبد ليصلي الصلاة لا يكتب له سدسها ولا عشرها، وإنما يكتب للعبد من صلاته ما عقل منها".


Bermaksud: Sesungguhnya hamba bersembahyang ia, padahal tidak ditulis padanya pahala:

Seperenam pun tidak, dan sepersepuluh pun tidak; hanya sanya ditulis untuk hamba itu pahala mengikut apa yang diingatkan oleh akalnya dari ‘ibadat sembahyangnya. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, an-Nasaie dan Ibnu Hibban).

Andai hanya solat sah dari segi zahir tetapi batinnya tidak khusyu’ atau mempunya sifat riya’ atau takabbur maka hanya kepenatan jua yang akan diperolehinya sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W:

"كم من قائم حظه من صلاته التعب والنصب".


Bermaksud: Berapa ramai orang yang mendirikan sembahyang adalah habuan daripada sembahyangnya hanyalah kepenatan dan keletihan jua. (Hadith riwayat Ibnu Majah).

Membersihkan hati dan mendidik diri adalah diantara sepenting-penting fardhu ‘ain dan sewajib-wajib suruhan Ilahi berdasarkan dalil apa yang terdapat dalam al-Quran, Sunnah, serta kata-kata ulama’:-[14]

Dalil Al-Quran

  1. Firman Allah S.W.T.:


قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ..


“Ketahuilah bahawa sesungguhnya Tuhanku mengharamkan perkara-perkara yang keji, apa yang zahir daripadanya dan apa yang batin”.[15]

  1. Firman Allah S.W.T. lagi:


وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ


“ Janganlah kamu menghampiri perkara-perkara yang keji apa yang zahir daripadanya dan apa yang batin”.

Kekejian batin sebagaimana yang disebut  oleh mufassirin ialah hasad dengki, riya’, nifaq dan sebagainya.

Dalil As-Sunnah

  1. Dalilnya adalah semua hadis yang menyebut tentang hasad dengki, besar diri, riya’, iri hati dan sebagainya. Juga hadis-hadis yang menyuruh menghiasi diri dengan akhlak yang mulia serta muamalat yang baik maka rujuklah pada tempat-tempatnya.



  1. Hadis Rasulullah S.A.W.:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الإيمان بضع وسبعون شعبة، فأعلاها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان.


“Iman itu lebih daripada tujuh puluh bahagian, yang paling tinggi ialah kata-kata: Laa Ilaha illallah dan yang paling rendah ialah membuang benda yang menyakitkan dari jalan. Dan malu itu sebahagian daripada iman.”

 

Kesempurnaan iman terletak pada kesempurnaan  bahagian-bahagian tersebut serta menghiasi diri dengannya. Pertambahan iman juga bergantung kepada pertambahan sifat-sifat tersebut sementara penurunan iman pula adalah dengan berkurangnya perkara tersebut. Penyakit batin sahaja sudah cukup untuk menghapuskan amalan manusia walaupun amalan itu banyak.

Dalil Daripada Kata-kata Ulama’

Berkata al-Faqihul Kabir al-‘Allamah Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiahnya yang masyhur: “Tegasnya ilmu ikhlas, ‘ujub, hasad dan riya’ adalah fardhu ‘ain. Begitu juga dengan sifat-sifat yang membinasakan jiwa seperti sombong, loba, hasad dengki, menipu, marah, perbalahan, permusuhan, tamak, bakhil, sombong, bermegah-megah, tipu menipu, angkuh daripada menerima kebenaran, tipu daya, keras hati, panjang angan-angan dan sebagainya yang telah jelas terdapat pada Kitab Ihya’ dalam tajuk perkara-perkara yang membinasakan. Tentang perkara tersebut Imam al-Ghazali berkata: “Manusia tidak akan terlepas daripadanya, maka wajib ia mempelajari perkara tersebut iaitu apa yang dianggap dirinya berhajat kepadanya. Menghilangkan penyakit hati adalah fardhu ‘ain. Tidak mungkin akan dapat menghilangkannya kecuali dengan mengetahui had batasannya, sebab-sebab, tanda-tanda serta cara mengubatinya. Sesiapa yang tidak mengenal kejahatan pasti terjebak ke dalamnya”.

Pengarang kitab Maraqi al-Falah pula berkata: “Thaharah atau penyucian zahir tidak bermanfaat kecuali setelah disertakan bersama thaharah batin dengan ikhlas dan menjauhkan diri daripada sifat iri hati, menipu dan hasad dengki, juga menyucikan hati sanubari daripada makhluk yang lain selain Allah. MenyembahNya kerana ZatNya, bukan kerana sebab atau ‘illah, bergantung harap kepadaNya justeru Dia mengurniakan pemberian dengan menunaikan segala hajat yang kamu memang memerlukan sebagai kasih sayangNya kepadamu. Di saat itu kamu menjadi hamba yang unggul kepada Raja yang satu lagi tunggal. Tiada sesuatupun yang memiliki dirimu selain Allah dan di saat kamu berkhidmat kepada Tuhanmu hawa nafsu tidak memilikimu”

Kepentingan Tasawwuf dalam Memelihara Anggota Zahir

 

Antara proses untuk membersihkan hati ialah dengan memelihara anggota zahir daripada melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah S.W.T. Apabila diri seseorang sudah terpelihara daripada perbuatan-perbuatan yang dikeji maka sudah pasti hatinya akan menjadi bersih kerana hubungan rapat di antara anggota zahir dan batin itu yang saling berkait.

Maksud daripada ilmu Tasawwuf  itu membersihkan segala anggota yang zahir daripada segala perbuatan yang dikeji , supaya ada ia menyampaikan kepada membersihkan hati daripada segala sifat kecelaan, dan dikehendaki dengan segala anggota yang zahir itu tujuh anggota. Pertama mata, dan kedua telinga, dan ketiga lidah, dan keempat perut, dan kelima faraj, dan keenam dua tangan, dan ketujuh dua kaki.[16]

Ketahuilah bahawasanya apabila engkau melakukan sesuatu maksiat maka sebenarnya engkau melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badanmu yang merupakan nikmat Allah yang dianugerahkannya kepadamu dan menggunakan amanat yang diberikan kepadamu. Jadi ketika engkau menggunakan anggotamu untuk melakukan maksiat bermakna engkau menyalahgunakan nikmat yang dianugerahkan dan mengkhianat terhadap amanah yang diberikan. Dan anggotamu adalah rakyatmu maka hendaklah engkau berfikir baik-baik bagaimana sepatutnya engkau menjaganya. Sabda Rasulullah S.A.W.:

فَكُلُّكُم رَاعٍ، وَكُلُّكُم مَسْؤُولٌ عَن رَعِيَّتِهِ


“ Maka kamu semua adalah pengembala (pemimpin) dan kamu semua akan ditanyai tentang pengembalaannya (kepimpinannya)”[17]

Maka jagalah baik-baik seluruh anggotamu. Khususnya anggotamu yang tujuh kerana pintu neraka itu tujuh pula dan telah ditentukan setiap pintu itu untuk dimasuki oleh kumpulan yang telah melakukan perbuatan maksiat dengan salah satu di antara tujuh anggota badan, iaitu mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan dan kaki.[18]

 

Perkataan Ulama’ Yang Menunjuk Kepada Kepentingan Tasawwuf

 

            Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah membicarakan dalam kitabnya al-Munqiz Minadh Dhalal tentang ahli sufi, suluk serta jalan mereka yang benar yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala. Beliau berkata: “Sesungguhnya secara yakin aku mengetahui bahwa ahli sufi ialah mereka yang salik pada jalan Allah Ta’ala yang khusus. Perjalanan hidup mereka adalah sebaik-baik perjalanan dan jalan yang paling betul serta akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Setelah itu beliau menyebut sebagai menolak dakwaan orang yang ingkar kepada ahli sufi dan menyerang mereka: Secara amnya, apakah yang perlu disebut oleh mereka yang sering mempertikaikan terhadap thariqah atau jalan yang menjadikan thaharah sebagai syarat pertama untuk menyucikan hati secara total terhadap selain Allah. Pembukaannya adalah sama seperti apa yang berlaku pada takbiratul ihram di permulaan solat iaitu hati tenggelam secara keseluruhannya dengan mengingati Allah sementara penghujungnya pula adalah fana’ fillah secara keseluruhannya”.[19]

Pendapat Ibnu Khaldun Tasawwuf itu suatu ‘Ilmu dari Syariat Islam. Kata negarawan besar dan ahli sejarah ini di dalam muqaddimahnya, bahawa ‘imu Tasawwuf ini satu ‘ilmu daripada  Syariat-syariat Islam. Asalnya jalan yang ditempuh oleh salaf al-ummah, yang ditempuh sahabat-sahabat besar dan tabi’in juga yang ditempuh orang-orang yang kemudian mereka. Asal Tasawwuf itu berhadap untuk ber’ibadat dan memutuskan diri dari yang lain Allah dan bertekun menghadapnya sahaja, serta memalingkan diri dari dunia dan perhiasan-perhiasannya. Ditambah lagi dengan zuhud dalam hal-hal yang direbutkan orang ramai, iaitu kelazatan harta dan pangkat (pengaruh) yang besar, serta berseorang diri terlepas diri dari orang ramai dalam khulwah menyembah Allah S.W.T. Sifat-sifat ini adalah sifat-sifat ‘umum sahabat dan salaf. Salaf iaitu tiga tingkatan ummah. Pertama sahabat, kedua tabi’in dan ketiga tabi’ tabi’in. umat yang datang sesudah tabi’ tabi’in disebut khalaf. Kemudian tatkala pada ‘abad kedua hijriyyah dan masa-masa yang dibelakang itu, perhatian manusia kepada dunia sudah semakin hebat dan dahsyat, dan banyaklah manusia yang turut ambil bahagian merebut dunia ini. Maka ketika itu orang-orang yang tetap pada pendiriannya semula, hanya berharap kepada Allah, lalu disebut sufi.[20]

Kesimpulan   

Ihsan itu merupakan satu daripada salah satu rukun daripada rukun-rukun agama maka wajib atas setiap seseorang mencapai maqam Ihsan dengan mempelajari dan mengamalkan ‘Ilmu Tasawwuf.

Biliografi

Zakaria Stapa. 1995. Akhlak & Tasawuf Islam. Kuala Lumpur: Berita Publishing Sdn. Bhd. 1993.

Al-Maliki Mohammad Fuad Kamaluddin, Kepentingan Tariqah Dan Tasawwuf , Johor: Sekretariat

Menangani Isu-isu Akidah Dan Syariah Majlis Agama Islam Negeri Johor, Bil 7, April 2009.

Syeikh Abdul Qadir Isa, Haqai’q Tasawuf, c. 11. Syiria: Dar al-‘Irfan.

Prof. Madya Dr. Idris Abdullah dan Ideris bin Endot (2008), “Peranan Tariqah Tasawwuf Dalam Dakwah

dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan di Malaysia”, Penjanaan Tariqah Tasawwuf Dalam Pembangunan

Rohani Negara, c. 1. Negeri Sembilan: Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

Hussain bin Muhammad al-Haddad (2003), at-Tahzir min Khatr at-Tafkir, c. 3.  T.P., T.T.P.

Syeikh Ali Jumaah, Al-Bayan Al-Qawim li Tashih Ba’dhi Al- Mafahim, c. 1. Kaherah: Dar as-Sundus.

Haji Zainul ‘Arifin ‘Abbas (1994), ‘Ilmu Tasawwuf, c. 7.  Kelantan: Pustaka Aman Press Sdn. Bhd.

Syeikh Abdul Qadir al-Mandili, Penawar Bagi Hati , Fathani: Matba’ah Bin Halabi, h. 4.

Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, Bidayatul Hidayah. Ahmad Fahmi Zamzam (terj.), c. 4.

Kedah: Khazanah Banjariah, h. 113 – 114.






[1]  Lihat Sohih Muslim bi Syarh al-Nawawi Jilid: 1, hal. 131-133. hadith no: 8




[2]  Istilah tarekat itu boleh dirujukkan kepada cara, kaedah, atau peraturan-peraturan khusus yang diikuti

dan dihayati kehendak-kehendaknya oleh seorang murid di bawah naungan satu kumpulan kesufian

yang mengikuti panduan seseorang syeikh yang terkemuka. Lihat  Zakaria Stapa. 1995. Akhlak &

Tasawuf Islam. Kuala Lumpur: Berita Publishing Sdn. Bhd. 1993(i). “Kefahaman Tasawuf Di Kalangan

Muslim Kelantan”. Dalam Mohammed Yusoff Hussain etal (pyt.) Isu-isu Dalam Usuluddin dan Falsafah.

Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. 1993 (ii). “Beberapa Konsep Utama Dalam Tarekat

Tasawuf: Satu Analisis. Kertas Kerja Bengkel Peningkatan Kefahaman Akidah Islamiah, anjuran

Bahagian Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri, pada 5 – 7hb. Julai, 1993 di Langkawi. 1989.

“Tasawuf dan Tariqat: Satu pendekatan pengenalan” Pengasuh. 500 (Sept. – Okt., 1989): 53-60.




[3]  Al-Maliki Mohammad Fuad Kamaluddin, Kepentingan Tariqah Dan Tasawwuf , Johor: Sekretariat

Menangani Isu-isu Akidah Dan Syariah Majlis Agama Islam Negeri Johor, Bil 7, April 2009, h. 17




[4]  Syeikh Abdul Qadir Isa (2011), Haqai’q Tasawuf, c. 11. Syiria: Dar al-‘Irfan, h. 480.




[5] Prof. Madya Dr. Idris Abdullah dan Ideris bin Endot (2008), “Peranan Tariqah Tasawwuf Dalam Dakwah

dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan di Malaysia”, Penjanaan Tariqah Tasawwuf Dalam Pembangunan

Rohani Negara, c. 1. Negeri Sembilan: Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan, h. 63.




[6] Hussain bin Muhammad al-Haddad (2003), at-Tahzir min Khatr at-Tafkir, c. 3.  T.P., T.T.P, hal. 134 –

135.




[7]Syeikh Abdul Qadir Isa (2011), Haqai’q Tasawuf, c. 11. Syiria: Dar al-‘Irfan, h. 28.




[8] Syeikh Ali Jumaah, Al-Byan Al-Qawim li Tashih Ba’dhi Al- Mafahim, c. 1. Kaherah: Dar as-Sundus,

h. 87.




[9] Haji Zainul ‘Arifin ‘Abbas (1994), ‘Ilmu Tasawwuf, c. 7.  Kelantan: Pustaka Aman Press Sdn. Bhd.,

h. 34.




[10] Surah al-Kahf: 110.




[11] Surah Asy-Syu’araa’: 88-89.




[12] Riwayat al-Bukhari




[13] Riwayat Muslim




[14] Syeikh Abdul Qadir Isa (2011), op.cit., h. 29 - 32.




[15] Surah Al-A’raaf: 33.




[16] Syeikh Abdul Qadir al-Mandili, Penawar Bagi Hati , Fathani: Matba’ah Bin Halabi, h. 4.




[17] Riwayat Bukhari dan Muslim




[18] Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, Bidayatul Hidayah. Ahmad Fahmi Zamzam (terj.), c. 4. Kedah: Khazanah Banjariah, h. 113 – 114.




[19] Syeikh Abdul Qadir Isa, op.cit., h. 464.




[20] Haji Zainul ‘Arifin ‘Abbas (1994), ‘Ilmu Tasawwuf, c. 7.  Kelantan: Pustaka Aman Press Sdn. Bhd., h. 76 –  77.

Friday, 16 March 2012

Bibliografi Syeikh Soleh Al-Ja’fari Al-Husaini R.A

Pendahuluan

Nama beliau ialah Soleh bin Muhammad bin Soleh bin Muhammad bin Rifai’e yang bersambung keturunannya dengan Saiyidina Jaafar As-Sodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Saidina Ali bin Abi Talib suami Saidatina Fatimah Az-Zahra’ binti Rasulullah s.a.w. Kelebihan Syeikh Soleh di sini ialah beliau berasal dari keturunan Saidina Husain manakala sanad tariqatnya dari Saidina Hasan, Masya Allah! Nur ‘ala nur!

 

Bondanya

Syeikh Soleh Jaafari Selama lapan tahun ayah dan bonda Syeikh Soleh berkahwin namun masih belum dikurniakan cahaya mata. Keluarga bapanya bercadang untuk mengahwinkan ayahanda Syeikh Soleh dengan wanita lain kerana mengandaikan pasangan tersebut tiada rezeki. Dengan perasaan agak dukacita, bonda Syeikh Soleh pergi menziarahi makam Sayyid ‘Abdul ‘Ali bin Ahmad bin Idris (anak kepada Sayyid Ahmad bin Idris,wali qutub dunia, pengasas Tariqat Ahmadiyah Idrisiyah) lalu beliau berdoa dan bernazar, “Jika Allah mengurniakan aku seorang anak pada tahun ini,akan aku berpuasa dan akan aku hadiahkan pahala puasaku kepadamu (wahai Sayyid Abdul Ali) dan akan aku sedekahkan wang pada hari maulidmu kepada orang fakir”. Hajat bondanya tadi dimakbulkan Allah iaitu pada hari Khamis bersamaan 10 Jamadil Akhir tahun 1328 Hijrah, lahirlah bayi lelaki yang diberi nama Soleh di sebuah desa di wilayah Dunqula,Sudan. Keluarganya berasal dari Mesir tetapi berhijrah dan menetap di Sudan.

 

Datuknya, Syeikh Soleh bin Muhammad

Datuknya, (juga bernama Soleh), Syeikh Soleh bin Muhammad adalah dari kalangan ulama’ Al-Azhar dan menubuhkan kumpulan hafiz Al-Quran dan pengajian di salah sebuah masjid di Dunqula. Perjalanan hidup datuknya ini membawa kesan yang amat mendalam kepada kehidupan Syeikh Soleh dan mewarisi sikap sukakan ilmu,beribadat dan meninggalkan perhiasan dunia yang sementara ini. Beliau banyak belajar ilmu tajwid dan menghafaz Al-Quran dari datuknya dan guru-guru di sekitar Dunqula. Dalam satu syairnya, beliau melahirkan rasa kasih dengan memuji datuknya serta melahirkan syukur kepada Allah kerana datuknya menamakan “Soleh” iaitu nama datuknya sendiri. Beliau juga mendoakan kesejahteraan datuknya yang banyak mencurahkan bakti kepada masyarakat dengan mengajar masyarakat mengenali Al-Quran.

 

Ayahnya, Muhammad bin Soleh Ayahnya,

Syeikh Muhammad pula seorang peladang yang bekerja menguruskan ladang di siangnya manakala bangun malam dan beribadat hingga hampir waktu subuh. Beliau pergi ke masjid lebih awal dan membuka pintu masjid,menghidupkan lampu-lampu dan mengimami solat jemaah.Setelah itu,beliau pulang ke rumah untuk mengejutkan keluarga sebelum terbit matahari dan bersiap ke kebun selepas menikmati sedikit juadah sarapan yang disediakan isterinya. Begitulah rutin harian Syeikh Muhammad.

 

Keturunan Rasulullah

Syeikh Soleh Jaafari telah dikurniakan oleh Allah zuriat dan nasab yang paling mulia iaitu dari Rasulullah s.a.w. Pada permulaannya beliau tidak mengetahui dengan jelas tentang keturunannya ini hinggalah beliau menemui kertas-kertas yang menunjukkan keturunan bapanya dari Saidina Jaafar As-Sodiq. Ia dikuatkan lagi dengan mimpi beliau bersama Rasulullah. Ceritanya dalam sebuah kitab beliau, “Mimpi pertamaku ialah aku melihat Sayidah Zainab binti Saidina Ali. Ketika itu beliau berada di belakang tabir lalu beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana keadaanmu dan keluarga Jaafari?” Satu ketika lain, beliau bermimpi melihat Rasulullah s.a.w bersama empat khalifah Ar-Rasyidin yang lain. Cerita Syeikh Soleh lagi: “Aku bersalam dengan Saidina Ali lalu dia memegang tanganku dan aku berkata kepadanya “Aku adalah dari zuriatmu dan bersambung keturunan dengan Jaafar As-Sodiq. Lantas Nabi s.a.w ketika itu menganggukkan kepala sebagai isyarat membenarkan kalimahku. Apabila terjaga dari tidur aku merasakan mimpi aku ini lebih aku sukai dari dunia dan seisinya”. Nisbah “Al-Jaafari” kepada Syeikh Soleh diberikan sendiri oleh Saidina Husain ibn Saidina ‘Ali melalui mimpi yang beliau ceritakan sendiri dalam kitabnya. Kata Syeikh Soleh: “Sebelum pemergian aku menunaikan fardu haji pada tahun 1393H, aku bermimpi dengan Saidina Husain di makamnya, setelah memberikan salam, aku bertanya, “Siapakah diriku ini?” Jawab Saidina Husain, “Jaafari.” Kata Syeikh Soleh lagi, “Kalau begitu, aku ini dari zuriatmu.” Saidina Husain berkata dengan nada suara yang tinggi, “Sam, Ham dan Yafis adalah zuriat Nuh (a.s), aku mengenali mereka dan dia (Nuh) mengenali mereka.” Kata Syeikh Soleh iaitu tentunya Saidina Husain mengenali zuriatnya.

 

Alam Remaja dan Perkahwinan Sejak kecil,

beliau mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya dan datuknya yang amat kuat berpegang pada agama. Pada usia 14 tahun,beliau telahpun menghafaz Al-Quran di masjid Dunqula yang padanya terdapat makam Sayyid ‘Abdul Ali bin Ahmad bin Idris. Syeikh Soleh sering menziarahi makam Syeikh Abdul ‘Ali bin Ahmad bin Idris di masjid Dunqula.Beliau telah mengambil tariqat Ahmadiyah Idrisiyah pada usia 19 tahun daripada guru murabbinya, Sayyid Muhammad As-Syarif bin Sayyid Abdul Ali bin Ahmad bin Idris (cucu kepada Maulana Sayyid Ahmad bin Idris). Syeikh Soleh telah mendirikan rumah tangga setelah usia beliau melewati 14 tahun. Ketika berusia 20 tahun, beliau dikurniakan seorang puteri bernama Fathiyah dan putera bernama Abdul Ghani. Syeikh Soleh kemudian telah mengembara menuntut ilmu hingga ke Universiti Al-Azhar. Kedua-dua cahaya matanya dipelihara oleh datuk dan nenda mereka di Dunqula.

 

Pengajian di Al-Azhar

Syeikh Soleh telah menuntut dari ramai para syeikh ketika tempoh pengajian di Al-Azhar. Antaranya Syeikh Muhammad Ibrahim As-Samaluti. Setelah beberapa bulan mengaji, Syeikh Soleh merasa amat kecewa dan dukacita dengan pergaulan antara lelaki dan perempuan yang berleluasa dan suasana hidup bandar yang amat berbeza dengan kehidupannya di kampung. Lalu terdetik dihatinya untuk pulang ke kampung sahaja bagi mengelak maksiat di depan mata. Pada satu hari, Syeikh Muhammad Ibrahim As-Samaluti telah membincangkan masalah ini dengan Syeikh Soleh sambil berkata: “Jangan kamu sangka para wali itu hidup dalam khalwat (lari dari masyarakat) sahaja. Tapi wali yang sebenar ialah mereka yang hidup ‘dalam kala jengking tapi ia tidak mampu menyengat kamu’. Duduklah di sini (bandar) dan bermujahadahlah”.

 

Kesusahan

Syeikh Soleh Jaafari juga banyak melalui kesusahan sepanjang tempoh pengajiannya di Al-Azhar. Beliau hidup berbekalkan duit perbelanjaan yang dikirim oleh ayahnya sebanyak 10 pound (junaih) sebulan. Beliau pernah tidak makan beberapa hari kerana kehabisan wang. Syeikh bercerita: “Acapkali aku tidur dalam keadaan lapar bahkan pernah 4 hari aku tidak makan apa-apa. Hingga satu malam,kerana terlalu lapar beliau menangis lalu terlelap. Dalam mimpinya,beliau bermimpi menemui Sayyid Ahmad Badawi (seorang wali Qutub, keturunan Rasulullah yang makamnya berada di Tanta) dalam keadaan mukanya tertutup kemudiannya dia membuka wajahnya dan aku dapati wajahnya berseri-seri seperti bulan purnama. Lalu dia bertanya “Hai Soleh, kenapa kau menangis?”. Aku jawab “Kerana terlalu lapar”. Lalu Sayyid Ahmad Badawi berdoa, “Semoga Allah luaskan rezeki untuk kamu tapi pesanku jangan kamu lupa nasib saudara-saudara mu yang lain”.

 

Gurunya

Antara guru Syeikh Soleh ialah: Syeikh Muhammad Bakhit Al-Mut’ie (usianya mencecah 103 tahun) Syeikh Habibullah As-Syanqiti Syeikh ‘Allamah Yusof Ad-Dijwi (‘alim tafsir dan hadith,merupakan anggota Jemaah Ulama’ Al-Azhar) Syeikh Ali As-Syaib Syeikh Hasan Madzkur Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf Al-’Adawi (bekas Mufti Mesir) Syeikh Muhammad Al-Halab Syeikh Abdul Khaliq As-Syubrawi Sayyid Ahmad As-Syarif Al-Ghumari (ulama’ Maghribi)

 

Tamat Pengajian

Setelah menimba ilmu di Al-Azhar hingga mendapat sijil “Alamiyah Al-’Aliyah” yang setaraf dengan Phd. zaman ini,beliau pulang ke kampungnya di Dunqula. Keluarganya amat bergembira dengan kepulangan Syeikh Soleh. Beliau tinggal bersama keluarganya selama 3 bulan hingga satu malam beliau bermimpi Sayyidah Sukainah dan Zainab (kedua-duanya Ahli Bait Rasulullah). Mereka berdua berkata, “Sesungguhnya Soleh telah meninggalkan kami dan sibuk dengan isteri dan anak-anaknya di kampung.” Apabila terjaga dari tidur, Syeikh Soleh terus bergegas ke Kaherah.

 

Imam Masjid Al-Azhar

Syeikh Soleh telah dilantik sebagai Imam dan Khatib di Masjid Al-Azhar. Sepanjang bertugas sebagai imam, beliau telah banyak mewakafkan diri dalam bidang dakwah dengan menyampaikan ilmunya kepada masyarakat. Beliau juga masyhur dengan ‘syeikh pengajian Jumaat’ kerana selepas solat Jumaat beliau akan mengadakan pengajian tafsir dan hadith di Masjid Al-Azhar bermula lepas solat Jumaat hingga masuk waktu Asar. Semasa bertugas sebagai imam, beliau menghantar wang sebanyak 50 sen kepada bondanya di kampung hasil pendapatannya sebanyak 3.75 sen sebulan (kadar gaji ketika tahun 40-an).

 

Sanad Tariqat

Tariqat ialah jalan bagi mendekatkan diri seorang hamba dengan Allah melalui jalan yang jelas iaitu berguru. Syarat utama sebelum seseorang mengangkat janji (bai’ah) dengan syeikhnya ialah ikhlas,melazimi wirid dan bermujahadah. Seseorang yang merasakan dirinya lemah pasti memerlukan bimbingan dalam hidupnya. Sebagai contoh seseorang yang rasa dirinya tidak mahir komputer, pasti dia akan mencari seorang yang pakar dalam bidang tersebut mengajar hingga dia mahir dalam bidang tersebut. Begitu juga bab kerohanian dan hati. Syeikh memimpin tariqat dipanggil “syeikh murabbi” manakala yang dipimpin dipanggil “murid”. Sebaik-baik syeikh yang bergelar murabbi ialah yang mengikuti Rasulullah s.a.w sama ada cara berpakaian, bercakap, makan, minum. Semuanya mengikuti Rasulullah s.a.w kerana syeikh itu sebagai pembimbing. Tentunya ramai anak muridnya memerhatikan pergerakan syeikh. Syeikh Soleh telah membai’ah dengan gurunya di Sudan iaitu Syeikh Sayyidi ‘Abdul ‘Ali, Syeikh Soleh menyebut sanad tariqatnya: “Telah mengijazahkan kepada aku guruku yang juga murabbiku Sayyid Muhammad Abdul ‘Ali dari ayahnya Sayyidi Abdul ‘Ali dari gurunya ‘Allamah Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi dari gurunya Sayyid Ahmad bin Idris.”

 

Pengasas Tariqat Jaafariyyah

Diceritakan sewaktu Syeikh Abdul Ghani berada di Sudan, beliau menulis surat kepada Syeikh Soleh,ayahnya. Beliau menulis : “Bismillahirrahmanirrahim..Kepada Syeikh Soleh Jaafari, syeikh bagi Tariqat Jaafariyah….” Beliau mengirim surat itu kepada salah seorang kawannya yang ingin bermusafir ke Kaherah. Kata Syeikh Abdul Ghani, “Bila Syeikh Soleh baca suratku ini, kau perhatikan wajahnya.” Bila Syeikh Soleh baca surat dari anaknya Syeikh Abdul Ghani menyatakan dia sebagai “SYEIKH TARIQAT JAAFARIYAH” Syeikh Soleh tersenyum. Lelaki tadi yang melihat Syeikh Soleh tersenyum, memberitahu Syeikh Abdul Ghani bahawa ayahnya tersenyum bila membaca surat itu. Tahulah Syeikh Abdul Ghani bahawa ayahnya meredainya. Selepas kewafatan Syeikh Soleh, seorang anak muridnya menemui surat wasiat Syeikh Soleh yang mengizinkan tariqatnya diberi nama Tariqat Jaafariyah Al-Ahmadiyah Al-Muhammadiyah. Al-Jaafariyah (dinisbahkan kepada beliau), Al-Ahmadiyah (nisbah kepada Sayyidi Ahmad Idris) manakala Muhammadiyah (nisbah kepada Nabi Muhammad s.a.w). Asas kepada tariqat ini ialah Al-Quran,hadith dan memuji nabi (madaih nabawi). Sebenarnya Tariqat Jaafariyah yang dibawa oleh Syeikh Soleh lahir, membesar dan dewasa dalam Masjid Al-Azhar.

 

Hubungan Akrab Dengan Al-Azhar

Hubungan beliau dengan Al-Azhar amatlah kuat dan dapat dilihat sewaktu hayatnya. Syeikh Soleh tidak keluar dari Masjid Al-Azhar selama lebih 50 tahun kecuali bagi menunaikan haji serta menziarahi ahli Bait Rasulullah s.a.w. Menurut cerita, tempat beliau berkhalwat di Masjid Al-Azhar ketika itu, pernah menjadi tempat khalwat bagi Sayyidi Ahmad Zaruq, seorang ahli sufi masyhur. Selepas kewafatan beliau, bilik tersebut dikunci dan tidak digunakan hingga apabila kedatangan Syeikh Soleh ke Al-Azhar 500 tahun kemudian. Ketinggian ilmu dan amal yang ada pada Syeikh Soleh Jaafari tiada siapa mampu pertikai lagi. Kebanyakan ulamak Al-Azhar mengiktiraf kealiman Syeikh Soleh termasuk Dr. Abdul Halim Mahmud, Syeikh Al-Azhar ketika itu.

 

Dr.Abdul Halim Mahmud

seorang ahli tasawuf yang ‘alim,tawaduk dan zuhud yang bertariqat Syazuliyyah. Dr. Abdul Halim Mahmud telah menggelarkan Syeikh Soleh dengan “Kiblat Ilmu” kerana ketinggian ilmu Syeikh Soleh dan sebagai balasannya Syeikh Soleh menggelarkan Al-Azhar di bawah pentadbiran Dr.Abdul Halim ketika itu sebagai “Kaabah Ilmu”. Pesan beliau, “Al-Quran dan Hadis adalah dua mukjizat agung. Menjadi kewajipan Al-Azhar memelihara mukjizat tersebut”. Kata Syeikh Soleh: “Al-Azhar diambil nama dari anakanda tersayang Rasulullah s.a.w iaitu Fatimah Az-Zahra’. Yang memelihara Al-Azhar iaitu Rasulullah s.a.w sendiri.”

 

Kitab Susunan dan Tulisannya

Sejarah Diwan Jaafari :

Syeikh Soleh telah mengarang qasidah hingga dibukukan menjadi 12 jilid. Salah seorang anak murid beliau, Haji Abdul Rauf memberitahu, selepas kewafatan Syeikh Soleh, salah seorang anak murid Syeikh Soleh bermimpi bertemu Syeikh Soleh, lalu syeikh berkata kepadanya “Buka peti ini!” sambil mengisyaratkan jari telunjuknya kepada satu peti. Keesokannya, anak muridnya memberitahu Syeikh Abdul Ghani keadaan mimpinya, lalu setelah dibuka peti tadi didapati terdapat helaian kertas yang tertulis syair dan qasidah yang ditulis syeikh sewaktu hayatnya. Syeikh Abdul Ghani memerintahkan supaya dibuku dan dicetak semua helaian syairnya. Hingga kini, qasidah karangan Syeikh Soleh masih dibaca setiap kali diadakan hadrah.

Pembukuan ‘Durus Jumaah’

Di Maktabah Jawami’ul Kalim juga terdapat 10 jilid buku pengajian Syeikh Soleh sewaktu menyampaikan pengajian di Masjid Al-Azhar setiap Jumaat. Penulisan pengajian tersebut ditulis oleh anak murid beliau dan dibukukan hari ini.

Selain itu, antara kitab Syeikh Soleh yang lain antaranya:

Risalah Fil-Haj (menerangkan tentang Haji dan Umrah) Fataha Wa Faidha Wa Fadhlum mina Allah fi Syarhi Kalimah Lailahaillah Muhammadur Rasulullah Syarah Matan Al-Ajrumiah (Nahu)

 

Keramat

Keramat paling besar kepada Syeikh Soleh ialah anak-anak muridnya yang kini berada di serata Mesir bahkan dunia. Tariqatnya juga kini tersebar luas di seluruh dunia terutama di Mesir hingga masjid serta markaznya terdapat di mana-mana. Paling menarik, setiap masjid dan markaznya akan dipelbagaikan aktiviti. Masjid tidak sebagai tempat solat sahaja. Bahkan masjidnya juga terdapat hospital, kelas tahfiz, maktabah, tempat penginapan dan muassasah bagi jemaah haji. Satu masa,diceritakan daripada seorang ulama’ Al-Azhar bernama Syeikh Tahir Al-Kharashi bahawa gurunya pergi menunaikan haji tahun 1954.Ketika beliau menziarahi makam Rasulullah di Madinah,beliau bersandar di salah satu tiang dalam masjid Nabawi lalu terlena. Dalam tidur itu beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah lalu Baginda bersabda “Apabila kamu ke Mesir nanti, sampaikan salamku kepada Soleh Jaafari”. Pada masa itu, guru Syeikh Tahir itu tidak mengenali lagi siapa dia Syeikh Soleh Jaafari. Setibanya di bumi Mesir,guru Syeikh Tahir itu mencari di mana Syeikh Soleh lalu ditemui dan beliau menceritakan kepada Syeikh Soleh apa yang dimimpinya.Syeikh Soleh pun menangis apabila mendengar Rasulullah memberi salam kepadanya.

Satu ketika sewaktu menyampaikan pengajian Jumaatnya, seorang lelaki bertanya kepada Syeikh Soleh, “Wahai syeikh! Bolehkah Nabi Khaidir (a.s) menyerupai sifat seorang lelaki atau ia bersifat dengan sifat-sifat tertentu?” Belum sempat syeikh menjawab, datang seorang lelaki. Nampak padanya seorang yang mempunyai hajat maka syeikh mendahulukannya. Setelah lelaki tadi beredar, syeikh berpaling kepada orang yang bertanya soalan tadi lalu bertanya, “Apakah yang kamu tanya tadi?” Lalu lelaki tadi mengulangi soalan dan jawab syeikh, “Lelaki yang bertanya aku selepas kau tadi itu ialah Nabi Khaidir (a.s).” Terkejut dengan jawapan syeikh, lelaki tadi mencari-cari kiri dan kanan akan tapi tidak menemuinya!

Syeikh Nabil pernah menceritakan salah seorang anak murid Syeikh Soleh berhadas besar tapi terlupa untuk mandi wajib. Kisah ini berlaku selepas kewafatan Syeikh Soleh. Malamnya lelaki tadi bermimpi bertemu Syeikh Soleh memegang satu timba air. Lalu Syeikh Soleh menjiruskan air tadi kepada lelaki tadi. Bila tersedar dari mimpi tahulah bahawa dia belum mengangkat hadas besarnya.

Dr.Atiyah, imam Masjid Syeikh Soleh Jaafari di Darrasah pernah menceritakan bahawa Syeikh Soleh Jaafari bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w. Di sebelah kanan Baginda s.a.w ialah Saidina Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat yang lain (r.anhum). Di sebelah kiri Baginda s.a.w pula terdapat seorang yang beliau tidak kenali. Syeikh Soleh bersalam dan mencium tangan Rasulullah s.a.w dan kesemua sahabat di sebelah kanan Baginda tapi tidak bersalam dengan lelaki di sebelah kiri itu kerana tidak dikenalinya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda, “Wahai Soleh! Kamu tidak mengenali lelaki ini?” Jawab Syeikh Soleh “Tidak,” “Inilah dia Busairi (Imam Busairi),” Ini bagi menunjukkan kelebihan mereka yang suka memuji Rasulullah s.a.w sesungguhnya fadhilatnya amatlah besar di sisi Allah dan Rasulullah s.a.w.

Syeikh Soleh dikurniakan menunaikan fardhu haji serta menziarahi datuknya, Rasulullah s.a.w di Madinah sebanyak 27 kali sewaktu hayatnya.

 

Keramatnya Dengan Saidina Husain ibn Saidina ‘Ali

Hubungan rohani beliau dengan datuknya Saidina Husain amatlah kuat. Beliau pernah menyebut, “Jika tidak kerana adanya Saidina Husain, aku tidak akan menetap di Mesir walau sedetik waktu.”

Seorang anak murid Syeikh Soleh bernama Haji ‘Aid telah berkahwin beberapa tahun tapi belum dikurniakan zuriat, beliau bertemu Syeikh Soleh menyatakan hasratnya untuk menimang cahaya mata. Syeikh Soleh berkata, “Sekarang kau pergi kepada Saidina Husain, cakap kepadanya seperti apa yang kamu beritahu aku tadi.” Lalu beliau pergi di sisi makam Saidina Husain dan menyebut seperti yang diberitahu kepada Syeikh Soleh tadi. Alhamdulillah, tidak berapa lama Allah kurniakan kepada zuriat. Satu kisah, setelah sempurna Syeikh Soleh mengarang sebuah burdah, akan tetapi burdah tersebut hanya memuji Saidina Husain sahaja. Maka datang Saidina Husain dalam mimpinya dalam keadaan yang marah lalu berkata, “Kamu memuji aku dan meninggalkan abangku, Hasan?” Lalu Syeikh Soleh menyambung lagi burdahnya memuji kedua-dua cucu Rasulullah s.a.w. dan menamakan burdah itu “Burdah Al-Hasaniyah Wal Husainiyyah” (burdah yang dinisbah kepada Hasan dan Husain.)

Terdapat risalah yang diedar di Aswan bertajuk “Keramat Syeikh Soleh Jaafari Dengan Saidina Husain bin Saidina ‘Ali”. Risalah ini memuatkan terdapat 65 kisah keramat Syeikh Soleh dengan datuknya itu iaitu Saidina Husain.

Syeikh Soleh menceritakan lagi, satu hari beliau bersarapan bersama anak-anak muridnya yang membawa ikan perkasam dan bawang. Selepas bersarapan, Syeikh Soleh pergi menziarahi Saidina Husain dan duduk di barisan pertama di hadapan makam. Tidak lama kemudian beliau terlelap. Dalam mimpi itu, datang Rasulullah s.a.w kepadanya dan berkata, “Kamu makan seperti ini (iaitu bawang dan ikan perkasam) dan kamu datang kepada Husain?” Sejak itu, beliau tidak lagi makan bawang dan ikan perkasam. Jika makan pun, beliau tidak akan terus menziarahi Saidina Husain. Kata Syeikh Soleh, “Itulah tarbiyah Nabi Muhammad s.a.w kepadaku.”

Syeikh Soleh pernah berkata, “Sesiapa (iaitu yang berada di Mesir) yang merindui Rasulullah s.a.w maka ziarahlah Saidina Husain, sesiapa yang rohnya merindui Sayyidah Fatimah Az-Zahra’ binti Rasulullah, maka ziarahlah Sayyidah Zainab.”

 

Kewafatan

Setelah sekian lama berkhidmat dan mencurahkan ilmu di jalan Allah, Syeikh Soleh telah dijemput mengadap Allah pada petang Isnin, 18 Jamadil Awal tahun 1399 hijrah (sekitar tahun 1979 masihi) ketika berusia 71 tahun. Jasad beliau telah dikebumikan di masjid yang dibina sebelum kewafatannya di Hayyul Khailidin, Darrasah, Kaherah. Jenazah beliau dise mbahyangkan di Masjid Al-Azhar. Antara anak murid beliau ialah Al-Marhum Sayyid Muhammad ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani, seorang ‘alim dari Mekah yang berketurunan Rasulullah dari cucu Baginda Saidina Hasan bin Imam Ali. Semoga Allah meredhai Syeikh Soleh Jaafari dengan keredhaan dan kerahmatan-Nya serta membalas segala kerja baik beliau dengan sebaik-baik balasan.

 

Tariqat Jaafariyah Pasca- Syeikh Soleh

Menurut cerita dari Haji Abu Bakar, seorang anak murid beliau, pada permulaan pengajian di Masjid Al-Azhar, Syeikh Soleh tidak akan mengijazahkan tariqatnya kepada seseorang yang masih belajar, jika sudah tamat pengajian, tidak akan diberikan tariqat kecuali setelah berkahwin. Namun syarat ini tidak lagi digunapakai di akhir hayatnya hingga kini. Tariqat ini terus berkembang di bawah pentadbiran putera serta pewaris Syeikh Soleh, Syeikh Abdul Ghani. Beliau menggunakan gelaran “Syeikh Umum Tariqat”. Seorang anak murid Syeikh Soleh memberitahu, Syeikh Abdul Ghani dipilih atas arahan dari Rasulullah s.a.w kepada Syeikh Soleh. Lalu, di akhir hayat Syeikh Soleh, Syeikh Abdul Ghani telah diangkat sebagai bakal pengganti Syeikh Soleh yang berlangsung di tanah suci Mekah. (Berdasarkan qasidah karangan Syeikh Abdul Ghani).

Syeikh Abdul Ghani banyak menghabiskan masa bersama datuk dan keluarganya di Sudan. Ini kerana Syeikh Soleh meninggalkan Syeikh Abdul Ghani bersama keluarganya ketika beliau berhijrah ke Mesir untuk bertugas sebagai tenaga pengajar di Al-Azhar. Ketika berusia 10 tahun, Syeikh Abdul Ghani mengambil tariqat dari ayahnya, Syeikh Soleh. Seawal usia 14 tahun, Syeikh Abdul Ghani telah mengarang qasidah Hijrah yang masyhur yang dibaca hingga hari ini setiap kali menjelang sambutan Awal Hijrah.

Selepas wafat Syeikh Soleh tahun 1979, langkah pertama yang diambil Syeikh Abdul Ghani ialah mendaftarkan Tariqat Jaafariyah di bawah Majlis ‘Ala Sufi Mesir (Majlis Tertinggi Tariqat Kesufian Mesir). Di zaman Syeikh Abdul Ghani lah, berkembangnya tariqat ini terutama di Mesir. Boleh dikatakan setiap muhafazah terdapat markaz Tariqat Jaafariyah. Di muhafazah Aswan sahaja terdapat hampir 20 buah markaz selain di muhafazah lain seperti Iskandariah, Helwan, Bani Suwef, Asyut, Isna, Mahalah Kubro, Qalyubiyyah, Manufiyah, Luxor dan Qina. Di Kaherah, antara markaz tariqat Jaafariyah ialah di Al-Amiriyyah, Darul Salam, Jabal Asfar. Masjid di Darrasah, Kaherah sekarang ini pula beroperasi sebagai Markaz Induk bagi Tariqat Jaafariyah.

Kini, Syeikh Abdul Ghani dalam keadaan uzur dalam usianya mencecah lebih 70 tahun. Sebelum ini, beliau sering kelihatan solat jemaah di masjidnya di Darrasah. Sesiapa yang ingin bertemunya boleh bertemunya setiap kali solat lima waktu tanpa perlu membuat temujanji terlebih dahulu. Namun, sejak tahun lalu, doktor menasihati beliau tidak boleh banyak bergerak akibat sakit yang dialami. Beliau hanya keluar ketika majlis hadrah (hari Ahad dan Khamis selepas maghrib) dan solat Jumaat sahaja.

Tiga orang anak lelakinya banyak mengambil alih urusannya, iaitu anak sulungnya bernama Sayyidi Muhammad Soleh, kedua bernama Sayyidi Husain dan ketiga bernama Sayyidi Hasan. Sayyidi Muhammad dipilih sebagai Timbalan Ketua Umum tariqat (Naib ‘umum al-Tariqah) manakala Sayyidi Husain sebagai ketua pemuda (Raid syabab) Kelebihan tariqat ini juga berjaya melebarkan sayap kekuatan ekonominya. Penubuhan Maktabah Jawami’ul Kalim di Jalan Jaafari, Darrasah diilhamkan oleh Syeikh Abdul Ghani awal tahun 1980. Begitu juga kedai roti di sebelah masjid sekarang ini yang dimiliki oleh Sayyidi Husain.

 

Sambutan Maulid Syeikh Soleh Jaafari

Hingga kini, Tariqat Jaafariyah telah berkembang dan mempunyai markaz di Libya, Sudan, Kuwait dan Malaysia. Bahkan terbaru ramai di kalangan warga Nigeria, Jordan dan Thailand mengambil tariqat dari Syeikh Abdul Ghani.

Sambutan maulid Syeikh Soleh terbahagi dua peringkat iaitu

pertama: Peringkat markaz masing-masing.

Peringkat Umum (dunia).

Setiap tahun akan diadakan majlis maulid di markaz masing-masing. Ia menjadi aktiviti tahunan dalam kalendar markaz masing-masing. Ini termasuk di muhafazah Aswan, yang akan diadakan pada musim cuti fasa 1. Sambutan maulid bagi peringkat markaz Aswan diadakan selama lima hari. Ia biasanya bermula Hari Ahad dan berakhir pada Hari Khamis. Pada malam penutup (Khamis), ia akan berlangsung di markaz besar Tariqat Jaafariyah bagi Aswan iaitu Hayyul ‘Aqad, Bandar Aswan.

Satu lagi sambutan maulid Syeikh Soleh peringkat seluruh dunia. Ia hanya diadakan sekali setahun iaitu minggu pertama dalam bulan Rejab setiap tahun bertempat di markaz induk tariqat di Darrasah. Sambutan juga selama 5 hari bermula hari Ahad dan berakhir Khamis bulan Rejab.

 

Aktiviti Tariqat Jaafariyah

Maktabah Turath Al-Jaafari- Menjual kaset,CD dan gambar sewaktu hayat Syeikh Soleh Jaafari. Terdapat sewaktu hadrah Ahad dan Khamis serta lepas solat Jumaat di Masjid Syeikh Soleh.

Maktabah Jawami’ul Kalim- Mencetak dan mengedar kitab-kitab sufi termasuk karangan ulamak Saudi seperti Al-Marhum Sayyid Muhammad ‘Alawi.

Muassasah Haji- Mengurus dan menganjurkan untuk ibadat haji, umrah dan ziarah.

Menyertai perarakan (masirah) anjuran Majlis ‘Ala Sufi Mesir untuk sambutan Maulidur Rasul, Awal Hijrah dan awal Ramadhan. (Majlis ‘Ala Sufi menganjurkan masirah 3 kali setahun).

Menyertai sambutan Maulid Ahli Bait Rasulullah s.a.w di Mesir.

Menganjurkan ziarah makam para wali dan ahli Bait Rasulullah s.a.w sekitar Kaherah pada hari raya kedua bagi kedua-dua Hari Raya Islam. (Aidiladha dan Aidilfitri).

Menganjurkan sambutan Maulid Syeikh Soleh bagi peringkat markaz masing-masing setelah persetujuan Syeikh Abdul Ghani. Sambutan Maulid Syeikh Soleh peringkat umum di markaz induk di Darrasah pada minggu pertama dalam bulan Rejab setiap tahun. ***************************************

Sumber : http://abnajaafariyyah.blogspot.com

Sumber rujukan :

Kitab-kitab karangan Syeikh Soleh Jaafari

Qasidah karangan Syeikh Soleh dan Syeikh Abdul Ghani.

Risalah “Keramat Syeikh Soleh bersama Saidina Husain” oleh markaz Jabal Taquq, Aswan. Mengenali Para Wali Allah Di Mesir PMRAM. Dinukil dari anak-anak murid Syeikh Soleh yang masih hidup: Haji Faruq,Haji ‘Aid, Haji Abdul Rauf, Haji Abu Bakr, Haji Sayid Musa, Haji Abul ‘Ila’.

SUMBER:

http://baullakeh.com/tokoh/bibliografi-syeikh-soleh-al-jafari-al-husaini-r-a/